JoyNovel

Mari Baca dan Kenali Dunia Baru

Buka APP
Tuan Muda Dan Gadis Buta

Tuan Muda Dan Gadis Buta

Penulis:Rizki Kholifah

Berlangsung

Pengantar
Shea Amelia harus menerima bahwa rencana pernikahannya batal setelah kecelakaan yang merenggut indera penglihatannya. Sahabatnya pun ternyata tega menjadi perusak hubungannya dengan Harun, tunangan Shea. Bahkan keluarganya harus menanggung hutang karena pemutusan hubungan perusahaan dan pemalsuan data. Bukan hanya itu saja, ia yang dalam keadaan buta, diculik oleh sekelompok orang tak dikenal. Di tempat yang asing itu, ia harus kehilangan satu-satunya hal berharga yang telah ia jaga selama ini. Pria asing yang dingin itu merenggut kehormatannya. Namun, siapa sangka ternyata keduanya sama-sama dijebak. Setelah mengetahui identitas asli Shea, pria itu menjadikan Shea miliknya! Bagaimanakah kisah Shea? Siapa pria asing itu sebenarnya?
Buka▼
Bab

Seorang gadis cantik berbalutkan jilbab putih bersih sedang mencoba membuka kedua matanya. Dahinya pun berbalut perban serta ada beberapa goresan luka pada wajah serta tangannya. Ia mengerjapkan mata. Mencoba untuk sadar dari komanya. Namun, meski sudah mencoba untuk membuka kedua kelopak matanya lebar-lebar, ia tetap tak dapat melihat apa pun. Hanya ada kegelapan. Yang bisa ia rasakan hanyalah aroma obat serta suara pelan dari sebuah mesin yang berada di dekatnya. Rasa sakit pun berdenyut i kepalanya. Beberapa saat kemudian, gadis itu mendengar suara gerakan di samping tubuhnya.

"Shea? Kamu sudah bangun, Sayang?" Pertanyaan lembut itu datang dari sebelah ranjang rumah sakit.

"Alhamdulillah," ujar ketiga orang yang sedang menunggui seorang gadis cantik yang baru saja sadar dari komanya.

"Mah ... Pah ... Rizal ... Aku di mana? Kenapa di sini gelap sekali? Apa nggak ada saklar lampunya?" tanya gadis bernama lengkap Shea Amelia itu sembari mencoba duduk dengan memegangi kepalanya.

Ketiga orang yang tak lain adalah ayah, ibu, dan adik kandungnya pun menatap sedih ke arahnya. Mereka sendiri baru saja mendengarkan berita dari dokter yang merawat Shea.

"Kak ... Maafin aku ... Semua ini gara-gara aku .... Kak Shee ... Mata Kakak ...." cicit sang adik mencoba menjelaskan. Remaja laki-laki berusia tujuh belas tahun itu pun mendekati sang kakak. Wajahnya penuh dengan penyesalan.

"A-apa maksudnya, Zal? Kakak ...." gumam Shea sembari memegangi wajahnya. Benar saja, gadis berusia dua puluh tahun itu sama sekali tak dapat melihat tangannya sendiri.

Rasa sakit mendera di dadanya. Ia benar-benar telah kehilangan pengelihatannya. Sebuah gambaran tentang kejadian sebelumnya pun kembali terlintas dalam benaknya. Ya. Saat itu ia sedang berbelanja dengan sang adik. Memilih gaun yang indah untuk acara lamaran yang akan ia terima dari seorang pria yang ia cintai.

Malam itu sekitar pukul delapan, Shea bersama sang adik yang sudah selesai memilih pakaian, pulang dengan rasa bahagia. Akhirnya penantian panjang Shea mendapatkan jawabannya. Sebentar lagi gadis itu akan dilamar oleh tunangannya.

"Kak. Aku seneng banget deh Kak Shee sama Kak Harun sebentar lagi bakal nikah," ujar Rizal saat berjalan bersama sang kakak yang lebih mungil darinya. Jika orang lain melihat, mungkin mereka akan mengira mereka sebagai sepasang kekasih.

"Ih, Zal. Kan belum mau menikah. Baru juga mau lamaran. Tapi ya Kakak seneng banget karena Kak Harun akhirnya mau melamar Kakak. Padahal kami kan dijodohkan sedari kecil. Tapi Kakak seneng akhirnya cinta Kakak terbalaskan," balas Shea sembari tersenyum senang. Menampakkan wajah manisnya yang berbalut jilbab berwarna biru muda yang menjuntai hingga menutupi dada.

"Hehe. Cinta terbalas ya, Kak? Cieee," ejek sang adik sembari terkekeh.

"Ih. Jangan ngeledek deh kamu, Zal!" sungut sang kakak sembari mengerucutkan bibirnya dan mencubit lengan bagian atas sang adik. Membuat remaja laki-laki itu meringis kesakitan.

"Duh. Sakit, Kak!" pekik Rizal mencoba melepaskan diri.

Shea pun menghentikan kegiatannya mencubit sang adik. Bukan karena mendengar pekikannya, tetapi karena ia melihat siluet yang sangat familiar pada jarak beberapa puluh meter di depannya. Meski tempat itu cukup ramai, tetapi Shea mampu melihat pria yang sangat dikenalinya.

Tanpa kata, gadis itu langsung berjalan meninggalkan sang adik. Ia diam-diam mengikuti seorang pria yang dikenalinya tadi. Dalam jarak yang cukup dekat, Shea dapat melihat jika pria tersebut sedang berjalan sembari bergandengan tangan dengan seorang gadis cantik berambut panjang terurai yang juga sangat ia kenali.

"Astaghfirullahal'azim. Kak Harun ... Dinda ...." gumamnya.

Shea menatap tak percaya pada kedua orang yang dekat dengannya itu. Harun Putra merupakan calon suaminya, orang yang menjadi tunangannya, sedangkan Dinda Pratiwi adalah sahabat dekatnya sejak SMA. Ia semakin tak menyangka saat keduanya saling bercanda mesra sembari sesekali Harun membisikkan kata-kata tepat di telinga Dinda. Hal yang sama sekali belum pernah dilakukan pria itu padanya.

"Kak, ada apa?" Suara itu mengagetkan Shea. Gadis itu hanya diam menatapi Harun dan Dinda yang berjalan kian menjauh. Karena hatinya yang memang lembut, gadis itu tak sadar menjatuhkan air matanya. Ternyata pria yang selama ini ia cintai, berkhianat padanya.

"Kak?" ulang Rizal karena tak mendapatkan jawaban.

Shea cepat-cepat menghapus air matanya yang lolos. Ia pun menoleh sembari memaksakan sebuah senyuman di hadapan sang adik. "Ayo kita pulang, Zal!" ajak Shea yang sedang mencoba menepis apa yang baru saja ia lihat. Berharap jika apa yang baru saja ia saksikan hanyalah salah paham saja.

"Ya udah. Ayo!" Rizal menuruti ajakan sang kakak dengan wajah bingung. Apa yang sebenarnya Kakak lihat barusan? Mengapa Kakak tampak sedih?

Kedua kakak beradik itu kini berjalan ke luar mall terbesar di kota itu. Shea masih terus memikirkan kejadian sebelumnya. Bertanya-tanya tentang apa yang sebenarnya dilakukan Harun dan Dinda. Saat ia melihat senyuman bahagia pada wajah mereka, hal itu membuat hatinya bertambah sakit.

Rizal mengemudikan mobil untuk segera pulang ke rumah. Dalam perjalanan, Shea kembali melihat mobil milik Harun sedang berjalan beberapa meter di depan mobilnya. Mobil itu memasuki sebuah hotel yang tak jauh dari tempat itu.

"Zal. Berhenti dulu!" ucap Shea pada sang adik. Tatapan mata Shea masih terus tertuju pada pintu masuk hotel bintang lima yang jaraknya hanya beberapa meter saja.

"Mau ke mana, Kak?" tanya Rizal heran.

"Bentar!" Shea kemudian memutuskan untuk menemui mereka. Gadis itu mengejar Harun dan Dinda sebelum mereka kian menjauh memasuki hotel. Ia ingin mendengarkan alasan mengapa mereka bersama pada malam itu.

Tanpa diduga, sebuah mobil mewah keluar dari dalam hotel dengan terburu-buru. Shea yang kaget dengan kemunculan mobil berwarna hitam itu pun jatuh karena tersenggol dengan salah satu sisi badan mobil. Karena tak dapat menahan keseimbangan, Shea jatuh dan kepalanya terbentur dengan keras pada pembatas marmer yang berada di sisi gerbang masuk hotel.

Untuk sesaat mobil hitam itu berhenti. Namun, karena sang pengemudi melihat Rizal yang berlari menuju mobil tersebut dengan wajah cemas dan marah, sang pengemudi pun langsung pergi meninggalkan tempat tersebut.

"Woy! Berhenti!" teriak Rizal.

Remaja itu pun menghentikan langkahnya. Jika ia mengejar mobil itu, bagaimana dengan sang kakak? Rizal pun berbalik untuk menghampiri sang kakak yang sudah tak sadarkan diri.

"Astaghfirullahal'azim. Kak Shee! Bangun, Kak!" panggilnya sembari menepuk-nepuk wajah sang kakak yang sudah ternoda oleh warna merah.

Segera saja Rizal membawa sang kakak ke rumah sakit. Remaja laki-laki itu masih bertanya-tanya mengapa sang kakak tiba-tiba meminta turun di pinggir jalan? Apa yang membuat sang kakak berlari tanpa melihat ke sekitar akan bahaya tersebut? Apa yang sebenarnya sang kakak lihat waktu itu?

Dan sekarang, di dalam kamar rawat, Shea harus menerima kenyataan bahwa ia tak dapat melihat. Dokter yang memeriksanya pun memberikan penjelasan. Benturan pada kepala Shea cukup keras sehingga berimbas pada syaraf matanya. Pengobatan dapat dilakukan akan tetapi memerlukan waktu yang cukup lama. Itu pun belum tentu akan berhasil. Diperlukan ahli untuk menanganinya.

Shea akhirnya pasrah menerima kenyataan itu. Namun, dalam hatinya ia masih bertanya-tanya. Apa sebenarnya hubungan antara calon suami dan sahabatnya?