Raut wajah terlihat sangat suntuk untuk ukuran anak berusia tujuh belas tahun. Seorang gadis remaja yang tengah duduk sembari membuka lebar-lebar telinga hanya untuk mendengarkan penjelasan dari pak Untung. Guru terlambat seantero.
Bagaimana tidak lambat, pak Untung selalu menerangkan materi seperti mendongeng. Sebagian anak-anak mulai suntuk di jam pelajaran.
Helaan napas panjang lolos begitu saja dari beberapa bibir siswa-siswi kelas 3. Suntuk dan bosan berpadu jadi satu seperti jeli dan selai, sungguh nikmat yang luar binasa.
"Seperti yang sudah bapak ucapkan. Penetapan perbandingan titik tetap atas yang terdapat pada skala suhu dicari berdasarkan suhu ...,"
"Suhu badan aku menggigil mendengar penjelasan pak Untung," celetuk aldino dari belakang kelas dengan suara yang agak kecil.
Hanya sebagian orang saja yang mendengar celetukan Aldino terkekeh geli. Bahkan, tidak jarang anak-anak, lebih tepatnya di bagian pojok kelas menghabiskan waktunya untuk tidur dengan buku menjadi penghalang agar Pak Untung tak melihatnya.
"Untung aja pak Untung. Kalau buntung, ngeri?" omel Imelda.
Saat ini, mereka semua sudah berada di kantin sekadar untuk mengisi perut yang keroncongan setelah mendengar penjelasan berbobot pak Untung. Warga kelas MIPA4 harus kehilangan setengah jam setelah bel istirahat berbunyi, itu cuman gara-gara pak Untung enggak mendengar bel istirahat.
Berbeda dengan Karin, gadis itu tidak menghiraukan sekeliling, otaknya masih terus berpikir tenang kejadian pagi itu. Ia bingung, bagaimana bisa seorang pemuda bisa melakukan hal di luar nalar?
Bahkan sampai jam istirahat pun gadis itu masih diam, walau teman-temannya mulai sibuk mencari makanan.
"Hari ini Mbak Tami masak Iga. Gue enggak mau kehabisan. Eh ujung-ujungnya datang ke kantin cuman dapet sayur-sayuran, doang." Imelda merenggut kesal, wajahnya tertekuk beberapa lapis sembari mengaduk-aduk nasinya tidak berselera.
"Udahlah, lo ambil nih punya gue. Itu pun gue dapat paling terakhir. Mau enggak?"
Seketika, mata Imelda berbinar, ia menggagukkan kepalanya sembari menyerahkan satu set alat makan di depan Aldino.
"Tengkyu, so much, Al." Seru Imelda girang. Ia pun melahap makanannya dengan nikmat sedangkan yang lain hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah laku gadis itu.
"Wah gila! God news!" pekik Riri yang mulutnya seperti kaleng rombeng, membuat beberapa siswa lain seketika memperhatikan mereka dengan tanda tanya besar di kepalanya.
Karin terlonjak pelan, suara cempreng milik Riri membuyarkan lamunannya.
"Aish ... Lo kalau ngomong di kira-kira napa? Ini sekolah bukan ranggunan," cibir Karin ketus, gadis itu mengusap-usap telinganya.
"Hehehe ... kaget gue abisnya." Kekeh Riri sembari cengengesan.
"Ada apa sih?" tanya Raka penasaran. Dan yang lain pun menggagukkan kepalanya, serta menunggu Riri berbicara. Namun, yang ditatap malah cengengesan seperti orang tidak berdosa.
"Cie pada nungguin, yah?" serunya. Detik berikutnya, ia mendapatkan jitakan maut dari Luna yang duduk tak jauh darinya.
"Aaiiissshhh ... sakit Mak!" desis Riri sembari mengusap-usap kepalanya.
"Lagian, Lo kalau mau ngasih info jangan setengah-setengah! Cepetan kasih tahu, God news apaan?" cecar Luna tidak sabaran.
Riri menghela napasnya panjang-panjang, ia membuka mulutnya lebar-lebar dan ucapannya mendadak berhenti saat Steven dari arah pintu kantin berseru lantang membuat seisi kantin riuh kegirangan.
"Itu bocah, masuk-masuk ke kantin bikin riuh suasana!" cetus Riri kesal.
Bukan karena gagal memberi tahu informasi ke teman-temannya. Namun, tingkah abstrak-nya itu membuat suasana kantin semakin tak karuan.
"Jadi god news-nya, hari ini free sampai pulang?" Tanya Karin pada Riri untuk memastikan kalau ucapan Steven benar atau salah.
"Yoi, Beib." Sahut Riri mantap.
Setelah menghabiskan waktunya untuk berleha-leha di kantin sembari menyantap makanan penutup. Karin mengundurkan diri untuk pergi ke perpustakaan, ia lupa kalau hari ini waktunya pengembalian buku yang sempat ia pinjam seminggu kemarin.
"Syalala ... dia, dia aku suka. Hemmm..,"
Sepanjang perjalanan, Mayang tak habis-habisnya bergumam lirih, bersenandung mendengar instrumen dari earphone miliknya.
"Yayayaya ... Dia Kusuka, tapi dirimu juga aku suka."
Semakin lama semakin keras suara Mayang, membuat beberapa orang yang sedang asyik mengobrol di depan kelas atau pun sekadar melihat lapangan utama MOCHES. Menatap heran pada Mayang yang tampak asyik menikmati keindahan suara tak bernada itu. Bahkan, tak sedikit dari mereka menutup telinganya saat Mayang menyanyikan lagu dengan nada tinggi sambil matanya terpejam. Sungguh, nikmat yang tiada tara.
"Dia, dia, aku suka. Dan kamuu, aku sukaaaa ... Khukk .. khukk!"
Tak pandai bernyanyi, Mayang terdesak air ludahnya sendiri. Seketika koridor ramai akan suara tawa, melihat aksi Mayang yang sungguh tidak kenal malu. Mayang meringis malu sambil menutupi bagian wajahnya dengan buku novel yang ia bawa dan bergegas pergi meninggalkan koridor itu.
"Dasar dodol Garut yang manis melebihi gulali. Mau taruh di mana muka gue yang imut ini?" Mayang merutuki kebodohannya itu.
Tak mau berlama-lama di koridor, Mayang segera masuk ke dalam perpustakaan yang tak jauh darinya.
Mbak Lala yang sedang merapikan buku-buku ke dalam kardus, terkejut dengan kedatangan Mayang yang tiba-tiba muncul di depannya, mirip hantu jailangkung pikirnya.
"Terkejut Mbak, yang. Kenapa ngos-ngosan gitu?"
Mbak Lala yang selaku petugas perpustakaan tak heran jika ia mengenal Mayang. Orang setiap hari, bahkan setiap detik, Mayang selalu mampir ke perpustakaan untuk mengembalikan buku atau pun meminjamnya.
"Ada kucing garong." Sahut Mayang asal sambil mengatur napasnya yang terengah-engah.
"Ngaco kamu, mah."
Mbak Lala kembali melanjutkan pekerjaannya, ia menata ulang buku yang sudah tak layak baca dengan kata lain, beberapa bab robek dan termakan oleh rayap. Untuk di ganti dengan buku-buku yang baru.
Mayang yang masih menunggu di depan meja Mbak Lala sembari mengetuk-ngetuk meja, seketika Mayang mengerutkan keningnya samar. Netra matanya menangkap siluet seseorang yang ia kenal, walau hanya melihat punggungnya saja.
Mayang sudah melipir begitu saja, meninggalkan buku pinjamannya di atas meja membuat mbak Lala mengelengkan kepalanya melihat tingkah laku Mayang, ia pun kembali melanjutkan pekerjaannya yang memilah-milah buku.
Mayang mengendap-endap, memelankan langkah kakinya. Seringai misterius terpampang jelas di sudut bibirnya saat ini. Mayang menempelkan telunjuknya di bibir saat beberapa siswa dan siswi yang sedang asyik membaca buku menatapnya dengan binggung.
Beberapa orang menggagukkan kepalanya, bahkan tak sedikit pula mereka mengacungkan jempolnya, sebagian lainnya hanya mengangkat bahu acuh, mereka sudah mengetahui sipat jahil Mayang yang kerap terjadi.
Mayang bersembunyi dibalik salah satu rak, sesekali terkikik geli sembari menutup mulutnya. Namun, saat melaksanakan aksinya, ia sendiri yang terkejut saat melihat wajah seorang pemuda berada tepat di depannya, saat ia hendak menoleh ke samping.
"Kamu cantik."
Kalimat itu lolos begitu saja dari bibir pemuda yang sempat Mayang ikuti. Bahkan, sempat menjadi korban kejahilannya.
Mayang mengerjapkan matanya beberapa kali. Detik berikutnya, ia melebarkan matanya sembari menegakkan tubuhnya.
"Rayhan!" pekik Mayang.
Tapi, saat sadar ia masih ada di perpustakaan, Mayang menutup mulutnya sembari menatap kikuk orang-orang yang tampak terkejut mendengar suaranya. Bahkan, Mbak Lala sampai terbentur meja mendengar suara lantang Mayang.
"Maap-maap, gue khilaf." Cetus Mayang pada orang-orang. Kini, netra matanya beralih pada Rayhan yang sedang tertawa kecil. Mayang mendengkus geram.
"Nyebelin!"
"Lagian, lo ngapain ngikutin gue? Jangan bilang lo fans gue?" tanya Rayhan penuh percaya diri, membuat Mayang memutar bola matanya malas.
"Gue fans fanatik lo? Mimpi apa gue semalam? Ih!" ujar Mayang jijik.
Rayhan dengan sengaja menyentil dahi Mayang, membuat si empu meringis kesakitan sambil mengusap-usap jidatnya.
"Jangan di sentil. Jidat gue nanti tambah lebar!" ujar Mayang kesal.
"Jidat kaya lapangan sepak bola aja. Dah sana lo pergi, ganggu gue aja!" usir Rayhan dan ia pun berlalu pergi meninggalkan Mayang yang masih menatapnya dengan geram.
"Sok pinter. Biasanya kerjaan lo molor terus di kelas, mendadak rajin ke perpustakaan. Wah, lo mau ngalahin Raka si juara umum?"
Mayang mengikuti Rayhan dari belakang. Namun, pemuda itu mengabaikan ucapan tak berfaedah dari Mayang.
"Yang, Lo kepo amat sih? Suka-suka gue, yah mau ke perpustakaan ataupun tidur. Asal lo tahu," Rayhan memutar tubuhnya ke belakang membuat Mayang mendadak berhenti sembari mendongak, "sebelum itu dilarang, di dalam UUD RR."
"Mana ada, oncom mendoan!" desis Mayang, "yang benar itu, UUD RI. Bukan UUD RR!"
"Lo enggak tau, singkatan dari UUD RR?"
Mayang melipatkan tangannya di depan dada. "Pertanyaan macam apaan tuh? Anak SD pun tahulah."
"Sok. Apa kepanjangan UUD RR?" ujar Rayhan menantang Mayang. Ia berkacak pinggang sembari menatap lekat wajah Mayang yang tengah tersenyum geli.
"Ngapain senyum-senyum segala? Enggak ada yang lucu, yah."
"Ray, Ray. Otak lo di mana sih? Gini, nih kalau setiap pelajaran sejarah tidur mulu. Nih, gue kasih tau. Kepanjangannya itu, Undang-undang Dasar Republik Indonesia." ejek Mayang.
Mayang tersenyum geli sambil menggelengkan kepalanya. Namun, detik berikutnya ia menutup mulutnya saat mendengar penuturan Rayhan.
"Salah."
"Bagian mananya yang salah? Lo yang salah!"
"Gue nanya, kepanjangan dari UUD RR. Bukan UUD RI, itu mah gue tahu!" cetus Rayhan, pemuda itu menarik napasnya dalam-dalam sebelum kembali berucap, "UUD RR kepanjangan dari, Ucapan Ucapan Rasional Rayhan."
Mayang membulat'kan mulutnya. Gadis itu terkekeh geli mendengar jawaban dari mulut Rayhan yang notebene-nya siswa bandel yang kerap tidur saat pelajaran berlangsung.
"Seterah. Sebahagia lo aja dah," tutur Mayang sembari menepuk-nepuk pundak Rayhan sebelum pergi keluar, menemui Imelda yang sudah menunggunya di kelas.
Rayhan hanya bisa menatap nanar kepergian Mayang. Ia mengeratkan genggaman tangannya pada buku yang ia ambil dan ia sembunyikan saat melihat kedatangan Mayang di belakangnya.
"Dasar cewek jadi-jadian." Kata Rayhan. Ia pun kembali melanjutkan kegiatan yang tertunda gara-gara kedatangan Mayang.
