JoyNovel

Mari Baca dan Kenali Dunia Baru

Buka APP
Istri Kontrak CEO Gay

Istri Kontrak CEO Gay

Penulis:Rossy Dildara

Tamat

Pengantar
“Nona! Berhenti! Aku mohon ... menikahlah denganku dan berikan aku keturunan.” Zayyan Mahendra~ “Bapak ini sudah gila, ya? Dan Bapak pikir hamil itu gampang? Hamili saja kambing kalau begitu!” Naomi Azzamy~ Blurb^^ Demi mempertahankan jabatan dan harta yang dimiliki, Zayyan diharuskan menikah dan mendapatkan keturunan. Namun sayangnya, dia sendiri mempunyai penyakit homoseksual yakni penyuka sesama jenis. Dan saat ini dia juga memiliki seorang kekasih seorang pria bernama Rian. Tak ingin hilang akal, Zayyan pun memutuskan untuk membuat sebuah kontrak pernikahan dengan seorang gadis yang baru saja dia tolong. Namanya Naomi, dan sebuah kesepakatan itu dibuat jika gadis itu diharuskan menikah dengannya dalam jangka waktu satu tahun. Serta harus bisa memberikannya keturunan. Apakah bisa? Entahlah. Lantas, bagaimana lika-liku pernikahan kontrak di antara keduanya? Dan apakah dengan menikahi Naomi, Zayyan dapat berubah? Atau justru tidak. Yuk simak selengkapnya hanya di novel ini~ Jangan lupa follow IG Author juga, karena di sana banyak visual novel @rossy_dildara Novel lain di HotBuku: ~Asisten Pribadi CEO ~Dendam Sang CEO ~Pesona Ibu Susu Anakku
Buka▼
Bab

"Kalau begitu baca dan tanda tangani ini." Zayyan menyodorkan selembar kertas yang dia pegang ke arah Naomi. Dan gadis itu langsung mengambilnya, kemudian membaca.

Beberapa detik saat Naomi membaca, sontak kedua matanya itu melebar sempurna. Antara terkejut dan heran.

Di sana tertera jelas, jika Zayyan ingin membuat kesepakatan kepadanya dengan menjalankan sebuah pernikahan kontrak selama 1 tahun. Dan Naomi diharuskan hamil anaknya serta menyerahkan bayi itu untuknya.

Sebagai kompensasi, Zayyan memberikan uang senilai 195 juta untuk membayar hutang Naomi.

"Apa ini maksudnya? Kontrak pernikahan?" tanya Naomi dengan alis mata yang bertaut, menatap aneh pria di depannya.

"Iya, kita akan membuat kesepakatan dan kamu tinggal tanda tangan saja," jawab Zayyan.

"Tapi aku nggak mau!" Naomi langsung berdiri, lalu menghentakkan kertas beserta pulpennya di atas meja. "Apa-apaan kontrak pernikahan. Memangnya ada, nikah begitu?"

"Kamu harus setuju, mau atau pun nggak mau," ujar Zayyan yang terlihat memaksa. Dia juga ikut berdiri dan langsung mengambil kedua benda tersebut di atas meja.

"Kenapa aku musti setuju? Jangankan pernikahan kontrak, pernikahan asli pun aku tetap nggak mau menikah dengan Bapak!" tegas Naomi.

Tak habis pikir menurutnya, dan terdengar begitu konyol. Kontrak pernikahan? Apakah masih zaman?

"Kalau kamu nggak menuruti permintaanku, kembalikan uangku yang terpakai untuk melunasi hutangmu menjadi dua kali lipat, sekarang juga!" tegas Zayyan, sehingga membuat langkah Naomi yang baru saja bergerak langsung terhenti.

"Apa Bapak bilang?" Naomi menoleh, menatap kesal wajah Zayyan. Tadi, pria itu terlihat seperti malaikat penolong baginya. Tapi sekarang, tidak lagi. "Jadi Bapak nggak ikhlas menolongku tadi? Dan Bapak ingin memanfaatkanku?"

"Terserah kamu mau bilang apa. Yang terpenting sekarang ... kita itu saling membutuhkan." Zayyan perlahan melipat kedua tangannya di atas dada. "Kamu butuh uangku, sedangkan aku butuh kamu. Jadi, ayok kita saling bekerjasama?"

***

Sebelumnya.....

Di sebuah rumah besar dan mewah, seluruh keluarga Mahendra berkumpul di ruang keluarga.

Hari ini, tepat seminggu meninggalnya Kakek Firo Agung Mahendra, seorang pembisnis yang memiliki beberapa perusahaan. Dan seorang pengacara akan mengumumkan jika sebelum beliau wafat, beliau menuliskan sebuah wasiat akan harta dan seluruh peninggalannya. Itu sebabnya, semua anggota keluarganya berkumpul.

"Kita anggap saja seluruh harta Kakek Firo bertotal 100%. Dan masing-masing anak serta cucunya akan mendapatkan bagian," ucap Pengacara Harun, yang berada di tengah-tengah di antara mereka semua.

Kakek Firo memiliki dua anak, yakni yang pertama adalah Firman Mahendra dan Farhan Mahendra, anak kedua.

Firman memiliki seorang anak bernama Zayyan, sedangkan Farhan memiliki seorang anak bernama Zaki.

Kedua pria itu berselisih 7 tahun dan Zayyan jauh lebih tua. Zaki 28 tahun sedangkan Zayyan 35 tahun.

Keduanya memiliki paras yang sama-sama tampan, menurun dari Kakek Firo. Hanya saja dari segi tubuh, Zayyan yang lebih unggul.

Dia tinggi dan cukup kekar karena selalu rajin berolah raga. Namun sayangnya, dia memiliki penyakit homoseksual. Atau lebih mudah kita menyebut penyuka sesama jenis dan gay.

Entah sejak kapan penyakit itu ada, tapi semenjak dirinya mengenal cinta—hanya kepada pria lah dia mampu bernafsu.

Maka tak heran, jika semua mantan Zayyan adalah seorang pria. Dan saat ini pun dia memiliki kekasih yang juga seorang pria, namanya Rian. Yang bekerja sebagai SPG mobil di salah satu perusahaan ternama di Jakarta.

Zayyan sendiri baru sebulan menjadi seorang CEO pada perusahaan manufaktur industri plastik. Perusahaan itu adalah perusahaan milik kakeknya, yang diberikan kepadanya untuk diteruskan.

"30% harta untuk Pak Firman, 20% untuk Pak Farhan, 20% untuk Pak Zayyan, 10% untuk Pak Zaki dan sisanya 20% akan disumbangkan ke panti asuhan," tambah Pengacara Harun menjelaskan. "Tapi di sini tertera—"

"Yang benar saja, masa harta warisanku disamakan dengan Zayyan?" Farhan yang duduk di sebelah kanan Pengacara Harun langsung menatap sengit kepada Zayyan, keponakannya. Terlihat, tak setuju dengan pernyataan yang dibaca oleh sang pengacara itu. Apalagi, Farhan sangat tak menyukai keponakannya itu. "Zayyan itu hanya cucu, sedangkan aku anaknya!" tambahnya sambil menepuk dada.

"Tapi di sini sudah tertulis, dan tidak bisa diganti. Apalagi beliau sudah wafat," jelas Pengacara Harun menatap beberapa lembar kertas yang sejak tadi dia pegang.

"Tapi ini nggak adil!" geram Farhan dengan kedua tangan yang mengepal kuat.

"Sudahlah, Han," sahut Firman sang Kakak, lantas menatap adiknya. Berbeda dengan Farhan yang begitu emosi, dia justru bersikap biasa saja. "Hanya masalah warisan saja kamu sampai marah? Yang penting 'kan kita semua dikasih dan akan lebih baik kita sekarang mendo'akan Papa. Karena dia sudah tenang di sana."

"Kakak bicara seperti itu karena Kakak dapat bagian yang lebih besar!" pekik Farhan sambil menunjuk ke arah wajah Firman. Dia betul-betul terlihat sudah hilang kesabaran. "Selama ini aku diam saja, tapi Papa nggak pernah berlaku adil! Bahkan sampai dia sudah tiada!" tambahnya dengan emosi yang menggebu. Sembari menepuk dada, dia menatap anaknya. Zaki duduk terdiam dengan mata merah. Sama hal sepertinya, dia juga merasa kesal dan tak terima. Tapi memilih diam.

"Lihat Zaki." Menunjuk ke arah anaknya. "Dia seminggu lagi akan menikah, tapi hanya mendapatkan 10% harta warisan dari Kakeknya, apa itu adil, hah?" bentaknya. Sorotan matanya kini beralih kepada Zayyan yang terlihat diam dan bersikap begitu saja. "Sedangkan dia, anakmu ... yang nggak normal itu, mendapatkan warisan 20%. Ini sangat nggak adil!" tambahnya berteriak.

"Berhenti mengatakan aku nggak normal, Om!" Baru sekarang, Zayyan membuka suara. Meskipun dia memang tidak normal, tapi dia paling tidak suka jika disebut tidak normal oleh siapa pun itu. Apalagi gay.

"Kalau nggak normal terus apa?" Farhan berdiri sambil berkacak pinggang. Dagunya terlihat sedikit terangkat kepada Zayyan. "Homo? Gay? Atau justru banci? Bukankah itu sama?" Diakhir dia bicara, Farhan tertawa mengejek. Zaki sang anak pun ikut terkekeh.

"Jaga batasanmu, Han! Kenapa kau kurang ajar sekali!" Alya berdiri dan menunjuk adik iparnya dengan penuh emosi. Dia istri dari Firman dan orang yang selalu tak terima jika anaknya itu dihina. Meskipun dia sendiri mengakui jika memang itu benar adanya.

Alya dan Firman bukan tak mau mengobati serta memberikan solusi untuk penyakit penyimpanan seksual anaknya, tapi sudah beberapa kali apa yang mereka lakukan selalu sia-sia.

Pertama mengajaknya konsultasi ke beberapa dokter, dan yang terakhir menjodohkannya dengan seorang perempuan. Tapi semuanya tidak membuahkan hasil.

Entah karena memang pengobatan dan solusinya tidak ampuh, atau justru memang Zayyannya saja yang tidak mau berusaha untuk berubah. Padahal jika dilihat dari segi penampilan, dia adalah pria yang sangat sempurna.

Banyak juga para wanita yang suka, tapi saat sudah mendengar gosip jika pria itu gay, semuanya langsung berubah. Yang awalnya suka sekarang menjadi benci, bahkan ada pula yang sampai menghinanya habis-habisan.

"Mi, sudah. Apa yang dikatakan Farhan memang benar." Firman yang masih duduk segera menarik tangan istrinya, hingga membuat wanita berusia 51 tahun itu kembali duduk.

"Papi kok malah belain Farhan? Zayyan itu 'kan anak semata wayang kita, Pi!" Alya menatap tajam sang suami. Merasa tak terima, sebab memang Firman sejak dulu tak pernah memihak kepada untuk membela Zayyan.

"Ya 'kan memang benar, Zayyan itu gay. Untuk apa juga kita tutup-tutupi? Toh ... semua orang juga sudah tau."

"Eekhmm ...." Pengacara Harun tiba-tiba berdehem. "Maaf sebelumnya, tapi pembahasan saya belum selesai."

"Apa lagi?" tanya Farhan ketus sambil menatap pria berkacamata di tengah-tengah itu.

"Bapak sebaiknya duduk lagi," pinta Pengacara Harun dengan suara lembut.

Pria arogan itu pun lantas menurunkan tubuhnya untuk duduk di sofa, tempat duduknya semula.

"Ini, kalian tanda tangan penerimaan harta warisnya. Di situ juga tertulis tentang rincian apa saja yang diberikan almarhum Kakek Firo." Pengacara Harun memberikan masing-masing selembar kertas kepada Firman dan Farhan. Kedua pria itu pun langsung membacanya.

"Saya juga lupa untuk sampaikan. Kalau penerimaan harta warisan untuk Pak Zayyan dan Pak Zaki selaku cucu ... itu akan bisa didapatkan kalau masing-masing diantara kalian sudah menikah dalam jangka waktu dua Minggu setelah Kakek Firo wafat. Serta harus memberikan satu keturunan," lanjutnya, kemudian menatap Zayyan dan Zaki bergantian. "Tapi kalau dalam jangka seminggu kalian tidak menikah, otomatis harta warisan itu hangus. Dan bisa diambil alih oleh salah satu dari kalian yang sudah menikah."

***

Selamat datang di novel keempatku di HotBuku. Jangan lupa masukkan ke rak buku dan komentar perbabnya, ya, Guys.

Happy reading, semoga suka~