JoyNovel

Mari Baca dan Kenali Dunia Baru

Buka APP
Kekasih Persimpangan Jalan

Kekasih Persimpangan Jalan

Penulis:Endin Haifa Dewinda

Tamat

Pengantar
Dendi terus menunggu kekasihnya di persimpangan jalan itu, jika gelap sudah mulai datang Dendi akan meletakan sepotong bunga dan sebatang cokelat. Jika pagi datang bunga dan cokelat tersebut sudah hilang, Dendi begitu girang karena menandakan kekasih hatinya masih berada di sekitarnya. Namun, Dendi sering bingung mengapa kekasihnya tersebut tidak mau menemuinya dan kenapa keluarganya sangat murka ketika Dendi datang ke rumahnya? Apakah yang sebenarnya terjadi?
Buka▼
Bab

Langit masih seperti sore kemarin tetap gelap dan mendung, jalanan masih tetap basah sisa hujan malam kemarin. Pagi ini tidak seperti biasanya terasa lembap beradu dengan aroma bau jalanan basah yang khas. Waktu berdenting menunjukan pukul 06.00, jalanan masih sepi dan orang-orang masih berada di balik peraduannya yang hangat, tetapi tidak begitu dengan Dendy. Dia sudah harus bangun pagi buta lebih tepatnya dia tidak harus bangun, ya karena seperti biasa dia harus selalu terjaga semalaman. Sejak, kecelakaan setahun yang lalu semua membuat kehidupan Dendi sangat berubah drastis bahkan ia merasa menjadi Dendi yang lain. Menjadi Dendi yang tidak lagi bergaul dengan teman-temannya seperti dulu, ia bahkan menyadari hal itu tetapi tidak bisa melawan apa yang terjadi pada dirinya.

Kecelakaan itu membuat Dendi tertinggal oleh dunia-dunia luar, termasuk teman-temannya yang ini menjauhi Dendi karena sifat anehnya tersebut. Bahkan, tak jarang ada yang menyebut Dendi adalah seorang jelmaan, ada yang menyebutnya pula wajah psikopat. Hal itulah yang membuatnya enggan keluar, karena Dendi tidak bisa mengendalikan apa yang ada dalam dirinya sekarang. Dendi juga kadang mendengar seperti bisikan-bisikan aneh yang membuat ia harus melakukan apa yang diperintahkan oelh bisikan tersebut, Dendi tak mampu menahan perintah tersebut. Bahkan, ia pernah tiba-tiba langsung ke tengah jalan saat jalanan ramai, hampir saja untuk yang kedua kalinya ia akan mengalami kecelakaan untung banyak warga yang sigap menolongnya.

Keluarga Dendi juga sudah berupaya semaksimal mungkin untuk pengobatan Dendi, dari mulai dibawa ke psikiater, ruqyah, hingga dibawa ke orang yang katanya pintar. Tetapi, itu semua tak membuahkan hasil malah semakin memperparah keadaan Dendi. Keluarga Dendi sudah sampai pada titik akan mengobati Dendi dengan kasih sayang yang diberikan keluarganya.

Mama Dendi mengetuk pelan kamar Dendi dengan maksud membangunkan Dendi, belum sampai pada ketukan kedua tiba-tiba Dendi keluar kamar dengan kantung mata yang menghitam dan rambut acak-acakan, Mama Dendi sempat kaget dibuat olehnya dan berusaha tenang , Dendi hanya tersenyum tipis dan langsung berlalu meninggalkan mamanya di depan pintu.

Ya, Mama Dendi berusaha tegar ketika di depan Dendi walau sebenarnya di lubuk hatinya merasa sangat sakit dan merindukan putranya yang dulu begitu manja dan keras kepala.

“ Kamu, nggak mau sarapan dulu den. Itu lo mama udah buatin sop ayam kesukaan kamu,” kata Mama Dendi sambil mengusap kepala Dendi.

“nggak mah Dendi masih kenyang,” jawab Dendi dengan tatapan sayunya.

Mama Dendi sering heran darimana Dendi bisa kenyang, padahal dia tidak pernah melihat Dendi makan di rumah sejak kecelakaan itu. Pernah sekali dua kali makan, itu juga Mama Dendi memaksa dnegan penuh harap. Semakin hari kelakuan Dendi semakin aneh, kadang melotot seperti melihat hal yang menakutkan kadang juga menggertakan giginya sampai terdengar bunyi yang ngilu. Dendi selalu tidak mau menjawab ketika ditanya kenapa ia begitu, apakah ada sesuatu hal yang mengganggunya?

Setiap pagi Dendi selalu pergi ke persimpangan jalan di ujung komplek rumahnya, di sana ia hanya berdiri mematung sampai gelap datang. Tidak ada hal yang dilakukan, hanya menatap jalan persimpangan dengan penuh kesedihan dan iba, Dendi juga masih tidak tahu kenapa ia melakukan aktivitas aneh ini semua.

Persimpangan jalan itu adalah saksi bisu Dendi mengalami kecelakaan hebat itu, tidak ada yang Dendi ingat selain motornya yang menabrakan sesuatu yang sampai sekarang dia tidak tahu apa itu. Rumah Dendi sendiri berada di tengah-tengah persimpangan jalan tersebut, orang-irang biasa menyebutnya dengan rumah tusuk sate. Konon katanya, rumah tusuk sate bisa menjadikan penghuni di dalamnya akan mengalami kesialan.

Ya, memang sebelum kecelakaan itu Dendi sempat beberapa mengalami keganjilan di dalam rumahnya tersebut. keganjilan yang menurutnya sangat aneh dan tidak bisa diterima oleh nalar. Kisah tak masuk akal tersebut dimulai dari waktu Dendi mausk bangku perkuliahan di tahun 2019.

Saat itu Dendi akan masuk tahun pertama untuk perkuliahannya, seperti pada umunya masuk awal kuliah pasti ada beberapa kebutuhan yang harus dibawa untuk menjalani OSPEK. Malam sebelumnya tidak tahu mengapa malam itu benar-benar sunyi dan dingin, hal itu membuat Dendi sangat mengantuk dan berniat untuk mempersiapkan semuanya esok hari.

Sepanjang malam itu Dendi sangat lelap sekali, tiba-tiba Dendi terbangun dan dengan kagetnya Dendi melihat jam sudah pukul 08.00.

“ ahh, sial bangun kesiangan alarm nggak bunyi sama sekali”, gerutu Dendi dengan kesal.

Dendi langsung lompat dari tempat tidurnya dan dengan tergesa-gesa mempersiapkan apa saja yang harus dibawa pada hari itu, tetapi belum sampai selesai memeprsiapkan. Dendi melihat tumpukan peralatan dan kebutuhan yang harus ia bawa di atas meja belajarnya, Dendi bingung kenapa sudah siap semua padahal Dendi merasa belum mempersiapkannya.

“paling mama nih yang nyiapin, the best emang mama”, gumam Dendi sambil tersenyum lebar.

Setelah tahu semuanya siap Dendi segera mandi, ganti baju, dan langsung turun tangga untuk menyapa mamahnya.

“ mahhh “, teriak Dendi memanggil mamahnya.

Seketika hening tidak ada jawaban dan Dendi pun berteriak lagi dengan pikiran mamanya masih di dalam kamar.

“ Ma, makasih ya udah nyiapin. Dendi lupa semalem hehe”, kata Dendi.

“ iyaa sama-sama nak,” jawab Mama Dendi dengen datarnya.

“ Ya udah, Dendi berangkat dulu ya udah telat nih,” teriak Dendi satu kali lagi.

Tetapi mamanya tidak menjawab pada saat itu, Dendi langsung keluar dan melihat ada secarik kertas di depan pintu “Dendi, mama sama papa malam ini pergi ke Om Burhan ya karena istrinya meninggal. Maaf mama nggak bisa bantu nyiapin buat persiapan Kamu besok”. Selesai membaca kertas itu, Dendi sangat kaget dan langsung lari terbirit-birit meninggalkan rumahnya.

Sepanjang jalan Dendi terus berpikir siapa yang menyiapkan semuanya dan siapa juga yang menjawab pertanyaan Dendi pagi tadi yang mana suaranya sangat mirip dengan ibunya. Enggak mungkin kan ada hantu di rumahnya yang sudah ditempati Dendi sejak kecil itu. Tidak terasa Dendi sudah sampai di kampusnya, ya ia segera mengikuti OSPEK yang diadakan di kampusnya tersebut. Dari pagi hingga sore kegiatan tersebut berlangsung, hal itu membuat Dendi agak melupakan kejadian tadi pagi.

Hingga sore tiba, kegiatan OSPEK dibubarkan dan Dendi pulang bersama teman-teman barunya. Tidak ada yang spesial ataupun aneh dari kegiatan tersebut semuanya berjalan lancar. Dendi pun sudah sampai di depan komplek rumahnya, ia segera berjalan menuju rumahnya dan langsung membuka pintu rumah.

“ Assalamualaikum,” teriak Dendi dengan was-was.

“Waalaikumsalam,” jawab seseorang dari dalam rumahnya.

Keringat Dendi bercucuran, Dendi sangat takut untuk melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah. Tetapi, tiba-tiba ada sosok memakai gamis dan jilbab yang menghampiri dirinya.

“ Kok, nggak masuk sih. Kamu pasti capek kan? “, kata Mama Dendi dengan lembut.

“ Ini benar Mama kan? Benar Mama Dendi kan ?, kata Dendi dengan ketakutan.

“ Laiya ini mama lo, Kamu kenapa sih? Nggak lucu ih bercandanya,” jawab Mama Dendi.

“ Hehe nggak mah, tak kira tadi bidadari turun darimana gitu”, jawab Dendi berusaha menenangkan diri.

“ Bisa aja nih anak mama, udah yuk masuk ditungguin papa tuh,” kata Mama Dendi sambil menarik tangan Dendi.

Selesai makan bersama dengan keluargnya Dendi langsung masuk kamar dan merebahkan tubuhnya sebentar. Lalu ia pergi mandi, tiba-tiba di dalam kamar mandi Dendi kepikiran lagi dengan kejadian pagi itu. Seketika Dendi merasa merinding dan ketakutan sendiri, akhirnya Dendi segera mengakhiri kegiatan mandinya dan langsung pergi ke kamarnya.

Belum hilang rasa takutnya, tiba-tiba Dendi dikagetkan dengan tumpukan baju di atas kasurnya yang rencananya akan ia pakai akan tidur. Dendi belum merasa mengeluarkan dari dalam lemarinya, namun Dendi berusaha berpikiran positif bahwa mamanya yang mempersiapkan semuanya.

“ Wah, makasih nih udah nyiapin baju buat aku. Tahu aja aku mau paai baju ini hehe,” gumam Dendi dengan nada bercanda sambil ketakutan.

Karena saking capeknya Dendi memutuskan untuk merebahkan badannya dan meluruskan kedua kakinya sambil berpikir tentang kejadian aneh hari ini. Saking lamanya berpikir, Dendi terlelap tidur di balik terangnya bintang dan indahnya bulan malam ini.