Semilir angin mulai menusuk kulit. Membuat gadis berambut cokelat itu semakin merapatkan jaket yang ia kenakan. Ia kembali melirik jam yang ada di tangannya, dan mulai mempercepat langkahnya menuju kelas yang berada di lantai dua. Menyelusuri koridor yang begitu sepi, membuat langkah kakinya terdengar menggema.
Gadis berpipi cubby itu mulai berbelok arah saat rentena matanya menangkap sosok laki-laki paruh baya yang berbadan gempal berjalan ke arahnya. Mencari celah untuk kabur agar tidak terkena hukuman guru tua itu. Dengan mengendap-endap gadis itu berhasil masuk ke dalam kelas yang begitu sunyi. Sebagian dari mereka sedang melanjutkan mimpi indahnya, dan sebagian lagi lebih memilih mencari kesibukan lain dengan tidak bersuara. Mengacuhkan guru yang sedang menulis di depan sana.
“Nay.”
“Sssttt.” Gadis yang dia panggil Nay itu memberiakan isyarat kepada temannya agar tidak berisik. Sebelum ke tempat duduknya yang berada di pojok belakang. Dia terlebih dahulu mampir ke bangku sang guru dan menaruh tikus mainan yang ia ambil dari kotak mainan keponakannya.
Masih dengan cara mengendap, ia berhasil duduk anteng di bangku kesayangannya. Bersiap menonton apa yang selanjutnya akan terjadi. Bukan hanya Naya yang menunggu adegan itu, satu kelas yang tadinya tertidur perlahan mulai bangun saat mendengar apa yang sedang Naya lakukan. Ponsel-ponsel mereka telah siap untuk merekam, dan saat guru itu selelasi menulis, dalam hitungan ke tiga, dan BOOMM … !
Gelak tawa seisi kelas terdengar membahana. Kelatahan sang guru menjadi candaan sementara. Wajah guru muda itu terlihat memerah karena malu bercampur kesal, tanpa aba-aba guru itu keluar kelas dengan genangan air mata yang siap menetes.
“Yah ngadu deh,” teriak salah satu siswa yang dudu di belang. Sengaja ia berteriak agar guru itu dengar. Sering kali mereka melakukan ini semua kepada guru tersebut. Bukan karena mereka tidak suka, mereka terlalu bosan dengan cara guru tersebut mengajar. Wajahnya yang tampan tidak membuat mereka semua luluh.
“Tangkap Nay,” Kanaya berhasil menangkap tikus yang temannya lempar. Duduk anteng dengan muka yang sombong adalah kebiasaannya.
Kelas kembali ramia dengan canda tawa mereka. Bersikap seolah tidak pernah terjadi apa-apa di kelas mereka. Ketukan pintu mencuri perhatian seluruh kelas, di sana, di depan pintu masuk berdiri gagah seorang guru laki-laki. Dia tidak hanya datang sendiri, tapi dia datang bersama guru yang tadi kami kerjain.
“KANAYA ALISA HASBI !” Pangilnya tegas dan dalam. Membuat nyaliku menciut, kenpa harus dia yang datang.
‘matilah aku’ batinku saat tau siapa yang memanggil nama lengkapku. Aku mulai berjalan ke depan dengan menatap tajam pak Bagas yang bersembunyi di belakang Par Hans.
“Awwww. Sakit Pak” tiba-tiba pak Hans menjewer telingaku tanpa ampun.
“Kamu itu anak cewek, kenapa bar-bar sekali.”
“Bukan saya pak.”
“Terus siapa lagi kalau bukan kamu, di sini Cuma kamu yang suka iseng sama pak Bagas, Nay.” Pak Hans semakin keras menjewer telingaku.
“Ampun pak, sakit ini,” aku masih mencoba melepaskan jeweran pak Hans.
“Minta maaf sekarang sama pak Bagas.” Ucapnya tegas tanpa bantahan, dan melepaskan jewerannya. Kuusap telingaku yang memerah, dan menatap tajan pak Bagas.
“KANAYA !”
“Nay, nggak mau !” jawabku agkuh dan bersiap untuk pergi. Sebelum aku benar-benar pergi, kembali telinga aku kena jewer.
“Minta maaf, apa saya hukum lebih dari ini.”
‘Lebih baik aku di hukum dari pada aku harus minta maaf kepada guru tukang ngadu itu.’ Batinku.
Karena tidak kunjung mendapat jawaban dari Naya, dan pada akhirnya pak Hans membawa Naya keluar kelas. Membawanya ke taman belakang yang begitu kotor. Mata Naya terbelalak melihat sampah-sampah yang berserakan di sana.
“Apa.!” Sentak pak Hans saat Naya menatapnya.
“Bapak serius,?” tanyanya masih tidak percaya dengan hukuman yang ia dapatkan. Perasaan baru dua hari yang lalu dia memberisihkan taman ini, kenapa sekarang sudah koto seperti tempat pembuangan akhir. Kemana perginya petugas kebersihan di sini.
“Ya serius lah, setelah ini selesai, bersihkan gudang belakang sekalian.” Perintahnya mutlak dan tidak mau di bantah lagi.
Setelah mengatakan itu semua Pak Hans meninggalkan Naya sendirian di taman belang dengan semua alat kebersihan. Semilir angina menemani Naya yang mulai menyapu daun-daun kering di sekitarnya.
Setelah menyelesaikan itu semua, sebelum mengembalikan dan membersihkan gudang belakang, Naya terlebih dahulu mlipir ke kantin. Istirahat sebentar dan mendinginkan tubuhnya yang telah basah dengan keringat.
“Nyak, biasa ya.” pesannya kepada salah satu pedangan yang sudah menjadi langganannya selama di sekoah ini.
“Siap neng.”
Sambil menunggu pesanannya jadi, Naya lebih memilih memainkan ponselnya dan membuka akun social media miliknya. Melihat berita terpanas yang sedang akhir-akhir ini terjadi. Karena bosan membuka berita di akun Twitternya, kini ia beralih membuka akun Instagram. Ada beberapa orang yang menandai dirinya dalam sebuah postingan salah satunya akun milik sahabatnya sendiri.
@Abeillala
Gabutnya anak sultan, yang berakhir di tangan pak Hans
dengan banyak emot tertawa
Lebih dari empat puluh ribu orang melihat video pendek saat pak Hans menjewerku di depan kelas. ‘Memang teman lucnut si Abel’ batinku lengkap dengan sumpah serapah untuk Abel. Jangan di tanya lagi tentang komentar mereka, kebanyakan mereka menertawakanku.
“Nih neng, kog tumben sih jam segini udah ke sini aja.” Tanya Enyak yang sedang menaruh pesananku di meja.
“Biasa Nyak.”
“Kali ini siapa lagi athu yang neng kerjain.”
“Ya sama Nyak.”
“Terus yang kasih hukuman siapa.?” Betapa keponya emak-emak satu ini, bahkan dia sudah menarik kursi dan duduk dengan wajah penasaran. Karena setiap kali aku bikin ulah akan berbeda orang yang memberi hukuman. Dan semua itu menjadi daya tarik sendiri untuk menjadi bahan pembicaraan.
“Pak Hans.” Ucapku denga mulut penuh dengan mie goreng yang aku pesan. Setelah mendengar nama guru kejam itu, Enyak tertawa terpingkal-pingkal. Masalahnya guru tampat dan mirip singa itu kalau ngasih hukuman tidak kira-kira. Bahkan akan ia cek sendiri apakah sudah kita kerjakan atau belum.
“Duh neng, makannya jangan iseng terus athu sama pak Bagas.”
“Bodo, Nyak, pak Bagas nyebelin dan satu lagi,” sambil mengacungkan garpu kea rah muka Enyak. “Dia itu bener-bener membosankan.” Lanjuku dan kembali makan mie goreng yang tinggal separuh.
“Enak ya !” aku merasakan jeweran di telingkau lagi. Suara yang cukup familiar dan bau parfum yang benar-benar khas. Di depanku Enyak mulai kabur meninggalkan kaimi berdua.
di depanku pak Hans mulai berkacak pinggang dan menatapku begitu tajam. Aku yang di tatap seperti itu bukannya takut, tapi malah memberikan cengiran konyol has diriku. Yang membuat dia semakin gemas untuk membunuhku.
“Bapak mau.?” Tawarku dengan seringai jahil. Aku tau dia juga suka dengan makanan yang berbau mie. So,?
Next, bab selanjutnya ya..
Sampai jumpa dengan pak Hans
