Jder ..!!
Jderrr ...!!
Suara petir bergemuruh dengan dahsyatnya untuk menggempur langit.
Di bawah langit yang sedang menggelap bak siap berperang, telah berdiri seorang gadis bergaun merah. Gadis yang memiliki rambut brunette bergelombang indah, itu pun tertepa angin malam dengan lembut. Seorang gadis bermata coklat yang senada dengan rambut alaminya. Sebuah perpaduan yang sempurna.
Namun ... kini kondisi gadis itu sama persis dengan kondisi alam yang sedang bergerumuh saat ini. Begitu gelap, dan suram.
Bahkan mata coklat indahnya itu hanya menatap kosong sebuah sungai Thames yang begitu tenang. Sebuah sungai besar yang ada di London dengan sebuah jembatan megah yang melintasinya—London Bridge.
'Maafkan saya, Nona, tetapi jika Anda tidak segera melunasi biaya rumah sakit nenek Anda, maka dengan terpaksa kami harus mengeluarkan nenek Anda dengan paksa dari rumah sakit ini!'
'Nona, adik Anda kini telah berada di sel penjara karena terlibat kasus kekerasan.'
'Plaakk ...!!'
'Dasar jalang! Kau hanyalah office girl di perusahaan ini, tetapi sudah berani menggoda suamiku? Dasar perumpuan murahan! Hanya karena ingin naik status sosialmu, kau dengan bangga melebarkan pahamu untuk para petinggi di perusahaan ini, termasuk suamiku?!'
'Kau aku pecat! Pergi dan jangan kembali lagi di perusahaan ini! Dasar jalang!'
'Bukankah dia mantan pelayan club malam?'
'Benarkah? Padahal dia terlihat lugu dan polos. Ternyata dia se-jalang itu.'
Semua rentetan masalah yang terjadi dalam satu waktu, itu pun teringat jelas di kepala gadis itu. Di mana hari ini ia telah dipecat dengan tidak hormat. Ia dipermalukan dan dituduh tidur dengan para boss perusahaan itu, terutama dengan direktur utama yang sudah berumur 60 tahun.
Setelah dipecat dan dipermalukan di seluruh hadapan karyawan kantor, ia masih begitu tegar. Meski ia juga langsung mendapatkan kabar tentang adiknya yang terkena masalah dan dituntun dengan uang puluhan ribu dollar.
Tetapi, saat ia mendapati neneknya yang mengalami kritis karena tidak kunjung mendapatkan perawatan. Bahkan terancam di keluarkan dari rumah sakit, karena ia belum juga membayar tagihan rumah sakit. Tepat pada saat itu, jiwanya runtuh.
Ia hanyalah gadis muda yang berumur dua puluh empat tahun!
Namun cobaan hidupnya begitu rumit. Semua tekanan hidup yang ada, selalu ia tahan dan kuat menghadapinya sedari kecil. Orang tua yang ia panggil ibu dan ayah hanyalah sebuah ilusi tak kasat mata, kerena ia tak pernah mengenal sosok itu.
Ia bertahan hidup demi nenek dan adiknya.
Tetapi ... sungguh kini ia sudah tidak tahan lagi!
Ia hanyalah gadis muda yang juga mempunya limit untuk terus berdiri seorang diri menghadapi hujaman petir yang menyakitkan dari Dewa langit.
Maka dari itulah, di sinilah ia sekarang.
Berdiri mengenakan dress merah dan bertelanjang kaki. Berdiri di tepi London Bridge yang megah itu, menatap sungai Thames yang sangat tenang. Seolah sedang mencoba untuk memanggilnya melompat dengan bebas.
Pandangan mata yang kosong dan penuh keputus asaan itu, benar-benar akan membutakan akal sehat seorang gadis muda itu. Gadis dengan kesempurnaan wajah yang hampir menyamai Dewi Aphrodite.
'Bisakah aku bernapas jika melompat ke arahmu? Aku ingin bernapas dengan lega dan keluar dari asa sakit yang bersarang puluhan tahun ini,' batinnya untuk sang sungai yang tenang.
Jdeerr ...!!!
Suara peti kembali menyambar, seolah memberikan jawaban kepada gadis yang putus asa itu.
Mendapati jawaban itu, ia tersenyum tipis. Tatapan masih saja kosong tak berjiwa.
"Jadi, kau sudah menemukan jawabannya?"
Tiba-tiba suara yang berat, suara bariton yang begitu dalam pun memutus fokus gadis itu terhadap sang sungai. Membuatnya menolehkan kepala untuk melihat siapa gerangan yang bersuara tadi.
Di detik itu juga, mata coklatnya pun bertemu dengan mata hazel yang menyala di gelapnya langit. Ia melihat sosok pria yang tinggi, gagah dengan bahu yang lebar, kaki yang jenjang, serta bentuk badan yang kokoh dan begitu tegap. Alis yang terukir tebal sempurna, mata tajam yang menyorot setiap objek, serta rahang yang begitu kuat.
Seorang laki-laki dewasa yang memiliki aura sangat gelap, misterius, serta kuat, bak seorang raja.
Ditambah petir yang terus bergemuruh, angin yang dengan nakalnya melesat di antara mereka, dan langit yang semakin menggelap pertanda akan turun ribuan air bukti kekuasaan sang langit.
Beberapa detik, mereka hanya saling bertatapan tanpa bibir yang terbuka. Kosong. Dan penuh siratan yang rumit.
Hingga bibir cerry milik wanita itu pun mulai terbuka. "Siapa Anda?"
"...." Hening.
"Laura Vasillieva," ucap pria itu.
"Apa kau sudah menentukan akan melompat atau tidak?" tanyanya setelah melirik sejenak ke arah air tenang milik sang sungai Thames.
Ya! Wanita yang sedang berada di ujung tanduk itu adalah Laura Vasillieva.
Bulu mata lentik Laura pun mengerjap-ngerjap dengan cepat. Ia tentu kaget dengan apa yang keluar dari mulut laki-laki asing itu?
Bagaimana bisa laki-laki itu tahu siapa namanya?!
"Bagaimana kau tahu namaku? Siapa kau?" cerca Laura penuh dengan selidik.
Laki-laki tetap tak bergeming. Ia hanya memandangi Laura dengan tatapan tajamnya dan berdiri tegap dengan kedua tangan yang bersembunyi di balik saku celana.
Tatapan yang begitu lekat dan sangat tajam. Mampu membuat Laura merinding dan merasakan kalau laki-laki ini bukanlah seorang laki-laki biasa. Auranya begitu ketara dan sangat besar.
"Ikutlah! Maka kau akan tahu siapa aku!" ucap laki-laki itu singkat.
Laura mengerutkan dahinya. Lalu ia melirik ke objek yang ada tak jauh dari laki-laki itu. Telah bertengger sebuah mobil mewah Rolls Royce Black Phantom yang gagah. Ada satu orang yang tak kalah dinginnya oleh laki-laki di depannya itu, sedang membukakan pintu mobil pertanda untuk Laura dipersilahkan masuk.
"Apa kau pikir aku akan masuk ke mobil orang yang tak aku kenal?" tanya Laura balik dengan nada yang tak suka.
"Well ... kalau begitu kau bisa masuk ke dalam sungai itu dan nenekmu itu akan mati saat ini juga!"
Laura membelalakkan matanya. "K-kau menagncamku?! Apa yang kau lakukan terhadap nenekku?!"
Laki-laki itu terkekeh lirih lalu kembali menatap tajam wanita di depannya itu. "Bukan aku yang membunuh nenekmu jika kau lompat ke sana," ucapnya sembari melirik sungai. "Melainkan kau sendiri, karena kau memilih mati daripada mencari cara untuk kesembuhan nenekmu."
Laura tercekat.
Ia pun mengginggit kecil bibir bawahnya, dan tanpa sadar juga mengepalkan kedua tangannya. Apa yang dikatakan oleh laki-laki asing ini, memang benar.
'Tetapi ... bagaimana aku bisa mendapatkan uang untuk penebusan pengobatan nenek dan penjaminan adikku?' batin Laura.
"Mudah," ucap laki-laki itu. "Dan aku tahu caranya."
Laura tersentak kaget. 'Apa dia bisa membaca pikiran?' Bisa-bisanya laki-laki itu menyahut apa yang ia batinkan dalam hati!
"Ba-bagaimana caranya?" tanya Laura lirih.
Laki-laki asing yang penuh aura kekuasaan itu, pun menarik tipis sebelah sudutnya. Tatapannya juga semakin tajam penuh makna.
"Jual tubuhmu padaku!" tegas laki-laki itu.
.
.
To be continued ....
.
.
Hallo ... Semoga suka yaa dengan ceritaku ini hihihi ....
Btw, ini adalah cerita dewasa yang mengambil tema seperti di Fifty Sahdes. Harap bijak dalam hal membaca ^^
