"Mak, Suci kapan bisa sekolah seperti Kak Dita?" Gadis kecil dengan rambut kepang dua itu bertanya pelan, takut mengganggu pekerjaan ibunya yang sedang menanak nasi. Ia masih berdiri di sisi kanan meja sambil terus memperhatikan kegiatan emak, sementara yang ditanya justru belum menjawab dan sibuk sendiri dengan pekerjaannya.
Emak beranjak menuju lemari penyimpanan bahan makanan, ia mengambil satu papan tempe untuk diolah sebagai menu makan siang hingga makan malam nanti, sedangkan pagi hari mereka tidak sarapan, hanya meminum masing-masing segelas teh tawar hangat saja. Begitulah rutinitas pagi mereka bertiga.
"Mak, kapan Suci bisa sekolah seperti Kak Dita?" Suci bertanya lagi. pikirnya, barangkali emak lupa atau tidak mendengar pertanyaannya sebelum ini. Emak menyimpan tempe yang baru di potongnya di atas meja dekat Suci berdiri. Lalu, matanya mulai fokus kepada anak bungsunya itu.
"Emak enggak punya uang, untuk biaya Dita sekolah saja syukur-syukur masih ada gaji bulanan kerja di toko sembako milik Ibu Marni," jawab emak seadanya.
"Tapi Suci juga pengen sekolah seperti Kak Dita dan teman-teman." Suci menunduk, enggan mengangkat kepala, sebab ada cairan mengembun di kedua sudut mata, ia tidak mau emak melihat bahwa dirinya hendak menangis, Suci bukan gadis cengeng.
"Kamu itu anak kedua, enggak guna juga kalau sekolah. Lebih baik uangnya emak gunakan buat sekolah Dita, kakakmu itu pintar dan sering dapat beasiswa. Anak pertama sebagai tulang punggung keluarga, sementara kamu? Jika bersekolah hanya merepotkan saja!" tukas emak langsung beranjak kembali untuk menggoreng tempe.
Suci terdiam di tempatnya berdiri, rasa sedih kembali menyelimuti hati gadis kecil berusia sepuluh tahun itu. Seharusnya tahun ini ia sudah duduk di kelas empat SD. Ya, seharusnya, jika saja Suci bisa bersekolah.
Memang benar kata emak, Dita anak yang pintar, dia sering pendapat peringkat pertama dan kedua di kelasnya, juga kerap memperoleh beasiswa akibat keenceran otaknya. Sementara Suci? Bahkan belum tentu bisa seperti Dita, membaca dan menulis saja dia masih belajar tertatih, apalagi menghitung dan sebagainya, Suci pasti kewalahan sendiri.
Dita anak pertama, dia lebih cantik dari Suci, kulitnya putih bersih dengan rambut hitam panjang dan kedua bulu mata lentik yang menambah kesan menarik pada dirinya. Sementara Suci? Kulitnya sawo matang selayak gadis Indonesia pada umumnya, rambut hitam sebahu yang sering acak-acakan karena tidak terurus, serta baju-baju yang dikenakannya selalu terlihat lusuh.
"Kamu masih kecil, pakai saja sisa kakakmu," kata emak setiap kali Suci bertanya mengapa ia tidak pernah mendapat baju saat lebaran. Emak bilang karena tidak punya uang juga, tetapi Dita tetap dapat jatah baju baru tiap lebaran. Dari mana emak dapat uangnya?
Suci tidak ingin larut dalam kesedihan, mungkin memang harus mengalah demi kakaknya, apalah dia dibandingkan dengan Dita.
"Ci! Ambil baju kotor dan lekas cuci di sumur!" teriak emak yang sedang mengambil piring untuk menyimpan makanan. "Iya!" sahutnya. Bergegas Suci menghapus cairan yang sempat mengembun tadi, tidak ingin emak mengetahui bahwa dia hampir saja menangis.
Suci mengambil pakaian kotor yang sudah terkumpul banyak, emak meletakkannya di ember besar dekat bilik kamar mandi. Kaki kecilnya berjalan cepat akibat beban terlalu berat, supaya lekas sampai di sumur belakang tempat biasa mencuci baju, mencuci piring, dan tempat menimba air untuk diisi di dalam bilik kamar mandi sana.
Mulailah Suci berkutat dengan banyaknya pakaian kotor, gadis kecil itu menyenandungkan lagu anak-anak yang diajarkan Dita kemarin malam, mereka tidur dalam satu bilik kamar sehingga dengan mudah Suci meminta kepada kakaknya untuk diajarkan membaca, menulis, berhitung atau bernyanyi.
Mencuci pakaian banyak seperti ini bukan lagi masalah besar bagi Suci, setiap tiga kali seminggu dirinya tetap berkutat dengan cucian menggunung. Baju milik emak, Dita, dan baju dirinya sendiri. Selesai membilas dan menyimpan kembali baju dalam ember besar tadi, Suci lekas mengambil ember yang berukuran lebih kecil agar bisa membawanya menuju tempat menjemur yang letaknya agak samping dari sumur yang dia gunakan barusan.
Letaknya sama-sama di bagian belakang rumah. Asyik saja Suci mengerjakan pekerjaan, sampai-sampai terlupa jika matahari telah beranjak naik dan makin terik saja, terlupa juga jika sedari pagi dia hanya mengisi perut dengan secangkir teh tawar hangat.
Suci lupa, tadi pagi ada sebungkus roti bertengger indah di atas meja makan, ia ingin mengambilnya untuk sarapan, tetapi emak datang dan melarang.
"Itu buat Dita! Dia tidak boleh pergi sekolah dengan perut kosong. Kamu makan nanti saja," kata emak pagi tadi. Suci mengangguk saja, sambil terus melihat bungkusan roti yang terlihat enak itu. Beruntung sekali Dita bisa memakannya.
***
Semua sudah selesai Suci kerjakan, ia menyimpan kembali ember yang digunakan untuk mencuci. Perutnya telah mengeluarkan bunyi, baru saja ingin membuka lemari makanan, emak datang dengan wajah masam dan menegur Suci.
"Sapu rumah dulu baru makan! Seenaknya aja, daritadi tidak punya kerjaan, ingin bertindak seperti ratu saja kamu ini!" tukas emak membuat Suci menghentikan aktivitasnya.
"Cepat! Sana sapu dulu baru bisa makan!" lanjut emak lagi. Suci mengangguk dan bergegas mengambil sapu di pojokan. Emak terlihat duduk di kursi sambil menghitung uang, sepertinya emak sudah dapat gaji dari ibu Marni hari ini.
Suci menyelesaikan tugasnya, setelah benar-benar dirasa bersih dirinya langsung menyimpan kembali sapu dan pergi menuju tungku arang, tempat emak menyimpan nasi hasil menanak pagi tadi. Dia mengambil piring dan mengambil nasi, lalu menutup kembali tempat nasi barusan.
Suci membawa piring berisi nasi ke lemari penyimpanan makanan sebagai tempat untuk menyimpan lauk nanti. Saat lemari sudah dibuka, Suci menemukan sepotong ayam goreng di sana, dia menerbitkan sebuah senyum merekah sempurna.
Lekas saja dia mengambil ayam itu dan dimasukkan dalam piringnya, dengan hati riang Suci duduk di kursi dan meletakkan piring makanannya di atas meja. Emak masih di sana, saat tak sengaja melihat sepotong ayam di piring Suci, beranglah hati emak. Dia menatap Suci dengan tatapan tak suka.
"Ayam dari mana itu?" tanya emak, membuat Suci menoleh. "Dari lemari," jawab Suci.
"Itu milik Dita! Mengapa kamu mengambil milik kakakmu?" Berang sekali emak kelihatannya.
"Suci enggak tahu."
"Sekarang sudah tahu, 'kan? Cepat simpan kembali sebelum Dita pulang!" tegas emak pada Suci.
"Terus Suci makan pake apa?"
tanya gadis kecil itu pelan, menunduk.
"Kamu makan pakai tempe! Kakakmu enggak bisa makan tempe, dia alergi. Mengertilah, Suci," tutur emak kemudian.
Suci menatap nanar potongan ayam yang seharusnya sudah masuk dalam perutnya, tetapi nahas, ternyata ayam itu milik Dita dan dia tidak boleh mengambil milik Dita tanpa seizinnya. Jadilah Suci mematuhi perkataan emak untuk menyimpan kembali ayam itu, lalu mengantinya dengan lauk tempe goreng.
Emak pergi, selepas melihat Suci menaruh kembali potongan ayam milik anak sulungnya, entah pergi ke mana emak. Suci duduk dan melahap makanan miliknya. Suap demi suap seolah tercekat di tenggorokan, ada gelinyar aneh menelisik pelan di hati Suci, embun pagi tadi ternyata kembali hadir di kedua sudut matanya.
Tidak, Suci tidak boleh menangis, dia bukan gadis cengeng. Namun, dia tidak bisa, luruhlah cairan memanas itu dari matanya. Suci terisak dalam diam, memasukkan nasi dalam mulut sambil menangis. Dalam pikirannya, pasti enak sekali menjadi Dita, bisa makan lezat dan bisa bersekolah. Andai dirinya bisa seperti itu.
Ah, andai.
Itu hanya harapan klise dari Suci. Mana mungkin dia bisa menyerupai Dita?
***
