JoyNovel

Mari Baca dan Kenali Dunia Baru

Buka APP
Mr. Bunglon Bikin Keki

Mr. Bunglon Bikin Keki

Penulis:Nienol

Berlangsung

Pengantar
Marisa dan Peras terlibat pernikahan kontrak akibat dari taruhan yang mereka lakukan untuk sebuah pembuktian tentang pemberantasan korupsi. Namun menjelang pernikahan, Marisa mengalami kecelakaan hingga terjadinya kesalahpahaman diantara mereka. Bagaimana jadinya jika mantan kekasih dari keduanya muncul di saat benih cinta telah tumbuh mengisi jiwa? Pada siapakah hati Marisa akan jatuh?
Buka▼
Bab

Mr & Miss Egois

"Yaelah, ngapain kamu, minggir nggak aku sesak napas, tau." Marisa memukul lengan pria yang sedang menindih tubuhnya.

Peras menghela napas kasar, lalu meletakkan jari telunjuk di bibir. "Mendesah," pinta Peras pelan seraya berbisik tepat di telinganya.

Marisa menahan napas saat mencium napas maskulin dan ia menyadari bahwa tangan Peras kini berada di pinggangnya.

Jantungnya berdetak seperti drum.

Marisa membulatkan matanya, apa pria ini salah minum obat, gila aja dia disuruh mendesah.

"Nggak, bakal aku turuti!" Marisa menendang kaki Peras, sontak lelaki itu meringis kesakitan.

Selimut yang membungkus mereka, untungnya nggak melorot. Peras tidak tahu harus melakukan apa, di malam pertama yang tidak diharapkan ini.

"Ayahmu dan ayah saya lagi ngintip di lubang pintu," ujar Peras menahan diri tidak menjerit kesakitan.

Marisa menolehkan sedikit kepalanya ke arah pintu. Benar saja, dua lelaki paruh baya terlihat saling dorong-dorong untuk melihat mereka bercinta.

Marisa tidak habis pikir, begitu tidak percaya mereka hingga berbuat seperti itu. Sorotan matanya beralih pada Peras yang juga menatapnya dalam.

"Terus, aku cuma desah nggak karuan gitu?" tanya Marisa.

Peras mengedipkan mata, isyarat membenarkan perkataan Marisa. Sontak lelaki itu membuatnya, gagal fokus.

"Kok, kamu sexy banget," gumam Marisa tanpa sadar.

"Jangan pikir aneh-aneh, cepat lakukan!" seru Peras.

Marisa pun melakukannya mendesah tak karuan, layak orang bercinta pada umumnya. Namun, sayang jauh dari ekspektasi lelaki itu hingga dia pun ikut membantu.

"Woy, kamu sinting ! Sakit tau," hardik Marisa keras merasa cubitan pria itu di area pahanya.

"Lagian kamu, mendesah kurang enak didengar gimana gitu...," protes Peras tanpa merasa bersalah.

Marisa melihat Peras dengan sengit. Ya, kali mendesah kenikmatan. Mana dia tahu suaranya gimana?

Merasakan saja nggak pernah!

Ia menepis tangan Peras yang masih nangkring di pahanya. "Terus, anda mau gimana?" Marisa mendadak formal saking kesalnya.

"Ya, kayak beneranlah! Kamu mendesah mirip orang kesurupan, tau nggak, "ujar Peras dengan entengnya.

Waw! Parah nih.

Marisa memasang tampang datar. "Banyak mau, lakuin aja sendiri kalau gitu," ujarnya membuang muka. Ia merasa tersinggung banget dengan perkataan pria itu.

Ketika hendak bangkit, karena lelah berpura-pura. Malah tenggorokan sampai kering malah dikatain mirip orang kesurupan.

Atit!

Namun, dengan cepat Peras mendorong Marisa. "Kau harus tanggung jawab, dong!"

Marisa memandangi Peras bingung. "Kapan saya hamili anda?"

Peras tidak tahu harus berkata apa lagi. Ketukan dari luar menandakan bila itu adalah peringatan dari ayahnya.

"Mendesah!"

Marisa menghembuskan napas lelah. "Aku butuh air. Minggir dulu!"

Peras bergeming bak seonggok patung yang bernapas.

"Kita istirahat dulu, ya. Mana Panas lagi!" Tangan Marisa mengibas wajahnya yang sudah berkeringat.

Peras menghela napas usai memindahkan tubuhnya. "Seharusnya tadi kau melakukannya dengan benar."

"Iya, nanti aku mendesah, deh! Sepuasmu."

Marisa bangkit dan meraih gelas yang ada di meja sebelah ranjang mereka.

Gluk!

Akhirnya dia bisa membasahi tenggorokannya, belum sempat menghabiskan air di dalam gelas.

Peras sudah lebih dulu menariknya.

Pecah gelas pun terdengar.

Bibir tipis Peras menempel padanya, dingin, tapi lembut. Kemudian dia mulai mengerahkan kekuatannya.

Lidahnya tidak mencapai mulut Marisa, tetapi di mata orang, terlihat seolah-olah mereka berciuman dengan begitu agresif.

Saat itu juga, tampak Rassy dan James membuka pintu, sontak pemandangan langkah terpampang jelas di depan mereka.

Sudut mata Marisa sedikit melirik ke sana, tangannya langsung menjepit leher Peras, dengan agak terpaksa dia memperdalam ciumannya.

James dan Rassy yang puas mengambil

gambar putra-putri mereka lalu bergegas keluar dari sana. Tentu untuk memberikan privasi kepada pengantin baru.