JoyNovel

Mari Baca dan Kenali Dunia Baru

Buka APP
Kembalinya Prajurit Naga

Kembalinya Prajurit Naga

Penulis:Saat Terbangun Dari Maut

Tamat

Pengantar
Setelah pertempuran bersama Tantri sang naga, Senna diutus untuk sebuah perjalanan yang sangat penting menjelajah Pinotree dan mencari pamannya di Menara Morgan yang misterius. Telah tiba waktunya bagi Senna untuk mencari tahu siapa dirinya yang sebenarnya, siapakah ibunya, dan untuk berlatih serta meningkatkan kekuatan ajaibnya. Perjalanan seorang diri itu akan menjadi sebuah pencarian yang penuh dengan mara bahaya bagi seorang gadis sepertinya, lantaran Pinotree penuh dengan ancaman dari hewan buas maupun penjahat. Semua itu adalah sebuah perjalanan yang akan menguji seluruh kemampuannya untuk tetap bertahan hidup. Boneto, ayahnya, harus memimpin pasukannya ke selatan, menuju ke kota apung yang besar bernama Pinotree, demi membebaskan kawan-kawan seperjuangannya dari tahanan Velove. Jika ayahnya berhasil, maka ia harus menempuh perjalanan melewati Danau Lone yang berbahaya dan mendaki puncak gunung yang berselimut salju, tempat berdiamnya seorang prajurit Pinotree yang paling tangguh, seseorang yang ia butuhkan demi merebut ibu kota. Leon melarikan diri bersama Marcell dari Benteng Api, Mark berdua melewati dan diburu oleh hewan-hewan buas. Malam itu adalah malam yang sangat mengerikan dalam perjalanannya pulang ke desanya, demi berkumpul kembali bersama keluarganya. Saat ia tiba, ia terkejut karena mendapati apa yang dilihatnya. Setelah menimbang-nimbang dengan matang, Mereka pun kembali lagi untuk menolong gadis itu, dan untuk kali pertama dalam hidupnya, ia melibatkan diri dalam urusan orang lain. Ia tak berencana menunda perjalanannya mencari Menara Morgan, namun ia kecewa melihat betapa menara itu tak seperti bayangannya selama ini. Venon terus mendera raksasa itu tatkala ia memimpin para Troll menggali terowongan untuk menyusup ke Benteng Api, sementara Tantri sang naga menjalani misinya sendiri di Pinotree. Ini adalah sebuah hikayat besar para ksatria dan pejuang, tentang para raja dan bangsawan, tentang kehormatan dan keberanian, tentang keajaiban, takdir, siluman dan para naga. Ini adalah sebuah kisah tentang cinta dan hati yang remuk redam, tipu muslihat, ambisi dan pengkhianatan. Inilah puncak dari sebuah kisah fantasi, yang mengajak kita masuk ke sebuah alam yang akan terus kita selami, kisah yang memikat pembaca dari segala umur dan jenis kelamin.
Buka▼
Bab

Senna berdiri di puncak sebuah bukit kecil berumput, pada tanah beku di bawah sepatu bot miliknya. salju turun di sekelilingnya dan ia mencoba mengabaikan dingin yang menggigit saat ia menyiapkan busur lalu membidik sasarannya. Ia picingkan matanya, ia lupakan segala sesuatu.

—desiran angin, suara gagak di kejauhan—

Memaksa dirinya untuk hanya menatap pohon birch yang kurus di kejauhan, putih pucat warnanya, tegak menjulang di antara deretan pohon pinus sewarna lembayung. Duapuluh depa adalah jarak memanah yang terlalu sulit bagi saudara-saudara laki-lakinya, bahkan bagi para anak buah ayahnya, dan itulah yang membuat tekad Senna makin teguh sebagai anak bungsu dan satu-satunya gadis di antara saudara-saudaranya.

Senna tak pernah merasa cocok. Sebagian dari dirinya tentu saja ingin menjadi seperti harapan orang akan dirinya dan menghabiskan waktu seperti layaknya gadis-gadis lainnya, yaitu mengurus pekerjaan rumah. Namun jauh di lubuk hatinya, ia merasa bahwa dirinya bukanlah gadis seperti itu. Ia adalah seorang anak perempuan dengan semangat pejuang, mirip seperti ayahnya, dan ia tak sudi terkungkung di balik kokohnya tembok benteng pertahanan mereka, ia takkan mau hanya berdiam diri di rumah. Ia adalah pemanah yang lebih hebat daripada seluruh lelaki di sana. Memang, ia bahkan lebih unggul daripada pemanah terbaik anak buah ayahnya dan ia akan melakukan apa pun demi membuktikan kemampuannya pada mereka, terutama pada ayahnya, bahwa ia layak diperhitungkan. Ia tahu betapa ayahnya sangat menyayanginya, namun ayahnya tak akan menganggapnya lebih dari seorang anak perempuan.

Senna berlatih keras di padang Teana, jauh dari bentengnya, itulah tempat yang sesuai baginya, karena sebagai satu-satunya gadis di dalam benteng yang penuh dengan pasukan, ia harus berlatih seorang diri. Tiap hari ia selalu menyendiri ke padang itu, ke tempat kesukaannya di puncak dataran tinggi yang menghadap ke dinding batu yang menjulang, tempat ia bisa mencari pohon yang tepat, yaitu pohon kurus yang sulit dibidik. Bunyi hentakan anak panah yang menancap di sasarannya bergema di seluruh desa, tak satu pun pohon yang luput dari anak panahnya, batang-batangnya terkoyak, dan beberapa pohon lain bahkan hampir ambruk.

Senna tahu bahwa sebagian besar pasukan pemanah ayahnya berlatih membidik tikus yang berkeliaran di padang itu, dan saat ia memanah untuk kali pertama, ia mencobanya juga dan dapat membidik tikus-tikus itu dengan cukup mudah. Namun hal itu membuatnya muak. Ia memang pemberani, namun sekaligus perasa, dan ia benci membunuh makhluk bernyawa tanpa tujuan. Sejak saat itu ia bersumpah tak akan membidik sasaran makhluk bernyawa lagi—kecuali jika makhluk itu membahayakan dirinya atau menyerangnya, seperti Wolfer yang muncul di malam hari dan terbang terlalu dekat dengan benteng ayahnya. Ia tak segan-segan membunuh makhluk semacam itu, apalagi setelah Marco, adiknya laki-laki, tergigit oleh Wolfer dan menderita sakit selama dua pekan. Selain itu, Wolfer adalah makhluk dengan gerakan tercepat, dan ia yakin apabila ia dapat memanahnya, apalagi di malam hari, maka ia dapat memanah apa pun. Suatu kali, ia menghabiskan sepanjang malam saat bulan purnama, memanah makhluk-makhluk itu dari menara benteng, dan keesokan paginya ia bergegas penuh semangat menghitung Wolfer yang sekarat jatuh ke tanah, dengan anak panah yang masih menancap di tubuh mereka, dan orang-orang di desa berkerumun dan melihatnya dengan wajah terkesima.

Senna berkonsentrasi sekuat tenaga. Ia membayangkan bidikan itu di dalam mata batinnya, merentangkan busur, dengan cepat menarik talinya hingga ke dekat dagunya dan melepaskannya secepat kilat. Ia paham bahwa bidikan yang sesungguhnya itu terjadi sebelum ia melesatkan anak panahnya. Ia telah melihat banyak pemanah seusia dirinya, sekitar empat belas tahun umurnya, menarik tali busur dengan ragu-ragu—dan ia tahu bahwa bidikan mereka pasti akan meleset. Ia mengambil nafas dalam-dalam, mengangkat busurnya, dan dalam satu gerakan mantap, ditariknya tali busur lalu dilesatkannya anak panah. Ia bahkan tak perlu memeriksa apakah bidikannya berhasil mengenai pohon sasarannya.

Sejurus kemudian ia mendengar bunyi anak panah itu menancap mengenai sasarannya—namun ia telah berpaling menghadap sasaran selanjutnya, yang letaknya lebih jauh.

Senna mendengar dengkingan di dekat kakinya dan matanya menatap Leo, serigala miliknya, berjalan di sisinya seperti biasa, lalu menggesekkan badan di kaki Senna. Leo, seekor serigala dewasa dengan badan hampir setinggi pinggangnya, sangat melindungi Senna seolah-olah Senna adalah miliknya, mereka berdua selalu terlihat bersama-sama di dalam benteng ayahnya. Ke mana pun Senna pergi, ke situlah Leo bergegas mengikutinya. Dan Leo akan selalu menyertai di sampingnya—kecuali jika ada seekor tupai atau kelinci yang melintas, maka saat itulah Leo dapat menghilang selama berjam-jam lamanya.

"Aku tak melupakanmu, kawan," kata Senna sambil merogoh sebuah kantong dan memberikan sepotong tulang sisa dari pesta makan hari itu kepada Leo. Leo menyambarnya dan berlarian dengan gembira di sebelahnya.

Saat Senna berjalan, nafasnya menguar bersama kabut di sekelilingnya, dikalungkannya busur di pundak dan embusan nafas menerpa tangannya, lembab dan dingin. Ia melintasi dataran tinggi yang luas dan rata, lalu memandang ke sekeliling. Dari tempat ini, ia bisa melihat seluruh wilayah pedesaan, barisan perbukitan Teana yang biasanya menghijau namun kini berselimut salju, provinsi tempat benteng ayahnya berada, di ujung timur laut kerajaan Pinotree. Dari sini, Senna dapat melihat segala sesuatu yang terjadi di dalam benteng ayahnya di bawah sana, orang-orang dusun dan para pejuang yang hilir mudik, dan inilah salah satu alasan mengapa ia suka berada di tempat ini. Ia senang mempelajari hal-hal kuno, kontur dinding batu di benteng ayahnya, bentuk dinding pertahanan dan menara yang terbentang mengagumkan di sekujur bukit, seolah-olah terbujur sepanjang masa. Teana adalah bangunan tertinggi di seluruh pedesaan itu, dengan beberapa bangunan berlantai empat yang menjulang dan dikelilingi oleh tembok pertahanan yang memukau. Teana dilengkapi dengan sebuah menara berdinding bundar di empat penjuru dan sebuah kapel bagi penghuninya, namun bagi Senna, kapel itu menjadi sebuah tempat untuk dipanjatnya lalu mengamati seluruh penjuru desa dan menyendiri di situ. Tembok batu itu dikelilingi oleh sebuah parit, dengan sebuah jalan utama dan jembatan batu yang melengkung membentang di atasnya, selanjutnya, tempat itu dilindungi oleh tanggul-tanggul, bukit, selokan dan tembok—benar-benar sebuah tempat yang sesuai untuk salah satu prajurit Raja yang paling penting, yaitu ayahnya.

Meskipun Teana ini -yang merupakan benteng pertahanan terakhir sebelum Benteng Api- jaraknya sejauh beberapa hari perjalanan dari Andro, ibu kota Pinotree, namun Teana merupakan tempat kediaman banyak prajurit Raja yang termashyur. Teana juga merupakan sebuah menara suar, sebuah tempat yang didiami oleh ratusan penduduk desa dan petani yang tinggal dekat atau di balik tembok itu untuk berlindung.

Senna menatap puluhan rumah tanah kecil yang bertengger di perbukitan di pinggiran benteng, dengan asap yang membumbung dari cerobongnya, para petani yang hilir mudik bergegas mempersiapkan datangnya musim dingin, serta menyiapkan diri untuk festival nanti malam. Senna paham akan kenyataan bahwa orang-orang desa merasa cukup aman untuk tinggal di luar tembok pertahanan merupakan tanda betapa besarnya rasa hormat mereka akan kekuatan ayahnya, dan rasa hormat semacam itu tak terdapat di tempat lain di seluruh Pinotree. Lagipula, mereka ini hanyalah ibarat tanda bahaya yang berbunyi jauh dari perlindungan, jauh dari pasukan ayahnya yang akan segera berkumpul begitu bahaya muncul.