"Ok, google, cara menjadi kaya dalam waktu cepat tanpa ribet."
Rara sudah hampir kehilangan akalnya karena tak kunjung mendapatkan pekerjaan. Tak bekerja sama saja dengan dia tidak akan pernah kaya. Jika, dia tak kunjung kaya raya lalu bagaimana dia akan mewujudkan semua halusinasinya yang diperlakukan bak ratu dan bisa membeli apa saja sesuka hati?
"Jadi sugar baby atau jadi istri kedua om-om kaya, ngepet, pesugihan, atau ngebobol bank." Seseorang menyahuti pertanyaan Rara.
"Ide bagus!" Rara tersenyum lebar, dia mendapatkan pencerahan tentang pekerjaan apa yang harus digelutinya mulai sekarang.
Dia kembali membuka pencarian google dan menekan ikon mikrofon. "Oke google, alat, bahan, dan tata cara untuk menggepet yang baik dan benar!"
Plak!
Sebuah kemoceng melayang dan mengenai tepat pada kepala Rara. Pelakunya ada wanita tadi yang memberi ide.
"Demi Neneknya Tapasya, siapa yang berani ngelempar calon crazy rich dengan kemoceng," oceh Rara yang kini memunggut kemoceng yang kini tergeletak di atas kasur—tepatnya di sebelah pahanya.
Dia sedari tadi duduk menghadap dashboard ranjang, kini berbalik untuk mengetahui siapa gerangan yang berani cari masalah dengannya. Lengan bajunya juga sudah digulung ke atas, dia sudah siap baku hantam dengan orang itu.
"Apa!" Wanita itu bersedekap dada sembari memelototi Rara dengan garangnya.
Rara tersentak kaget.
"Mbak Renata, sejak kapan ada di sini?" tanya Rara sembari mengelus dada. Seingatnya, dia hanya sendiri sedari tadi. Dia juga tak mendengar orang menekan bel, itu berarti kakaknya ini lagi-lagi masuk ke apartemennya tanpa permisi. Eh, tapi ... apa jangan-jangan yang tadi menyahutinya itu?
"Dari tadi. Semenjak kamu menampakkan kebodohan di depan google," jawab wanita bernama Renata tersebut.
Rara hanya cengar-cengir menanggapi kakaknya itu.
"Bitiwi, ada apa gerangan Mbak datang ke sini?" tanya Rara sembari menampakkan raut perasaannya.
Renata memutar bola mata malas mendengar perkataan adiknya yang sedikit berbeda dari orang normal.
"Kamu masukin semua barang-barang ke koper terus ikut ke rumah mbak," jawab wanita berpakaian formal khas wanita kantoran itu.
Rara semakin mengerutkan keningnya, bingung. Dia mencium bau-bau mencurigakan dari niat wanita yang lebih tua tiga tahun itu. Sebab, selama ini Renata tak pernah mengizinkan Rara tinggal di rumahnya dengan alasan Renata tidak ingin semakin stres setelah seharian bekerja lalu saat pulang malah disuguhi suara berisik Rara.
Rara menatap lekat penuh curiga ke arah Renata sembari meletakkan jari telunjuk di dagu seperti orang sedang berpikir. Dia sedang coba menebak niat Renata.
"Ngapain malas ngeliatin mbak kayak gitu? Sana beres-beres cepat!"
"Mbak, lagi ngerencanain apa? Jujur!" Todong Rara sembari mengacungkan kemoceng tadi di depan wajah Renata.
"Apaan, sih!" Renata langsung menepis benda berwarna cokelat tersebut hingga terhempas ke lantai. "Udah, jangan banyak bacot. Beres-beres sekarang!" titahnya.
"Dih, merintah-merintah. Emang Mbak siapa? Orang tua bukan, guru juga bukan, bos aku apalagi."
Renata memijat pelipisnya, kepalanya berdenyut nyeri melihat kelakuan si bungsu. Kalau saja dia tidak ingat bahwa mereka memiliki ikatan darah, mungkin saat ini juga Rara sudah dibuangnya.
Tarikan napas panjang terdengar begitu jelas. Kemudian, Renata mengembuskannya secara perlahan. Berharap emosinya sedikit berkurang.
"Dengerin mbak baik-baik, oke?"
Rara mengangguk patuh.
"Jadi, dua hari mbak teleponan sama mami papi. Terus mami bilang, kalau kamu belum juga dapat kerjaan mending kamu tinggal di rumah mbak dan bantu-bantu beresin rumah. Nah, kebetulan pembantu mbak baru aja resign kemarin disuruh suaminya. Jadi, mbak setuju dengan ide mami," jelas Renata sembari menatap ke arah Rara untuk memastikan jika Rara memperhatikan dan mendengarkan penjelasannya tadi dengan baik.
Rara memberenggut sebal. Ide macam apa itu? Menjadikan adik sendiri sebagai pembantu?
"Dih, ada akhlak Mbak begitu? Adek sendiri dijadiin babu?"
"Daripada mbak terus-terusan ngasih kamu duit tiap bulan, tapi kamu gak ngapa-ngapain? Rugi di mbak dong," balas Renata sewot. "Lagian sampai sekarang kamu juga belum dapat kerjaan. Jadi, mending kerja di rumah mbak dulu, nanti mbak kasih gaji juga. Lumayan, jadi kamu gak perlu minta uang ke papi mulu. Emang gak malu, udah gede, tapi masih jadi beban orang tua?"
"Oh, jadi, selama ini mbak gak ikhlas ngasih aku duit jajan?" Rara jauh lebih sewot. "Fyi, ya, Mbak, aku ini tanggung jawab orang tua bukan beban. Lagian buat apa mami papi nyetak aku kalau mereka ujung-ujungnya gak mau tanggung jawab, heh?"
Frustasi, itulah yang dirasakan oleh Renata saat ini. Rasanya dia ingin mencekik Rara yang terus menyahuti kata-katanya dengan kalimat yang memancing emosi.
"Ikut mbak atau jadi gembel?" Renata mengajukan dua pilihan. Berharap setelah itu, sang adik tak menjawab panjang lebar dan menguras emosinya.
"Mending balik ke Bandung," jawab Rara.
"Dengar-dengar, sih, kalau kamu balik ke Bandung dan gak kerja, Papi mau jodohin kamu sama si Tejo," ujar Renata mencoba menakut-nakuti wanita menyebalkan itu.
"What! Ogah banget nikah sama cowok yang tompelnya segede gaban! Mana kerjanya cuma jadi pelayan di resto-nya Papi. Kapan aku kayanya kalau nikah sama dia mah?"
Renata menutup kuping sebelum organ itu kehilangan fungsinya karena pekikan membahana Rara.
Melihat tingkah Rara, Renata jadi ragu jika Rara anak kandung orang tuanya. Bagaimana mana tidak, di keluarga mereka tak ada yang sebar-bar manusia bernama Rara.
"Oke, aku ikut ke rumah Mbak aja!" putus Rara setelah sekian banyak tenaga Renata yang terbuang sia-sia
Renata menyunggingkan seutas senyum sembari mengacungkan jempol ke arah Rara. "Good girl," pujinya.
"Kalau kamu dari tadi langsung setuju mah pasti gak bakal buang-buang waktu kayak gini," lanjut Renata sembari mendengkus kesal.
"Idih," cibir Rara.
"Udah, sana cepetan!" Renata kembali memasang raut garang. Kemudian, dia beralih duduk di tepi tempat tidur sembari berpangku kaki.
"Iya, bawel banget, sih," gerutu Rara. Wanita itu bangkit lalu melompat turun dari atas tempat tidur.
Tujuan pertamanya adalah mengambil koper besar berwarna hitam yang berada di samping lemari. Kemudian, dia mulai mengumpulkan pakaian dan menatanya ke dalam koper.
"Semua barangnya dibawa?" tanya Rara lagi.
"Terserah," sahut Renata yang tengah fokus menatap layar ponselnya.
"Jadi, kemoceng, gelas, piring, sendok, sabun cuci piring, sabun cuci baju, spons cuci piring, dan alat-alat buat masak lainnya juga dibawa, gitu?" tanya Rara tanpa menatap ke arah Renata.
Rahang Renata mulai mengeras, jemari juga ikut mengepal. Wajahnya pun sedikit memerah.
"Sekalian aja bawa sama sofa, lemari, kulkas, spring bad! Kalau bisa shower, bath up juga kamu bawa!" jawab Renata, ngegas. "Kesel banget."
