JoyNovel

Mari Baca dan Kenali Dunia Baru

Buka APP
Tak Butuh Gelar Managermu

Tak Butuh Gelar Managermu

Penulis:Lan Makalangan

Tamat

Pengantar
Farel sejak awal sudah sangat mencintai Citra, walupun mereka pada akhirnya harus putus nyambung untuk mempertahankan hubungan mereka, karena citra mencari laki-laki yang mampu membahagiakan hatinya. Farel pun mencari cara agar Citra tak pergi lagi darinya. Segala telah Farel lakukan, termasuk Farel berusaha mengejar jabatan manager di kantornya untuk membuktikan bahwa Farel laki-laki yang Citra butuhkan. Tapi, di lain sisi, di tempat kerja Citra, banyak laki-laki yang tergoda dengan Citra. Termasuk Bimo, laki-laki melankolis yang selalu memberi perhatian lebih untuk Citra. Bimo sudah lama memendam rasa pada Citra, walaupun Bimo tahu Citra sudah punya pacar. Di lain sisi, Farel pun terus berusaha mengejar jabatan managernya untuk membuktikan bahwa dia laki-laki yang istimewa. Di lain sisi pula, Bimo terus melakukan pendekatan pada Citra. Farel berhasil mendapatkan jabatan manager nya, dan Bimo perlahan berhasil mendapatkan hati Citra. Akankah Citra bertahan untuk Farel, atau justru malah beralih pada cinta Bimo yang hanya bawahan di tempat kerjanya.
Buka▼
Bab

"Sedang apa kamu disana?" tanya Wati, melihat Citra sedang duduk termenung, memegang soft drink kesukaannya, soft drink rasa stawberry campur vanila. Citra melirik Wati, yang sejak tadi Citra duduk di Cafe itu hanya untuk menunggunya datang.

"Enak aja lo, sedang apa, sedang apa?" hardik Citra pada Wati, karena Wati baru saja datang, padahal Citra sudah menunggunya hampir satu setengah jam. Citra hampir sudah menghabiskan dua gelas soft drink, hanya untuk menunggu sahabat karibnya itu datang.

"Ceileee ... gitu aja, ngambek lu!" Wati merubah posisi tas gendongnya dan duduk di depan Citra yang sudah berdiri dua buah gelas kosong, bekas minumannya. "Buseeettt ...! Lo haus apa haus, baru telat dikit aja gue, lo udah ngabisin banyak banget minuman!" ledek Wati pada Citra, melihat dua gelas soft drink yang berdiri di hadapannya.

"Enak aja loh, telat dikit! Telat segede gunung!" semprot Citra pada Wati, karena kesal, telah menunggunys lama sekali. "Kemana dulu sih, lo! Bukannya lu tadi ngikutin di belakang gue, ya?" Tatap Citra penasaran, karena dari kantor mereka hampir berbarengan. Namun, saat sampai di Cafe, Wati entah tahu pergi kemana dulu hingga Citra harus menunggu lama.

"Tadi ibu gue nyuruh gue beli Bakso Anto dulu. Eh, gue malah di suruh belinya langsung gak dinanti-nanti! Ya ... otomatis gue harus pulang dulu ke rumah, nganterin bakso dulu buat ibu gue.

Mana di rumah ada tentang gue lagi. Aduh ...!" Cita menapak dahi putihnya, bingung. "Gak ketulungan nyerocosnya! Semu ... a diomongin, dari mulai karir anaknya hingga nanyain gue udah punya pacar atau belum! Kan, puyeng dengernya!" jelas Wati pada Citra. Citra pun mengangguk-ngangguk dengan penjelasan Wati itu, karena jika sudah ada tantenya di rumah, Wati sudah pasti senewen.

"Sabar, Wati ...! Sabar ...! Mungkin Tuhan lagi nguji kesabaran lo, buat lo dapetin Reka, wkwk," Citra terkekeh, saat dia menyemangati Wati dan sedikit menyinggung nama Reka, karena selama Reka pindah ke kantor cabang di kotanya, sejak itu pula, Wati memendam rasa pada Reka.

"Wkwk ..., aamiin ...!" Wati pun terkekeh, mendengar penjelasan Citra itu, yang menurutnya sangat memberikan harapan dan semangat baru padanya, agar dia selaku berusaha untuk mendapatkan hati Raka.

"Mo pesen apa, lo?" Citra memberikan daftar menu di Cafe itu pada Wati. Wati membuka satu per satu daftar menu itu. Wati memperhatikan dari A sampe Z, tak ada satu pun menu kesukaan dia.

"Hmmm ..., gue creamy cincau aja, deh!" Tunjuk Wati pada salah satu menu yang tertera di daftar menu paling bawah itu.

"Eh lo tahu gak, Wat!" seru Citra pada Wati, membuka pembicaraan lagi setelah Wati memberikan daftar menu itu pada pelayan Cafe. Wati segera memalingkan wajahnya.

"Yup, kenapa?" Wati menohok, menatap wajah Citra lekat-lekat, karena ada sesuatu yang ingin dia katakan pada dirinya.

"Si Bimo ngajak gue makan lagi!" seru Citra, menatap Wati lekat-lekat, karena dia ingin melihat bagaimana reaksi dari Wati saat dia katakan bahwa Bimo, laki-laki yang melankolis itu, ingin ngajak Citra makan malam lagi.

"What? Serius, lo?" Wati tersentak, karena menurutnya, Citra sudah tersihir oleh sihir cinta milik Bimo. "Lu gak malu! Lu , kan SPV, masa mau jalan sama PIC, sih? Ah, lu malu-maluin aja deh!" gerutu Wati, menasehati Citra, karena bisa-bisanya Citra tergoda oleh laki-laki seperti Bimo.

"Serius ...!" Citra memoyongkan bibirnya, bahwa dia benar-benar serius dan tak ada satu persen pun dari kata-katanya barusan yang bercanda.

"Lu gak malu, jalan sama bawahan, lo?" Wati kembali bertanya, karena Citra belum sempat menjawab pertanyaannya.

"Ya, elah, Pok ..., yang namanya cinta mah gak pandang status!" jawab Citra terkekeh, melihat Wati yang masih terlihat aneh pada Citra, karena bisa-bisanya Citra tergoda pada laki-laki macam Bimo.

"Trus! Gimana Farel!" tanya Wati penasaran, karena saat ini Citra masih berstatus pacar Farel, teman masa SMA-nya dulu.

"Ya, gak gimana, gimana, wkwk," Citra kembali terkekeh, karena dia tak bisa menjawab pertanyaan Wati itu. Walau saat ini Citra masih berstatus pacar Farel, tapi apa salahnya Citra makan bersama dengan laki-laki lain.

"Ah gila luh! Kalo ketahuan Farel, mampus lu!" Wati membelalakan matanya, tak habis pikir dengan pola pikir Citra, masih berstatus pacar orang, malah mau ngajak laki-laki lain jalan-jalan.

"Wkwk," Citra kembali terkekeh, karena reaksi Wati itu sudah dia prediksi sebelumnya, Wati akan terkejut dengan kelakuannya.

"Emang istimewanya si Bimo apa, sih buat lu? Gue jadi bingung! Serius!" Tatap Wati pada Citra yang masih senyum-senyum sendiri menatap layar Hp-nya, membalas setiap pesan chat WA dari Bimo.

"Cit! Cit! Lu denger omongan gue gak, sih?" bentak Wati, kesal, karena Citra hanya senyum-senyum sendiri saja, menatap layar Hp-nya.

"Iya ...! Apa sih lu kaya orang lagi PMS aja!" lirik Citra, melihat Wati memoyongkan mulutnya.

"Tuh kan! Lu gak denger gue ngomong dech!" Wati nampak Bad mood, karena Citra tak memperhatikan pertanyaanya. Citra malah sibuk balas chat WA Bimo yang baru saja masuk ke dalam Hp-nya.

"Iya, iya ...! Wati cantik ...! Apa pertanyaan lo? Sini gue coba jawab!" Citra terkekeh, menjawab keluhan Wati, karena dia tidak fokus pada pertanyaan Wati.

"Gue nanya ..., apa sih istimewanya si Bimo buat lo? Secara, kan dia bawahan lo!" Wati kembali membawa-bawa masalah bawahan dan atasan, karena dia tidak mengerti pada teman satu SMP-nya itu, bisa-bisanya tergoda oleh laki-laki nakal seperti Bimo.

"Istimewanya ...." Citra mencoba berpikir, mengapa saat ini dia malah tergoda dengan Bimo, padahal dalam segi apa pun Farel lebih dari Bimo. "Hmm ... romantis, hee ...." Citra nyengir, menyeringai, menjawab pertanyaan Wati, yang pasti menurut Wati, jawabannya itu pasti amat konyol.

"What? Romantis?" Wati membelalakan matanya, tak percaya dengan semua jawaban Citra, bahwa Citra tergoda oleh Bimo karena Bimo laki-laki yang romantis.

"Hee ...!" Citra menyeringai, menatap Wati yang nampak terkejut mendengar pengakuannya.

"Dia, kan nakal, Cit ...!" Wati menekankan kalimatnya, menasehati, bahwa Bimo laki-laki nakal. "Gebetannya banyak!" lanjut Wati, memperjelas ucapannya, agar Citra tahu Bimo yang sebenarnya.

"Wkwk, kok gue lebih suka fuck boy, ya, daripada calm boy, haa ...!" Cita tertawa bahagia, hingga gigi putihnya mulai terlihat.

"O, M, G ...!" Wati menekan dahinya, karena dia tak menyangka dengan pola pikir Citra yang menurutnya tidak masuk akal.

"Lu liat, deh!" Citra menunjukan bukti cathingan-nya dengan Bimo.

[Mmmuah ...!], Chat WA Bimo untuk Citra.

"O, M, G! Apa lu gak salah?" Wati membelalakan matanya, karena ternyata hubungan Citra dengan Bimo sudah sejauh itu. "Ah, gila, luh!" Wati geleng kepala, karena hubungan bawahan dan atasan sudah seperti itu.

"Haaa ...!" Citra tertawa, menggoyang-goyangkan badanya, tanda bahwa dia sedang bahagia dengan semua chat romantis dari Bimo. "Romantis, kan?" Tatap Citra pada Wati yang masih ternganga tak percaya.

"Romantis apaan!" Wati mendelikan matanya, tanda tak setuju dengan pendapat Citra, karrena walau bagaimana pun dia tahu kelakuan Bimo yang sebenarnya.

"Kak, maaf ini minumannya!" Pelayan Cafe membawa pesanan Citra dan Wati dan meletakannya di depan mereka.

"Oh iya!" Wati mengangguk, mengiyakan pelayan Cafe yang membawa pesanannya. Pelayanan itu pun langsung pergi lagi, setelah mengantarkan semua pesan Citra dan Wati. Citra pun melihat punggung pelayan itu.

"Eh, itu kan si Mela, ya? Anak kelas 7A, dulu!" Citra menggiring tatapan Wati untuk melirik pelayan yang baru saja mengantarkan makanan dan minuman untuknya itu.

"Mela?" Wati mencoba berpikir sejenak, mengingat nama Mela, temannya saat SMP dulu. Wati mengerlingkan matanya, mengingat dengan keras seseorang yang bernama Mela.

"Itu loh, yang dulu pacaran sama si Desta!" ucap Citra, mencoba mengingatkan seseorang yang bernama Mela itu.

"Yang suka sok deket sama Ketua OSIS itu?" tebak Wati, menatap Citra, berharap jawabannya kali ini benar.

"Nah itu dia!" jawab Citra, mengangguk, bahwa yang sedangkan dia lihat itu adalah Mela anak 7A yang pernah mereka kenal dulu saat masih SMP.

"Kok lu masih kenal, sih?" tanya Wati penasaran, karena, jujur, Wati sedikit pun tak mengenal pelayan tadi itu.

"Gue sih, liat tahi lalat di dagunya aja, kok kaya si Mela, gitu! Eh, ternyata bener, kan!" Tatap Citra, meyakinkan penglihatannya pada Wati.

"Iya, sih, bener itu Mela!" Wati masih melihat Mela, keluar masuk dapur untuk mengangatarkan pesanan para tamu-tamu Cafe yang mulai ramai di jam pulang kerja ini.

"Hai ...!"

Farel tiba-tiba datang dan melambaikan tangannya.

"Eh, pacar lu tuh!" Tunjuk Wati dengan tatapan matanya, melihat Farel yang tiba-tiba datang di depan matanya.

"Kok dia ada sih?" Citra terkejut, karena saat ini dia tidak minta dijemput atau tidak janjian untuk bertemu dengan pacarnya itu.

"Ya, elah, masa lo gak seneng sih, ketemu pacar sendiri!" gerutu Ica, berbisik, agar ucapannya tidak didengar oleh Farel yang semakin dekat dengannya.

"Kok lu disini, sih, Beb?" Tatap Citra pada Farel, yang dari tadi terus menatapnya.

"Kebetulan aja! Barusan baru ketemu sama client. Rencananya, mau langsung pulang. Eh, malah liat kamu ada disini!" jawab Farel, langsung mengambil duduk diantara Citra dan Wati.

Wati pun menggeserkan kursinya, agar Farel bisa duduk dengan leluasa. "Udah beres ketemu client-nya, Rel?" Tatap Wati saat menggeserkan makanan dan minumannya agar space meja untuk Farel lebih leluasa.

"Udah ...! Barusan cuma sebentar, kok!" jawab Farel singkat. Wati mendelikan matanya pada Citra, karena Citra nampak bad mood dengan kehadiran Farel.

"Kamu udah pesen, makanan Cit?" tanya Farel, melihat di depan Citra sudah ada makan dan minuman.

"Udah, nih! Kamu mau pesen, gak? Sekalian aku pesanin, mumpung belum lama." tawar Citra pada Farel. "Boleh, deh." Farel mengangguk, setuju dengan tawaran Citra padanya itu.

"Kok, kamu gak bilang kalo lagi disini, sih, Yang?" tanya Farel pada Citra yang masih mengaduk jus apelnya, sebelum dia meminumnya kembali melalui sedotan yang panjang.

"Sory, Beb, tadi aku belum sempet WA kamu ...! Nih ..., gara-gara nona satu ini yang ngajak aku buru-buru!" jawab Citra memalingkan pembicaraan pada Wati.

"Kok jadi gue, sih!" Wati mendelikan matanya, gak mau disalahkan, karena Citra tidak memberi Farel kabar.

"O, M, G ...!" Wati membelalakan matanya, saat dia tahu, di belakangnya ada Bimo yang sempat ingin menghampirinya, tapi tidak jadi, karena Bimo melihat ada Farel di meja mereka. Wati pura-pura tak melihat, karena dia tidak mau terlibat di acara perselingkuhan Citra.

Drrtt ... drrtt ...

Hp Citra bergetar. Citra segera mengambil Hpnya itu, melihat ada sebuah pesan dari Bimo.

[Gue di belakang!] Bimo mengirimkan pesan poto pada Citra, bahwa saat ini dia sedang di belakang, dekat toilet, di Cafe yang sama.

"Bimo!" batin Citra melonjak, anatara kaget dan senang. Tapi, Citra melihat Farel di depannya. Dia ingin sekali menemui Bimo, tapi bagaimana dengan Farel.

"Hmm ... Gue ke toilet dulu bentar, ya, Beb!" Citra menatap Farel, minta izin ke toilet.

"Mau aku anter, gak, Sayang?" tawar Farel, ingin mengantar pacarnya itu ke toilet.

"Gak usah, Beb, bentar, kok!" jawab Citra singkat. Farel pun mengangguk, melihat Citra beranjak dari tempat duduknya. "Lu juga tunggu bentar ya, Wat!" suruh Citra pada Wati agar menemani Farel sebentar.

Wati menatap punggung Citra, karena dia tahu Citra akan menemui Bimo di belakang. "Nekat, lu!" gumam Wati, kesal, dan memalingkan lagi tatapannya pada Farel yang sedang menatap layar Hp.

"Silahkan, Kak, minumannya!" Mela kembali mengantarkan minuman kesana Farel. Farel pun mengangguk, "Makasih."

"Lu mau kemana, Rel?" Tatap Ica, gundah.

"Gue juga mau ke toilet dulu bentar!"

!!! ...