JoyNovel

Mari Baca dan Kenali Dunia Baru

Buka APP
Novis

Novis

Penulis:Randra Jeremiah

Tamat

Pengantar
HOMO (Latin) : Manusia. NOVIS (Latin) : Aneh. Markus berdiri di puncak gedung pencakar langit memandangi langit malam yang penuh dengan bintang-bintang gemerlapan. Lautan cahaya kota menari-nari seperti sekumpulan kunang-kunang di dekat danau. "NGIIIIIUUUUNG...NGIIIIIUUUUNG...NGIIIIIUUUUNG." Suara sirine mobil polisi mengejar sekelompok perampok memecahkan keheningan malam. Tangan Markus bercahaya biru, ia tau bahwa tugasnya belum selesai, tugasnya tidak akan pernah selesai. Dengan sekali hempasan tangannya terbukalah sebuah portal. Tanpa ragu ia melompat ke portal tersebut mengejar para perampok. Namanya ialah Markus Teno, namun orang-orang memanggilnya RIFT.
Buka▼
Bab

---------BAGIAN 1 RETRO CITY---------

Matahari senja menyinari kampus itu dengan cahaya yang lembut. Kampus yang ramai dan penuh dengan hingar bingar mahasiswa diterpa angin dingin dari pegunungan. Seorang pemuda bertubuh gempal mengaitkan jaket biru parka sampai ke ujung leher berusaha mencegah dinginnya angin memasuki tubuhnya. Ranselnya yang hitam dan penuh koyakan bergelatung seperti ingin jatuh dari punggungnya. Pemuda itu menggosokan kedua tangannya yang kasar untuk mencari sedikit kehangatan.

Sekurumunan mahasiswa berdiri di depan gerbang kampus. Gerbang kampus yang berwarna hitam dan besar dihiasi oleh 2 buah gapura merah bata bercorak Jawa. Kerumunan mahasiswa itu mengangkat poster dan spanduk berisi propaganda mengenai Novis. Suara mereka lantang dan saling tumpang tindih satu sama lain, namun ada kata – kata yang selalu mereka ucapkan.

“NOVIS, Manusia atau Monster? Manusia atau Monster? Tuhan tidak menciptakan mahluk seperti mereka.”

Kerumunan itu berteriak saut – menyaut seperti melakukan jargon. Bertanya pertanyaan retorika yang mereka sendiri tidak tahu jawabannya. “NOVIS, Manusia atau Monster?” Jawaban dari pertanyaan itu tidaklah penting, karena jawaban yang benar adalah mereka tidak tahu jawabannya dan mereka takut dengan apa yang mereka tidak ketahui.

Pemuda itu menatap kerumunan itu dengan tatapan takut dan sedih. Tangannya gemetar dan ia menarik napas panjang sembari bergumam kecil, “Harus sabar”. Ia berjalan dengan perlahan mendekati kerumunan itu berharap bisa melewati mereka dan segera pulang. Langkah demi langkah ia ambil, namun kakinya terasa berat dan lemas. Mereka tetap berteriak - teriak layaknya anak ayam yang meminta makanan ke induknya.

Salah satu dari kerumunan demonstran itu berteriak.

“Saudara – saudaraku masyarakat Retro City, kita sudah berusaha menggencarkan keawasan kita terhadap para NOVIS selama 2 tahun. Selama 2 tahun, setiap minggu kita berdiri disini dan berteriak berusaha membuat masyarakat sadar akan bahayanya kaum NOVIS. Sekarang saya ingin 1 orang yang bukan diantara kita untuk menyatakan apa pikirannya mengenai kaum NOVIS, untuk memberitahu kita apakah pesan kita sampai ke mereka, apakah suara kita kurang keras.” Teriak seorang mahasiswa berjanggut tipis dari antara kerumunan itu.

“Kamu, mahasiswa dengan jaket Biru. Ayo kesini coba utarakan apa yang kamu pikirkan tentang kaum NOVIS?”

Pemuda berjaket biru itu menghentikan langkahnya. Ia memandang dengan tatapan kosong kearah kerumunan itu, berusaha untuk menutupi ketakutannya. Tangannya yang gemetar ia masukan ke dalam kantung jaket birunya. Mahasiswa berjanggut itu mendekati dengan membawa wireless mic di tangannya. Kerumunan itu memerhatikannya, tatapan mata mereka menusuk pemuda itu seolah mereka akan memakannya bila ia berkata “Novis bukan seorang monster.”

“Jadi bagaimana menurutmu tentang NOVIS? Apa sebaiknya mereka diberi tempat di antara masyarakat kita atau KITA BASMI SAMPAI HABIS? IYA TIDAK KAWAN - KAWAN” Teriak mahasiswa berjanggut itu. Para demonstran yang mendengar teriakannya langsung histeris dan menyoraki seperti sedang menonton konser band.

Pemuda itu berusaha menggerakan mulutnya yang kaku berharap kata – katanya yang keluar adalah “Novis adalah monster”. Mahasiswa berjanggut itu menatapnya dengan mata bersinar, seolah mengatakan “Jangan jawab yang macam - macam”. Mahasiswa berjanggut itu mulai tidak sabar dan semakin menyodorkan mic itu ke arah bibir sang pemuda. Dengan memejamkan mata, pemuda itu menggerakan mulutnya dan...

“Oy…Markus, ayo sini kita pulang bareng.” Suara lembut namun keras seorang wanita menembus kearah kerumunan itu.

Pemuda dan kerumunan itu melihat ke arah asal suara tersebut. Di luar gerbang kampus yang hitam berdiri seorang gadis dengan rambut pendek berwarna hitam dengan ujungnya dicat pink, ia mengenakan kemeja flanel kotak – kotak berwarna pink dan hitam. Wajahnya tersenyum kearah sang pemuda dan seketika itu pula segala kekhawatiran pada pemuda itu terangkat ke langit.

“Maaf, saya harus segera pergi. Teman saya sudah manggil saya.” Dengan cepat pemuda itu berjalan ke arah gadis. Gadis itu menyambar tangan pemuda itu dan berjalan menjauhi kerumunan demonstran.

Mereka berjalan dengan cepat membelakangi kerumunan dan menjauhi gapura merah bata itu. Kerumunan itu hening sementara, namun tidak lama mulai berteriak – berteriak kembali. Gadis itu melepas tangan Markus dan menahan langkahnya, mengisyaratkan bahwa mereka sudah cukup jauh dari kerumunan tersebut.

Mereka berjalan pelan menyusuri jalan raya di depan kampus. Dinding bata merah berdiri tegap disepanjang jalan, tanaman lidah mertua dan bangku – bangku taman menghiasi jalan setapak yang mereka lalui. Di tepi jalan raya berbaris panjang mobil - mobil yang terparkir illegal. Kaca – kaca mobil yang gelap memantulkan cahaya matahari sore ke arah Markus. Dilihatnya di jendela mobil itu wajahnya yang berantakan seolah tidak pernah tidur, kulitnya yang krem gelap terlihat pucat, dan kacamata kotak kebesaran terus saja turun dari hidungnya. Ia mengenakan jaket parka biru yang kusam kebesaran sehingga memberikan kesan kumuh.

“Alya, untung tadi kamu datang. Aku benar – benar takut mau jawab mereka.” Kata Markus sambil memasukan tangannya ke dalam saku jaket.

“Iya, untung ada aku. Kalau nggak kamu sudah dicincang sama mereka Mark.” Jawab Alya dengan nada mengejek.

Markus tersenyum kecut ke arah Alya. Ia berusaha menatap Alya di mata, namun sebagian dari wajahnya tertutup oleh rambutnya yang halus. Wajah Alya terlihat elegan dan cantik, pipinya yang berwarna merah muda memancarkan aura yang feminim. Namun antara sifat dan wajah Alya adalah 2 hal yang sangat bertolak belakang. Baju flanel pink hitamnya yang penuh robek akibat sering dipakai naik gunung dan tangannya yang penuh luka bakar akibat solder menunjukan seorang yang bersikap tegas dan pekerja keras.

“Kamu seharusnya telepon aku kalau ingin pulang, biar pulang bareng kita” Kata Alya sembari menepuk pundak Markus. Ia mengeluarkan sebuah kotak rokok Marlboro merah dari sakunya dan menyulut salah satu rokok.

“Ya. Aku lagi ingin jalan – jalan dulu sendiri, cape habis disuruh dosen ngerjain tugas robotika. Kamu harus banget ngerokok kalau kita ngobrol?” Kata Markus sambil mengipas - ngipas menghilangkan asap rokok.

Bermaksud untuk membuat Markus semakin jengkel, Alya hanya menjawab dengan senyum mengejek dan mengabaikan pertanyaannya.

“Heeeeh…Jalan – jalan sendiri terus alasannya, akunya nggak kamu ajak…Paling nggak kamu kalo ada masalah kayak demonstran kampret tadi harusnya langsung kabur aja atau telepon aku.”

“Iya Iya.”

Markus tidak melanjutkan kata – katanya. Ia hanya terdiam dan membayangkan kerumunan demonstran tadi. Entah apa yang akan terjadi padanya jika Alya tidak datang, jika Alya tidak membantunya, jika ia memberikan jawaban yang mereka tidak suka. Memikirkan hal itu membuat jantung Markus berdegup kencang, ia mengepalkan tangannya di dalam saku.

“Lupakan saja kejadian tadi.” Ujar Alya sambil menghisap rokoknya. “Mereka nggak tahu apa yang mereka bicarakan. Aku berani bertaruh 80% orang yang tadi ikut demo hanya ikut – ikutan saja. Mereka nggak mengerti dan nggak peduli dengan apa yang mereka katakan. Mereka hanya ingin membuat rusuh.”

Markus terseyum mendengar kata – kata Alya. Jantungnya yang berdegup kencang mulai menenang.

“Iya, Kamu benar.”