JoyNovel

Vamos ler O Mundo

APP aberto
Kupaksa Suamiku Menikahi Selingkuhannya

Kupaksa Suamiku Menikahi Selingkuhannya

Autor:Miss Rain

Atualização

Introdução
Aku mendengar suamiku bertelepon mesra dengan seseorang di kamar sebelah. Bahkan mereka melakukan hal menjijikkan di kamar mandi. Namun ketika kutanya, suamiku mengelak. Kucecarpun dia terus saja menolak untuk mengakui. Apa aku dan anak-anak sudah tak ada artinya lagi di mata Mas Amran? Mengapa ia seperti tak takut dosa dengan terus berbuat hina! Jika memang dia sudah tak cinta lagi. Biar kupaksa ia menikahi selingkuhannya daripada terus berbuat dosa.
Mostrar tudo▼
Capítulo

"Iya, Sayang. Nanti abang berkunjung ke tempatmu. Sudah lama enggak jumpa, abang juga rindu padamu."

Sekilas kudengar suara Bang Amran, suamiku, tengah berbincang mesra di telepon dengan seseorang, entah siapa. Aku langsung pasang telinga mencoba mencuri dengar.

"Apa? Istri dan anak abang? Ahhh semua itu bisa dikondisikan. Asal kamu sabar dan menurut, pasti akan abang bahagiakan kamu bagai ratu," rayu Bang Amran sungguh genit. Obrolan pria itu di telepon benar-benar membuat panas telingaku yang mendengarnya.

Aku yang sedang menyetrika pakaian di ruangan sebelah langsung menajamkan pendengaran dan menghentikan pekerjaanku. Kudekatkan tubuhku ke tembok yang berbatasan dengan ruang tidur anak-anak kami itu. Bang Amran memang tengah menelepon di kamar anak-anakku.

"Jadi rupanya ini yang dilakukan Bang Amran dengan dalih menemani anakku bermain sepulang kerja. Rupanya ia menemani anakku sambil menelepon wanita, agar aku tidak curiga," desisku kesal.

Kupertajam telinga untuk mendengar obrolan suamiku selanjutnya. Apalagi tingkah genit yang akan dilakukannya?

"Hihihi, iya. Iya, Sayang. Apa sih yang enggak buat kamu, Cantikku," kikiknya sambil terus menggombal.

Sungguh menjijikkan sekali tingkahnya. Apa dia tidak malu dengan usianya yang sudah menginjak angka tiga puluh lima. Apa dia tidak ingat dengan keempat anak perempuannya di rumah? Masih saja menggombal macam pemuda tujuh belas tahun.

"Apa? Mau hadiah handphone dari aku? Iya dong, pasti, nanti aku belikan, Sayang. Tentu saja! Secepatnya!" Ulah genit Bang Amran di kamar sebelah makin menjadi sementara aku juga jadi semakin geregetan.

Mau belikan handphone? Huh lagaknya, cicilan rumah saja belum lunas! Untuk kebutuhan sekolah daring ketiga anakku yang memasuki usia sekolah saja, kami masih harus berbagi handphone! Mau membelikan wanita lain handphone! Duit dari mana?

"Pokoknya semuanya buat kamu, Sayangku, Cintaku, Matahariku, Pelita hidupku," ujar Bang Amran membuatku makin mual mendengarnya. Gemas rasanya mendengar semua itu dari kamar sebelah.

Aku menggeram kesal. Kumatikan setrika yang semakin panas dalam genggamanku. Setelah kuletakkan setrika di atas tatakan dan kumatikan benda itu, aku bergerak ke kamar sebelah. Panasnya setrikaan mungkin sepanas hatiku, mendengar gombalan-gombalan suamiku itu entah dengan siapa.

Tak menunggu lagi, segera kususul lelakiku itu ke kamar sebelah. Lalu kubuka pintu kamar tidur anak-anakku tersebut. Dikunci!

"Bang! Bang Amran! Buka pintunya, Bang!" teriakku tak lagi bisa menahan emosi.

Hening tak ada suara. Tak ada lagi terdengar kikik tawa genit suamiku yang tengah menggombal entah dengan siapa di telepon.

"Bang Amran! Kamu sedang apa di dalam sana? Kenapa pakai dikunci segala pintunya!" bentakku sambil terus menggedor-gedor pintu kamar anak-anak.

Andai pintu itu tidak terbuat dari kayu yang kuat, mungkin sudah jebol karena hentakan tanganku yang penuh tenaga ini.

"Bang Amraaaaannnnn! Buka pintunya atau kudobrak sekarang juga!" teriakku histeris setelah suamiku itu tak kunjung membukakan pintu.

Klek! Kunci di putar dan tak lama pintu terbuka.

"Ada apa sih, Hen? Sampai teriak-teriak begitu. Aku enggak tuli kali!" omelnya kesal sambil menyembulkan muka kesalnya di celah pintu yang terbuka.

Aku mendorong untuk membuka pintu lebih lebar. Pandanganku menyapu sekeliling ruangan. Kulihat kedua putriku yang tengah tertidur di dalam sana terduduk di tepi ranjang tengah mengucek matanya. Mungkin terbangun karena teriakanku barusan.

"Bunda ada apa sih? Berisik!" keluh Marwa, putri sulungku.

"Iya, Bunda. Aku barusan aja tidur nyenyak," rengek Shafa, si putri keduaku ikut protes.

Hanya Zalia putri ketigaku yang tidak tampak. Ia mungkin sedang terlelap di sisi Hanna putri bungsuku.

Bang Amran memandangku kesal. Dari sorot matanya seolah berkata, "Tuh kan, gara-gara kamu berisik. Anak-anak jadi bangun!"

Pria itu gegas melewatiku yang masih berdiri di depan pintu. Bang Amran berlalu, ingin kabur dengan memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan.

"Ehhh, jangan kabur dulu kamu, Bang! Bilang dulu! Kamu tadi lagi telepon siapa?" bentakku kesal.

"Telepon siapa? Aku enggak telepon siapa-siapa!" tegas Bang Amran pura-pura bingung.

"Jangan mengelak kamu, Bang! Jelas-jelas tadi aku dengar kamu cekikikan dan sedang bertelepon mesra dengan seseorang!" tuduhku tak mau memberi celah.

"Kamu ini apa-apaan sih? Aku itu cuma lagi nonton sinetron Ikatan Cinta! Nih lihat! Aku nonton rekamannya di utup!" serunya sambil sekilas menunjukkan layar gawainya yang memang sedang menjeda sebuah pemutaran video pada aplikasi panah merah tersebut.

Aku memperhatikan dengan saksama apa yang terlihat di layar benda pipih berwarna silver miliknya itu. Benar sih dia memang tengah menonton. Namun aku tak yakin dengan ucapannya itu.

"Coba putar ulang sinetronnya!" titahku garang.

Bang Amran memutarkan sinetron yang sedang naik daun tersebut.

Aku mendengarkan percakapan dakam sinetron tersebut. Tentu saja berbeda dengan apa yang kudengar dari kamar sebelah barusan.

"Enggak! Ini beda dengan suara yang aku dengar barusan! Lagian kalau memang kamu lagi nonton. Mana mungkin aku dengarnya cuma suara laki-laki doang. Yang ada suara Mas Al dan Andin akan sama-sama terdengar. Ini cuma suara lelaki!" cecarku nyaris tanpa jeda.

Bang Amran seperti kikuk bingung mau beralasan apa lagi.

"Lagian pede banget kamu nyama-nyamain suaramu dengan suara Mas Al! Orang aku hapal betul gimana nada suara kamu!" tandasku agar pria itu tak lagi berkutik.

"Kalau enggak percaya ya udah! Aku capek pulang kantor! Baru mau istirahat sebentar aja udah dicurigain begini!" bentaknya kesal.

Bang Amran bergegas ke kamar mandi sambil mengambil handuk. Pria itu memang terbiasa mandi agak malam. Setelah pulang kantor dan cuci tangan, ia biasanya menemani anak-anak di kamar mereka.

Putri pertama sampai ketigaku memang sudah punya tempat tidur masing-masing di kamar khusus untuk mereka itu. Sementara bungsuku yang masih berusia dua tahun tidur bersama kami di kamar utama.

Aku melirik gerak-gerik Bang Amran dengan penuh curiga. Kuawasi pria itu sampai menghilang masuk ke kamar mandi.

Aku berjalan ke kamar putri-putriku untuk meminta maaf karena mengganggu tidur mereka. Kubantu anak-anakku untuk tidur kembali. Saat melewati kamar mandi untuk mengambil jemuran yang sudah kering di gantungan belakang, aku kembali mendengar suara Bang Amran sedang bertelepon.

"Iya, Nih! Heni tadi dengar kita teleponan! Maaf ya, Sayang. Ini lagi di kamar mandi, mau mandi dong. Kamu mau temani aku mandi? Mandi malam enak loh"

Astagfirullah haladzim! Apa pula laku suamiku di dalam kamar mandi ini. Ya Allahhh! Hilang sudah kesabaranku dibuatnya. Kugedor kembali pintu kamar mandi agar pria itu menghentikan tindakan menyimpangnya.

"Bang! Astagfirullah haladzim! Apa yang kamu lakukan di dalam sana, Bang! Jangan berbuat menjijikkan seperti itu! Nikahi dia kalau memang Abang begitu bernafsu pada perempuan itu, Bang!" teriakku tak lagi bisa menahan diri.