JoyNovel

Mari Baca dan Kenali Dunia Baru

Buka APP
THE LOVE TRIP

THE LOVE TRIP

Penulis:Maharani

Tamat

Pengantar
Siska Wilona jatuh hati pada seorang lelaki bernama Farrel Aditya yang begitu dingin dan juga ketus. Tak ada yang menyangka bahwa dirinya akan mendapatkan cinta pertama pada sekolah unggulan yang memberikannya kesempatan beasiswa, SMA Cakrawala. Sayangnya, dirinya tak pernah dilirik oleh Farrel sedikitpun. Justru beberapa murid malah merundungnya hingga ia nyaris menyerah untuk melanjutkan pendidikan. Namun, karena sebuah tragedi membuat semuanya berubah! Farrel membuka hati untuk Siska. Sekaligus menjadikan sepasang putri dan pangeran di SMA Cakrawala. Ternyata kebahagiaan Siska sama sekali tak berjalan mulus! Secara tiba-tiba, keluarga besar Farrel malah menjodohkan pacarnya dengan sahabat dekatnya sendiri, Dinda. Farrel berjanji akan menggagalkan perjodohan itu, tapi Siska pun sangat tahu bahwa hal itu tak akan mudah. Apakah mereka berhasil mempertahankan hubungan mereka atau malah mengalah pada takdir?
Buka▼
Bab

Farrel Aditya atau kerap disapa Farrel, anak dari pemilik perusahaan terbesar di negaranya. Rizki Pratama adalah nama sang ayah dengan keluarga kaya raya sekaligus pemilik dari SMA Cakrawala.

Sesampainya Farrel di SMA terbaik milik keluarga besarnya itu. Ia membawa mobil sedan termahal yang ia beli sendiri dengan warna hitam. Dia memakai pakaian rapi, sopan dengan tampang yang tampan dan pintar.

Semua mata para gadis langsung tertuju padanya, otomatis menjadi pria idaman para siswi di sana. Namun, ia tidak suka dikerubungi dengan para wanita–wanita itu.

Meskipun, setiap hari selalu dikerubungi dengan wanita-wanita di sana, tapi dia langsung jalan ke arah kelas dengan muka yang sangat tampan, pakaian yang sangat mewah dan rapi.

Sesampainya Farrel di kelas dengan tas yang berwarna hitam, baju berwarna putih, celana berwarna abu-abu dan sepatu hitam yang membuat dirinya menjadi sangat elegan juga tampan.

"Aduhh! Maaf, ya, aku enggak sengaja," Seorang wanita yang baru saja menabraknya mengatakan

kepada Farrel dengan muka yang sangat takut mendapatkan amarah dari Farrel.

"Lo bisa jalan yang becus, enggak?!" Ia mengatakan dengan muka yang sangat garang kepada wanita yang berada di depannya.

Detik kemudian, pria itu menoleh dan melirik pada wanita yang mengganggu jalannya.

"Pantes aja bikin gue kesel, ternyata lo anak baru," sindirnya.

"Iya, aku baru pindah dari kampung karena dapet beasiswa." Wanita itu mengatakan dengan ragu-ragu kepada Farrel.

Farrel mendiamkan wanita itu berbicara sambil melanjutkan langkahnya untuk terduduk di meja belajarnya di kelasnya itu lalu memainkan ponselnya.

Sementara itu, Siska Wilona yang baru saja menabrak Farrel pun juga berjalan ke arah bangku yang kosong. Namun, yang ia duduki ternyata bangku Rachel Putri atau kerap disapa Rachel yang cantik, kaya raya, sombong, tapi kurang pintar.

Beberapa menit kemudian.

"Ini tempat bangku gue bukan tempat duduk lo, pergi sana! Masih ada bangku kosong di belakang." Dia mengatakan kepada wanita yang telah duduk di bangkunya itu dengan menatap jijik.

"Oh, maaf kalau aku duduk  di tempat kamu." Siska mengatakan kepada Rachel.

"Yaudah, sana pergi!" titah Rachel dengan raut wajah marah.

"Iya, aku ketempat bangku yang kosong." Siska langsung beranjak dengan cepat-cepat untuk meninggalkan tempat duduk itu.

Pak wali kelas atau disapa Pak Zuho, garang tapi baik hati, pemaaf dan lucu, datang ke kelas untuk mengajar murid–murid supaya untuk mencapai lebih tinggi cita-cita mereka.

"Anak–anak kita punya siswi baru, sini kamu perkenalkan nama kamu." Guru itu menjelaskan pada siswi pindahan yang baru saja datang itu, Siska.

"Nama aku Siska Wilona, atau disapa Siska," ucap Siska pada seluruh murid di kelas itu.

Siska amat pintar, sopan, kesayangan orang tua, anak satu satunya, cupu, tidak terlalu cantik, miskin, baik hati, memakai kaca mata dan tidak suka memakai riasan.

Dia harus semangat untuk mencapai cita-cita, untuk membanggakan orang tua dia. Di sekolah sana, dia murid yang kurang cantik dan miskin, tapi dia yang paling pintar dari pada yang lain.

"Baiklah silakan ke tempat duduk kamu," titah Zuho mengatakan kepada Siska.

"Baik, Pak," kata Siska pada Pak Zuho.

"Anak anak silakan kerjakan yang bapak tulis di papan tulis, bapak tunggu hingga selesai," titahnya pada seluruh murid di kelas itu.

"Lo tau jawaban yang ada di papan tulis itu?" Rachel bertanya kepada Siska sembari berpikir sejenak.

"Aku tau," kata Siska kepada Rachel sambil menulis jawabannya.

"Apa gue harus minta jawaban ke Siska? Dia dapet beasiswa, pasti pintar! gue bener-bener enggak tau jawabannya. Ya, udah bilang aja sama Siska, gue bener-bener enggak tau jawabannya," batin Rachel pada dirinya sendiri.

"Gue boleh minta jawabannya, enggak?" Rachel bertanya kepada Siska dengan raut wajah yang sangat bingung.

"Bukannya, enggak boleh? Harus pikir sendiri jawabannya." Siska mengatakan kepada Rachel yang lagi bingung.

"Kok enggak boleh, sih?! Pelit banget jadi orang." Rachel sangat kesal karena Siska tidak memberitahunya.

"Ya, maaf. Kan enggak boleh," ujar Siska suara yang pelan karena sangat takut melihat Rachel yang marah.

"Ayo, kumpulkan yang sudah selesai!"

Pak Zuho berkata kepada siswa dan siswinya di hadapannya itu.

"Ini, Pak." Murid-murid menjawab karena semua sudah selesai dan sudah mengumpulkan tugas pelajaran nya, tapi Rachel belum selesai.

"Rachel, kamu udah selesai tugasnya, belum?" Pak Zuho bertanya kepada Rachel yang belum selesai.

"Belum, Pak." Rachel takut di marahin Pak Zuho karena belum selesai.

"Iya, Pak. Saya belum selesai," ucap Rachel.

"Selesaikan sekarang juga!" Pak Zuho sangat tidak suka kalau terlambat mengumpulkan tugas.

"Baik, Pak," jawab Rachel.

"Ih! Gara-gara Siska, gue jadi dimarahin sama Pak Zuho," batinnya dengan kesal.

Jam istirahat berbunyi, dengan hari yang sangat cerah.

"Kita kerjain Siska, yuk. Gara-gara dia, gue dimarahin guru," ajak Rachel pada Via dan Hana.

"Ayo, kapan?" Hana bertanya pada Rachel.

"Tunggu kucing sama anjing pacaran," celetuk Via karena kesal pada pertanyaan Hana.

"Berati masih lama, ya?" tanya Hana dengan wajah polos.

"Lo bikin Rachel marah, tuh," ujar Via kepada Hana.

"Gue cuma nanya doang, emang enggak boleh?" tanya Hana pada Via yang membuat Rachel tambah marah.

"Kalian berdua mau bantuin gue, enggak? Kalau enggak mau, enggak usah jadi teman gue lagi!" cerca Rachel dengan raut wajah marah kepada Hana dan Via.

"Iya, kita bantuin lo." Via dan Hana menjawab dengan raut wajah takut kepada Rachel.

"Ayo, ikut gue cepetan!" titah Rachel kepada dua temannya itu.

Mereka bertiga pun berjalan bersama untuk mencari keberadaan perempuan bernama Siska Wilona yang sejak awal dicari-cari Rachel.

"Itu Siska!" sahut Via pada Rachel dan juga Hana.

"Iya, ayo kita kerjain! Mumpung cuacanya cerah, gue kesel sama Siska," Rachel sangat ingin untuk mengerjai Siska karena Rachel baru saja dimarahin guru karena Siska.

"Gue hitung satu dua tiga, kita jatuhin Siska, ya," ucap Rachel sembari memberikan aba-aba.

"Oke, Rachel," jawab Hana dan Via yang sangat setuju pada rencana Rachel itu.

"Satu, dua, tiga. Ayo!"

BUGHH!

Dalam sekejap mata, Siska langsung terjatuh dengan tersungkur di lantai karena didorong oleh mereka bertiga.

"Maaf, tapi sengaja dorong kamu," ujar Rachel pada Siska.

"Emang aku salah apa? Kok, sampe di dorong?" tanya Siska dengan kening yang menyerngit.

"Gara-gara lo, gue jadi dimarahin guru," jawab Rachel.

"Bukannya kamu yang salah karena minta jawaban sama aku? Kenapa jadi aku yang salah?" tanya Siska pada Rachel dengan sangat bingung.

"Pokoknya lo yang salah! Karena lo, gue dimarahin!" Rachel selalu membalas dendam kepada teman-temannya yang membuat dirinya kesal lalu pergi begitu saja.

Setelah itu, Siska langsung jalan ke arah kelas, tetapi tidak sengaja ia menumpahkan air minumnya ke baju Farrel dengan tidak sengaja karena ia masih gugup mengingat Rachel mendorongnya barusan.

"Lo bisa jalan yang bener, enggak? Jalan itu pake kaki bukan pake mata! Baju gue jadi basah gara-gara lo, nih. " Farrel memaki Siska karena menjadi pernyebab bajunya basah.