JoyNovel

Mari Baca dan Kenali Dunia Baru

Buka APP
Elegi Cinta

Elegi Cinta

Penulis:Runna Horaysa

Tamat

Pengantar
Rose tersiksa! Dirinya dipaksa menikah dengan lelaki yang umurnya lebih tua dari Rose. Ditengah perjalanan rumah tangga, Rose berkenalan dengan seorang lelaki. Mereka sama-sama jatuh cinta, di saat Rose memutuskan untuk memilih cintanya dan meninggalkan Suami dan kedua anaknya, Lelaki tersebut pergi tanpa pemberitahuan. Tinggallah Rose merana di tinggal kekasih gelapnya, apakah Rose akan bisa melupakan lelaki itu dan mempertahankan rumah tangganya? Atau Rose memilih mengakhiri hidupnya, daripada kehilangan cintanya.
Buka▼
Bab

"Pokonya, kamu harus mau!!!" teriak Lelaki bernama Amir kepada seorang Gadis muda.

"Tidak! Sampai mati pun aku tak akan mau," balas Gadis itu.

PLAK...

Amir menampar wajah gadis itu, pipinya yang mulus menjadi merah, darah mengalir dari sudut bibirnya yang robek.

Tak ada tangisan, Gadis itu menyeringai sambil memegang pipinya. "Ayo... tampar lagi! Supaya Ayah puas!" tantangnya.

Baru saja Amir hendak maju, lengannya di tahan oleh Laila, Istrinya. "Sudah Pak! Malu di dengar tetangga.

"Pokoknya, kamu akan menikah dengan Dewa! Titik!" jelas Pak Amir. Dia meninggalkan anak gadisnya yang sedang tersungkur, menangis, meraung. Bak sedang berduka akibat di tinggal meninggal.

*****

Namanya Rose, anak satu-satunya dari Pak Amir, umurnya baru tujuh belas tahun.

Pak Amir, berkerja sebagai buruh tani, hobi main judi membuatnya harus berhutang kepada orang tua Dewa.

Setelah jatuh tempo, ternyata pak Amir, tak dapat melunasi hutangnya.

Mengetahui hal itu, membuat ayah Dewa berencana menjodohkan anaknya dan Anak pak Amir.

Tak ada alasan khusus, hanya saja dia suka melihat Rose yang cantik dan sopan, tentu cocok dengan anaknya Dewa yang sabar dan soleh.

Maka pada waktu yang ditentukan, pak Dirman memanggil pak Amir. Setelah pak Amir datang, mulailah pembicaraan serius mereka lakukan.

"Pak, maaf kalau saya mengajak bertemu malam hari, agar kita bisa bicara dengan serius. Tanpa, terganggu orang lain." Pak Dirman memulai pembicaraan.

"I— ya, Pak... ." Pak Amir menjawab dengan ragu.

"Tak usah takut pak! Saya tidak ada niat mencelakai bapak. Saya, cuma mau berbicara soal masa depan anak-anak kita," tambah Pak Dirman. Jawabannya membuat hati pak Amir seketika senang.

Padahal, saat dalam perjalanan. Dia sudah berfikir yang macam-macam. "Sepertinya dia tak salah melangkah, saat keluar rumah," fikirnya. Sambil mengangguk, tersenyum.

"Bagaimana, pak!" tanya Pak Dirman.

"A— nu, nan—ti, saya tanya anak saya dulu, Pak!" jawab Pak Amir.

Jawaban yang diberikan pak Amir, membuat pak Dirman berprasangka bahwa pak Amir, tak mau anaknya menikah dengan Dewa, putra pak Dirman.

"Tak masalah Pak, saya harap bisa mendengar kabarnya 2x24jam. Supaya, saya dengan gampang mengeksekusi rumah bapak. Jika, anak gadis bapak tak setuju." Panjang lebar, Pak Dirman berucap.

Mendengar hal itu, seketika wajah pak Amir kembali murung. Dia tau walaupun disampaikan secara halus, tapi kata-kata pak Dirman bermakna ancaman.

"I— ya, P— ak." Setelah mengatakan kesanggupannya, pak Amir berpamitan.

Alasannya, dia hendak ke sawah.

Pak Dirman menganggukkan kepala, tanda setuju.

Padahal, dia tahu bahwa itu hanya alasan pak Amir, untuk menjauh secepatnya dari hadapan pak Dirman.

******

"Nak, kamu tidak boleh seperti ini, bapak pasti tau yang terbaik untuk kamu." Bu Laila menasihati anaknya, dia tak tahan melihat Rose terus menangis.

"Bu, Rose masih mau sekolah! Rose mau jadi dokter, Bu! Kalau Rose menikah, cita-cita Rose tidak akan terwujud," Rengek Rose pada ibunya.

"Ibu, tau Nak! Tapi, kamu tau sendiri, apapun yang bapakmu inginkan, harus diikuti!" jelas Bu Laila pada anak gadisnya itu.

Rose kembali memeluk bu Laila dan menangis sejadi-jadinya.

Bagi Rose, pernikahan adalah titik akhir seorang wanita. Dia melihat bagaimana ibunya, harus rela mengubur mimpi menjadi Guru. Kini haruskah dia juga seperti ibunya?

Semalam suntuk, Rose tak tidur. Dia mencari cara, supaya dia tak jadi di jodohkan. Sayang, sampai ayam berkokok, matahari bersinar, ide yang dia cari tak juga muncul.

*****

"Rose... Rose..." Pak Amir berteriak, memanggil anaknya.

Rose datang, terlihat dari wajahnya tak bersemangat. Seandainya, dia tak tau bagaimana kalau bapaknya marah, Maka tak sudi dia bertemu dengan lelaki itu.

"Besok, kita ke rumah pak Dirman. Kamu, tak usah ke sekolah!" titah Pak Amir.

Rose kaget, tapi tak berani membantah. Setelah mengangguk, dia berlalu meninggalkan Pak Amir di ruang tamu.

Bu Laila datang membawa nampan berisi segelas kopi, dan sepiring pisang goreng. Meletakkan makanan itu di depan suaminya.

"Bu, sebentar ajak Rose belanja. Belikan baju yang bagus, besok kita ke rumah pak Dirman." Pak Amir menyuruh istrinya.

Bu Laila hanya mengangguk, niat awal untuk menemani suaminya bersantai hilang. Dia memutuskan ke kamar, melihat anaknya.

Sesampainya di kamar Rose, bu Laila mendapati anaknya tak ada di kamar. Gegas dia masuk.

Brak....

Terdengar benda jatuh dari kamar mandi, bu Laila berlari membuka kamar mandi.

Terlihat Rose sudah terbaring di lantai, kursi terbalik menindih badannya.

"Pak, to—long... Rose jatuh!" Bu Laila berteriak memanggil suaminya.

Pak Amir yang sedang merokok, terlonjak, segera berlari menemui istrinya.

Matanya melotot, melihat anaknya telah tak sadarkan diri.

"Rose... kamu kenapa, Nak?!" tanya Pak Amir, badan Rose di balikan.

"Ya... Allah, da— rah."