JoyNovel

Mari Baca dan Kenali Dunia Baru

Buka APP
Warisan Cinta

Warisan Cinta

Penulis:Craftyfingers

Tamat

Pengantar
Lita adalah wanita muda yang mendapat amanat untuk meneruskan usaha peninggalan keluarga. Sayangnya tidak seluruh anggota keluarga senang dengan situasi tersebut. Sementara Lita belajar untuk mengendalikan usaha, aneka masalah muncul yang mengganggu ketenangannya. Beruntung Lita didampingi oleh orang-orang yang menyayangi dan mendukungnya, baik yang terlihat maupun yang tidak.
Buka▼
Bab

Suara klakson kereta membuatku terkejut dan baru menyadari bahwa kereta sudah sampai di stasiun Sukabumi. Perjalanan selama 3 jam dari Bogor telah lewat tanpa kusadari. Sambil menarik nafas panjang, aku mulai membereskan barang bawaanku dan bersiap untuk turun. Peron stasiun penuh orang, semua sibuk. Aku berjalan ke pintu keluar sambil mencari-cari apakah ada yang menjemputku.

Tepat di depan lapangan parkir, Pak Asep terlihat melambaikan tangan dan bergegas menghampiri. Sudah lama aku tidak bertemu dengannya, dan beliau terlihat kurus dibandingkan terakhir kali aku melihatnya.

“Apa kabar, Non Lita? Sudah lama tidak bertemu ya? Sini saya bawakan kopernya, mobil saya parkir di ujung dekat pintu keluar,” Pak Asep menyapa sambil mengambil koper yang kubawa.

“Kabar baik, Pak. Terima kasih sudah menjemput saya ya? Tadinya saya pikir mau cari mobil sewa,” jawabku.

“Aduh, jangan, Non. Saya kan selalu siap di rumah, daripada sewa mobil harganya mahal.”

Mobil yang dikendarai Pak Asep masih sama seperti 2 tahun lalu saat aku terakhir berkunjung. Tapi kondisinya terawat baik dan bersih. Aku duduk nyaman sambil mengenang kunjunganku yang terakhir. Betapa berbeda suasananya dengan saat ini, pikirku sambil menghela nafas panjang.

Aku dan Papa tinggal bersama Nenek di Sukabumi, dan membantu mengelola usaha perkebunan sayur peninggalan Kakek. Hubungan kami dekat karena hanya tinggal kami berdua sejak Mama meninggal 8 tahun yang lalu karena serangan jantung. Nenek seperti menjadi sosok pengganti Mama untukku, sehingga aku tetap stabil walaupun berduka. Aku pindah dari sana karena kuliah di IPB Bogor, dan pulang setiap kali liburan. Sayangnya tidak lama setelah aku mulai kuliah, Nenek jatuh sakit karena diabetes dan walaupun sempat dirawat cukup lama di RS, akhirnya beliau meninggal dunia. Itu sekitar 4 tahun lalu.

Sebenarnya Nenek memiliki 2 orang anak, yaitu Paman Andri dan Ayahku. Paman Andri dan istrinya, Bibi Dian, serta 2 anak mereka, yaitu Edwin dan Doni, tinggal di Jakarta. Mereka datang setahun dua kali saat Lebaran dan akhir tahun. Mungkin karena itu hubungan kami tidak dekat.

Tidak lama sebelum meninggal dunia, bertepatan dengan libur Lebaran, Nenek mengajak seluruh keluarga berkumpul. Tujuannya adalah Nenek ingin membahas soal pembagian warisan. Notaris yang sejak lama dipercaya Nenek juga hadir. Awalnya kami semua terkejut, tapi Nenek berkeras membahas warisan karena merasa dirinya sudah tua dan sakit-sakitan, sehingga dia harus merapikan semua urusannya agar nanti tidak menyusahkan keluarga.

Pembagian harta yang diatur oleh Nenek, sebenarnya adil. Ayah mendapatkan rumah Nenek dan ladang sekitarnya, sambil melanjutkan usaha perkebunan yang sudah dijalani. Sedangkan Paman Andri mendapatkan tanah Kakek yang cukup luas, yang dipersilahkan untuk dijual jika diinginkan. Mengingat mereka tinggal di Jakarta sedangkan tanah warisan Kakek berada di Sukabumi. Menurut perhitungan Notaris, nilainya kurang lebih sama dan dipandang adil buat semua. Kami para cucu masing-masing mendapatkan tabungan yang ditujukan untuk membantu biaya kuliah. Sementara para karyawan yang sudah lama dan berhubungan dekat juga mendapatkan sedikit kenangan, selain yang sudah mereka terima selama ini dari Nenek dan Papa.

Awalnya semua menerima dengan baik. Tapi entah kenapa, keesokan paginya Paman bertengkar dengan Ayah karena warisan itu. Aku dan kedua sepupuku kebetulan tidak dirumah karena sejak pagi pergi ke kebun, tapi saat pulang untuk makan siang, Paman dan Bibi sedang berkemas untuk kembali ke Jakarta dan kedua sepupuku terpaksa ikut pulang. Ayah dan Nenek terlihat emosional dan sedih, tapi tidak berusaha menahan mereka. Aku mencoba bertanya tapi baik Ayah maupun Nenek tidak mau menjelaskan masalahnya, dan aku tidak berani mendesak.

Tapi tidak lama setelah peristiwa itu, Nenek jatuh sakit. Dan hanya sekitar sebulan kemudian, Nenek meninggal dunia. Paman dan keluarga bahkan tidak datang saat pemakaman. Hanya Papa dan aku, beserta karyawan, rekanan dan para tetangga yang hadir. Sejak saat itu, Papa yang mengelola usaha peninggalan Kakek. Papa sendiri sebenarnya juga memiliki penyakit paru-paru menahun, namun masih dikontrol oleh Dokter. Untuk membantu pengelolaan usaha, Pak Asep yang sudah sejak mudanya bekerja dengan Nenek, diberikan kewenangan untuk menangani bagian operasional. Bagian keuangan dan lainnya ditangani oleh Notaris kepercayaan Nenek, yang sekaligus berfungsi sebagai konsultan keuangan usaha Nenek.

2 tahun lalu, saat terakhir aku berkunjung ke Sukabumi, saat itulah Papa mulai sakit parah. Seminggu setelah aku sampai, Papa terpaksa di rawat RS. Dan seminggu kemudian, beliau meninggal. Saat pemakaman Papa, keluarga Paman juga tidak ada yang hadir. Sejak itu, aku belum kembali lagi ke Sukabumi sampai hari ini setelah semua urusan perkuliahanku selesai.

“Non, mau langsung pulang ke rumah atau mau mampir dulu? Barangkali ada yang mau dibeli atau apa? Kalau makanan sih sudah disiapkan istri saya, tapi barangkali Non mau belanja sesuatu?” pertanyaan Pak Asep membuyarkan lamunanku.

“Tidak, Pak, terima kasih. Saya ingin langsung pulang saja. Kalau Ibu sudah menyiapkan makanan, saya tidak perlu belanja lagi,” jawabku.

Perjalanan ke rumah Nenek

aku masih menganggapnya begitu

masih akan memakan waktu sekitar 45 menit lagi jika tidak macet. Karena lokasinya memang agak ke pedalaman, daerah yang masih hijau dengan perkebunan dan sawah yang berfungsi baik. Untungnya Internet sudah sampai ke sana, kalau tidak, wah rasanya seperti mundur ke waktu lampau.

Sepanjang perjalanan, Pak Asep tidak banyak bicara, mungkin tidak ingin menggangguku yang terlihat diam. Tapi beberapa kali aku dengan sengaja menanyakan lingkungan yang kami lewati, sudah banyak perubahan, terlihat sudah lebih padat, dan sepanjang perjalanan, sudah banyak usaha kecil dan pasar dadakan. Walaupun masih dominan perkebunan karet, kebun sayur dan sawah.

Aku jadi berpikir, apa kabarnya rumah Nenek ya? Selama ini aku tidak pernah datang, hanya sesekali menelpon pak Asep untuk menanyakan kabar. Usaha warisan Kakek yang sebelumnya dipegang Papa, sekarang dilanjutkan oleh pak Asep dan keluarganya. Karena Nenek sudah mengatur pembagian keuntungan dan aku tidak perlu mengurusi. Pengawasan dilakukan oleh Notaris yang ditunjuk Nenek. Aku hanya mendapatkan laporan dari Notaris dan keuntungannya disimpan di Bank sepeti biasa.

Saat ini, aku merasa seperti tidak tahu apapun. Malu juga sebenarnya, karena seolah aku tidak peduli. Tapi kesibukan kuliah dan rasa duka yang berhubungan dengan Papa dan Nenek, cukup membuatku segan untuk terjun langsung. Dengan rencanaku sekarang untuk kembali ke sana, bukankah seharusnya aku mulai mencari tahu ya? pikirku sambil menghela nafas panjang.

“Pak, rumah Nenek, selama ini apakah ada yang menghuninya? Sejak Papa tidak ada dan saya di Bogor? tanyaku.

“Tidak ada, Non. Cuma tiap minggu tetap dibersihkan supaya tidak rusak. Tidak ada yang berani tinggal di rumah Non, toh kami sudah diberikan rumah sendiri sama almarhum Ibu

panggilan untuk Nenek bagi semua karyawan

. Rumah dan isinya tidak ada yang diubah, Non. Tapi kalau nanti Non mau berbenah, istri saya siap membantu. Mungkin banyak barang yang tidak sesuai lagi untuk generasi Non,” jawab pak Asep.

Aku hanya bisa menghela nafas dan tidak menjawab. Sejujurnya aku agak segan kembali pulang, karena pasti sendirian di sana, tidak ada Papa atau Nenek. Mau apa disana sendirian, pikirku. Tapi aku sudah pernah berjanji untuk kembali pulang setelah selesai kuliah, untuk meneruskan usaha yang sudah berjalan ini. Dan aku juga tidak punya rencana lain. Paling tidak, belum punya.

Sesuai perkiraan, sekitar satu jam kemudian kami sampai. Dan dengan terkejut aku berpikir, inikah rumah Nenek?