JoyNovel

Mari Baca dan Kenali Dunia Baru

Buka APP
Kita Bersama Takdir

Kita Bersama Takdir

Penulis:Salsabilajul

Berlangsung

Pengantar
Ini tentang seorang gadis yang ingin bunuh diri hanya karena permasalahan takdirnya. Namun Tuhan mempertemukannya dengan seorang lelaki, yang bisa menyelamatkannya. Dan membantunya dalam menyelesaikan permasalahan hidup. Namun perjalanan hidup tidak selalu mulus, ada rintangan yang harus dijalani. Beribu cobaan datang padanya. Terlebih saat ia tahu, bahwa lelaki yang menyelamatkannya sudah mempunyai wanita lain. Mampukah mereka menjalani takdir cinta yang saling tersakiti? Inilah kisah mereka, kisah Kita Bersama Takdir.
Buka▼
Bab

Tuhan sudah menuliskan semua takdir untukmu. Entah baik atau tidak, kamu harus mau menerimanya. Karena memang, terkadang apa yang kita inginkan tidak akan pernah tertulis di takdir yang Tuhan berikan. Jadi, yasudahlah."

***

Rintik-rintik air hujan menemani kesunyian di malam hari. Mengikuti langkah kaki Kiara yang terdayuh tak berdaya. Ketika kesunyian ini mengingatkannya pada takdir kehidupannya.

"Mah, pah, Kiara kangen kalian," ucap Kiara dengan air mata yang membasuh pipinya.

Kiara sangat merindukan orang tuanya, orang tua yang tidak pernah ia lihat paras wajahnya. Ia benar-benar merindukannya, ia membutuhkan pelukan orang tuanya di saat seperti ini.

"Kenapa harus gue yang ngerasain semua ini? Kenapa semuanya harus terjadi sama gue?" tanya Kiara pada dirinya sendiri, dengan tangan yang memukul-mukul kepalanya sendiri dengan keras.

"ARGHH, TUHAN EMANG GA ADIL! GUE BENCI SEMUA INI! GUE BENCIII! HIKS HIKS!" Kiara berteriak dengan kencang, ia tidak peduli dengan orang-orang di sekitarnya. Karena hatinya kini benar-benar hancur, ia stres jika harus menghadapi semua cobaan ini.

Tiba-tiba terlintas di pikirannya, untuk melakukan hal yang tidak di sukai Tuhan-nya. Ia berlari menuju tempat yang sepi, dan sampailah ia di jembatan Argidara. Tempat yang saat ini sangat sepi, bahkan tidak ada satupun orang disini kecuali dirinya.

Tanpa berpikir panjang, ia naik ke atas besi jembatan. Ia tidak merasa takut sama sekali, padahal di bawah sana ada aliran sungai yang dalam, lebar dan deras. Yang memungkinkan dirinya jatuh ke bawah sana.

"Lebih baik gue yang duluan menjemput takdir kematian dari pada takdir kematian yang duluan menjemput gue. Hiks hiks," ucap Kiara, dengan keringat dan air mata yang saling beradu lomba untuk membasahi wajahnya.

Kiara terdiam untuk beberapa saat, ia mengambil napasnya dalam-dalam. Dan menghembuskannya dengan kasar, sambil berteriak, "GUE BENCI TAKDIR INI, DAN GUE BENCI TUHAN YANG SUDAH MENCIPTAKAN TAKDIR INI!" lirih Kiara, tanpa mempedulikan apa yang ia ucapkan barusan.

Dan kini Kiara sudah benar-benar yakin jika ini adalah pilihannya yang tepat. Yakni, bunuh diri.

Sebelum dirinya terjatuh ke sana, ia mengusap air matanya dan merentangkan tangannya. Seakan-akan ia akan memeluk sesuatu, yang tak lain adalah takdir kematiannya.

"Jika mamah dan papah memang sudah tiada, maka malam ini juga, Kiara akan menyusul kalian," ujar Kiara untuk yang terakhir kalinya.

Kiara menarik napasnya dalam-dalam. Dan ... BRUKHH.

***

Kiara hampir terjatuh ke sungai di bawah sana. Namun untung saja, tangan Kiara berhasil di pegang dan di cegah oleh seorang lelaki yang tidak di kenalnya.

"LEPASIN GUE!" teriak Kiara dengan kaki yang mengambang dan air mata yang berlinang di pipinya. Ia berusaha melepas tangan lelaki itu.

"Saya tidak akan melepaskan kamu, jangan pernah kamu mencoba untuk bunuh diri. Mari saya bantu," ucap lelaki itu memberikan bantuan pada Kiara, namun Kiara tidak mau.

"Ini kehidupan saya, apa pun yang saya lakukan tidak ada urusannya dengan kamu. Jadi ... biarkan saya mati!" tegas Kiara pada lelaki itu, Kiara benar-benar kesal pada lelaki itu. Rencananya untuk bunuh diri, di gagalkan oleh lelaki tidak dikenalnya.

"Ini memang kehidupan kamu, dan memang tidak ada urusannya dengan saya. Namun setidaknya, saya peduli dengan kamu," lelaki itu mencoba menengangkan pikiran Kiara.

"I Don't Care, OKAY!'' teriak Kiara sambil terus-menerus mencoba melepaskan genggaman tangan lelaki itu.

Kiara menangis, ia terus-mencoba supaya dirinya bisa mati dan jatuh ke sungai di bawah sana.

"Masalah apapun yang sedang kamu hadapi, kamu harus tetap yakin jika kamu bisa melewatinya—"

"Saya berjanji, demi Allah, saya akan menemani kamu dalam menghadapi masalah itu. Saya akan menikahi kamu, demi Allah," sambung lelaki itu, ia terus mencoba meminta Kiara untuk tidak bunuh diri.

"SAYA TIDAK PERCAYA DENGAN OMONGAN KAMU! SEMUA LELAKI ITU CUMA PEMBOHONG!"

Kiara dengan lelaki itu, masih saling beradu bicara. Entah sampai kapan mereka akan seperti ini, namun tetap, bagi Kiara, ia harus meninggalkan dunia ini, malam ini juga.

"DEMI ALLAH SAYA TIDAK AKAN MEMBOHONGI KAMU!" teriak lelaki itu, yang diiringi dengan tangisan Kiara.

"Kamu berjanji?"

"Iya, saya berjanji. Demi Allah."

Kiara mengangguk, sambil menangis kencang.

Kiara berteriak sambil menangis. Ia sedikit tidak percaya pada lelaki itu. Namun dari tatapan, dan nada suara lekaki itu terdengar begitu serius. Hati Kiara luluh, sampai akhirnya ia menerima ajakan lelaki itu. Untuk kembali bertahan hidup, meski jutaan badai berdatangan.

Dan tidak lama kemudian, Kiara di bantu untuk naik ke atas jembatan oleh lelaki itu. Lelaki yang sudah berjanji akan menemani Kiara, dan menikahinya.

"ARGHHSSS!! HIKS HIKS HIKS!!" tangis Kiara membludak lagi saat ia berhasil untuk tidak bunuh diri. Ia berhasil menyelamatkan nyawanya sendiri, saat depresi membunuh akal pikirannya.

Kiara berteriak sambil terus menangis di pelukan lelaki itu. Namun lelaki yang sudah berjanji akan menikahi Kiara, seakan-akan menyesal sudah berbicara seperti itu. Ia membalas pelukan Kiara, namun dengan tatapan kosong penuh penyesalan. Keringat membasahi tubuh lelaki itu. Ia berbisik sambil berdzikir.

"Astagfirullah astagfirullah astagfirullah," ucap lelaki itu saat ia masih membalas pelukan Kiara.

Keringat dan air mata mereka saling bercucuran, atas hal yang baru saja terjadi. Seorang wanita depresi yang mencoba untuk bunuh diri, namun berhasil di selamatkan oleh seorang lelaki yang berjanji akan menemani dan menikahi wanita itu. Malam ini, di jembatan Argidara, ada sebuah peristiwa yang sungguh luar biasa.

Lelaki itu mengusap rambut Kiara, sambil tetap berdzikir, ia mencoba menenangkan Kiara.

"Kamu berjanji akan menikahi saya?" tanya Kiara dengan tatapan sungguh-sungguh.

Lelaki itu hanya mengangguk, dan di iringi dengan senyuman tipis. Kiara pun ikut tersenyum.

***

Namun tiba-tiba, BRUKH. Kiara terjatuh pingsan. Entah apa yang terjadi pada dirinya. Namun ia sudah tidak sadarkan diri. Membuat lelaki itu ketakutan, dan kaget dengan Kiara yang tiba-tiba pingsan.

"ASTAGFIRULLAH, TOLONG! BANTU SAYA! TOLONG!" teriak lelaki itu, meminta bantuan pada orang-orang di sekitarnya. Namun tidak ada yang menghampirinya, karena di jembatan ini benar-benar sepi. Terlebih, ini sudah tengah malam. Membuat suasana semakin mencekam.

Dengan penuh tanggung jawab, lelaki itu segera menggendong Kiara untuk mendapatkan pertolongan.

Di iringi dengan air mata lelaki itu, yang bercucuran membasahi pipinya, sampai terjatuh dan menetes di wajah Kiara yang sedang terlelap pingsan.

"Astagfirullah ... astagfirullah ... astagfirullah," ucapnya mencoba menghapus rasa takut dan kagetnya.

Dengan angin malam, dan udara yang dingin ia terus berupaya untuk menyelamatkan Kiara. Padahal rumah sakit di sini, sangatlah jauh. Dan ia tidak membawa kendaraan. Dan juga tidak ada kendaraan umum yang masih melintas di jalanan ini. Ini memang sudah sangat larut malam. Namun ia akan terus mencoba untuk bisa menyelamatkan Kiara, yang entah karena apa, Kiara bisa pingsan. Astagfirullah.

"Kamu harus kuat, aku yakin, Allah akan melindungi dan menyelamatkan kamu,"

***

"Tuhan memang baik, di saat ia memberimu cobaan, ia juga memberimu kebahagian. Maka percayalah pada takdir, maka takdir juga akan memberikanmu sebuah kepercayaan."