JoyNovel

Mari Baca dan Kenali Dunia Baru

Buka APP
My Ex Is Mine

My Ex Is Mine

Penulis:Rainsya

Tamat

Pengantar
Adira Valencia baru saja diputuskan oleh Valerio Smith karena sebuah Dare dari temannya. Adira menyetujuinya namun hal itu yang membuat Valerio murka. Lalu Valerio berhubungan dengan orang lain namun ia tidak melepaskan Adira untuk orang lain. Posesif. Namun itulah namanya sebuah lika-liku percintaan. Bagaimana selanjutnya? Bagaimana tanggapan Adira ketika tahu tentang alasan sebenarnya mengapa Valerio memutuskan hubungan mereka dulu?
Buka▼
Bab

"kita putus," ucap laki-laki yang berada di depan adira dingin.

adira hanya diam saja.

menghembuskan napas pelan. "oke," putus adira santai lalu berbalik hendak meninggalkan cowok di depannya ini namun tangannya sudah ditahan oleh cowok bernama valerio.

"kenapa?"

adira mengernyit. "kamu minta putus kan? ya sudah kita putus. beres, kan?"

"bukan ini yang gue mau!"

"terus mau kamu apa? break? kamu pasti tahu jawabannya kan? enggak!"

adira berbalik menjauhi valerio yang kini masih tegap berdiri di tempatnya. menatap punggung kecil milik adira hingga ke ujung koridor.

"kenapa lo gak nolak sih!" valerio geram.

rambutnya dia jambak untuk mengurangi kekesalannya. dia menyesal dengan ucapannya barusan. dia pikir adira akan menahannya. tapi nyatanya tidak.

valerio bodoh sekali.

°°°

bila biasanya adira setiap pagi harus membuatkan valerio makanan kesukaannya, namun pagi ini terasa berbeda sekali.

tidak ada lagi adira yang repot karena kemauan valerio yang terbilang aneh sekali. tidak ada lagi yang membangunkan adira di minggu pagi dan mengajaknya pergi jogging bersama.

adira menghela napas kasar. biasanya adira masa bodo amat dengan urusan ini. tapi kenapa dengan valerio kata bodo amat itu tidak ada?

kemarin dia kira setelah adira benar-benar melepaskan valerio, itu sudah keputusan benar. tapi kenapa malah sekarang hatinya menyesal?

"ada den valerio di depan, neng."

setelah mengucapkan itu, pembantu adira pergi ke arah dapur. adira yang sedang makan bersama mamanya terlihat semangat. dari tadi, makanan yang ada di depan adira hanya ia lihat dan makan sebisanya dengan tampang lesu. dan sekarang ketika sudah ada valerio, nafsu makannya kembali. apa benar jika adira benar-benar tidak ingin kehilangan valerio? cowok yang selama ini ada di hidupnya. atau ini hanya sebuah kebetulan karena adira ingin dekat dengan sosok laki-laki meski bukan papanya?

ah, sudahlah lupakan.

"dira ke rio dulu ya, ma."

mamanya hanya mengangguk, "jangan menyesal setelah ada keputusan, dir."

adira hanya mengangguk. lalu adira menemui valerio yang ada di ruang tamu rumah ini.

"kenapa?" tanya adira sambil memakan makaroni pedas yang dia bawa dari dalam.

valerio meliriknya. sial! baru hari pertama jadi mantannya saja adira sudah membangkang seperti ini.

valerio merampas camilan adira membuat gadis itu memberengut. "siniin makanan gue!"

"baru juga sehari gak ada gue makanan lo kembali ke asal! gak ada akhlak ya lo selalu nyakitin diri sendiri? lo kira makanan pedas kayak gini bikin lo sehat?!"

adira mendengus. "lo bukan siapa-siapa gue. lo gak ada hak ngatur hidup gue!"

"mulut lo kayaknya butuh di ruqyah ya! nyerocos kayak orang patah hati."

mendengar itu, adira menoleh ke arah valerio. sial, kenapa bisa valerio menebak itu? ketahuan sudah jika adira tidak bisa jauh dari valerio apalagi melepas laki-laki itu untuk orang lain. big no!!!

"siniin makanan gue!"

valerio menjauhkan makanan itu dari jangkauan adira. "gak usah kayak anak kecil deh! gak pantes!"

"dih situ kenapa sewot? masih sayang gue? tapi kemarin minta putus," ujar adira bersedekap dada.

"ini juga salah lo! lo yang bikin gue ngomong gitu. coba aja lo gak kayak anak kecil, gue gak bakal putusin lo kemarin."

"kok gue?"

"gue udah bilang jangan bikin gue marah! lo tetep aja main api di belakang gue. gini kan jadinya."

"itu bukan salah gue!"

valerio kesal. tidak ada gunanya dia mengatakan itu pada gadis di depannya ini. kalau sedang putus cinta emang seperti ini. selalu merasa benar walaupun salah.

"gue mau jalan. dan lo harus ikut!"

adira menoleh ke arah valerio. "ngapain juga gue ikut lo? lo kan mau jalan sama cewek baru lo!"

adira menutup mulutnya. dia benar-benar keceplosan. semalam adira sengaja menghubungi mama valerio dan katanya semalam ada teman valerio cewek bernama fara datang dan mengajak valerio jalan.

sedangkan valerio bingung. dia tidak sama sekali ingin jalan bersama cewek manapun hari ini. tapi kenapa ucapan adira begitu seakan gadis itu cemburu?

"lo cemburu?" goda valerio membuat adira reflek memukul lengannya.

"enak aja! emang lo siapa cuma upil manu rios doang udah belagu."

"ngelak terus."

"emang bener enggak kok!"

"terus kenapa tuh muka keliatan banget cemburunya?"

"valerio ih!"

ingin sekali adira memukul kepala cowok ini. sudah jadi mantan juga tetap saja bikin orang seakan burung dalam sangkar.

"val? lo mau ngajak gue jalan?" tanya adira membuat cowok itu menoleh.

"gak jadi."

"kenapa?" adira menghampiri valerio yang sudah duduk manis di depan tv.

"mending nonton tv lagi ada film bioskop di tv nih," ujar valerio menyalakan televisi di depan kamar adira dan duduk sambil memangku makaroni milik adira.

"kok gitu? lo padahal ngajak gue jalan loh tadi. gak boleh lo batalin gitu aja."

"lo juga tadi nolak," sahut valerio yang masih fokus ke arah depan.

sebelah tangannya memasukkan makaroni ke dalam mulutnya.

"kan gue maunya lo mohon-mohon ke gue."

"berasa cewek berharga banget lo, ya," sindir valerio masih dengan mulut yang mengunyah makaroni dan fokus ke depan tv.

"val, lo kok jadi cowok gak peka banget sih," sungut adira membuat cowok itu menoleh sekilas lalu kembali menatap layar tv.

"emang lo siapa gue?" tanya valerio enteng.

adira kesal. valerio hari ini benar-benar membuat adira kesal setengah mati. sudah membuat acara malas-malasannya terganggu, rebahan dengan membaca komik berkurang dan sekarang valerio mengacaukan moodnya. mau valerio ini sebenarnya apa sih?

"mau lo ke sini buat apa sih sebenernya? mau numpang makan? atau mau bikin gue naik darah?" tanya adira kesal.

"tidak di antara itu."

"lo bener-bener cowok nyebelin yang pernah gue kenal, val."

"bagus, dong. biar mainan lo bukan cuma cowok pinter gombal doang kayak romeo," ucap valerio membuat adira menoleh dengan mata yang sudah terbelalak.

"ngapain coba lo sebut-sebut nama romeo?!"

"kan romeo gebetan lo."

"nggak. sok tahu banget sih."

adira beralih ke majalah di depannya, membukanya dan mulai membacanya. majalah fashion yang sangat disukai oleh bundanya. semua perempuan memang menyukai fashion jadi jangan salahkan adira jika setiap ke mall selalu mencari baju keluaran terbaru di toko mahal sekalipun.

adira menatap sebuah dress berwarna putih dengan panjang sekitar selutut adira. mini dress yang terlihat indah itu mungkin sangat cantik jika dia memakainya di acara ulangtahun sahabatnya minggu depan.

ah, haruskah adira membelinya sekarang?

tanpa adira sadari, valerio melirik ke arah adira dengan alis yang bertautan.

"mungkin dress itu sangat dibutuhkan oleh adira nanti," gumam valerio pelan.