JoyNovel

Vamos ler O Mundo

APP aberto
DiaLoGue

DiaLoGue

Autor:Freddy San

Concluído

Introdução
Dialogue yang salah akan menghadirkan dia, lo, gue. Segitiga percintaan yang mengikat semua tokoh, sulit untuk diurai. Sengkela takdir terlanjur mengikat. Simpul tak kasat mata yang menghubungkan manusia satu dengan manusia lainnya. Ketika nasib harus bertentangan dengan keinginan serta harapan. Antara perasaan dan ikatan pernikahan, mungkinkah memilih salah satu? Tak bisakah keduanya bersatu padu?
Mostrar tudo▼
Capítulo

Hadirmu adalah sebuah kenyataan

Mengenalmu mungkin ketidaksengajaan

Mencintaimu bukanlah keharusan

Memilikimu hanya sebatas angan

Bukan salah Tuhan menciptamu

Salah diriku memujamu

Mata harusnya tertutup

Seperti hati layak terkunci

***

Arga Eka Putra, demikian ayah memberiku nama. Kata "Putra" di belakang adalah nama beliau. Sosok tenang, penyabar, tapi sangat tegas memegang prinsip hidup, setidaknya itu yang menjadi khas dalam sifat dan karakternya.

Awal SMA, aku jatuh cinta pada teman sekelasku, Melia Irawati. Ayah tersenyum saat kuceritakan tentang dia. Dan masih teringat jelas pesannya kala itu.

"Kalau kamu sungguh-sungguh suka sama dia, perjuangkan. Diterima, Alhamdulillah. Ditolak, maju lagi. Ditolak itu biasa. Ayah dulu ditolak ibumu berkali-kali, nggak terhitung. Buktinya, kena juga kan. Wong lanang kuwi menang milih, wong wedok kuwi menang nolak, Ga," tutur ayah.

Ayah menegaskan bahwa seorang pria memang punya kuasa untuk memilih, perempuan mana yang akan ia lamar. Dan wanita punya ranahnya sendiri untuk berkuasa menolak lamaran yang tidak ia suka. Sudah kodratnya demikian. Jadi sebagai seorang pria, tak boleh takut ditolak, dan tak boleh mudah menyerah.

Itu juga yang kulakukan pada Melia. Kucoba kesampingkan rasa malu dan minder untuk mencoba mendekatinya. Beruntungnya aku diberkahi otak yang cemerlang sehingga Melia sering meminta bantuanku untuk memahami beberapa pelajaran.

Itu adalah momen indah bagiku. Saat aku bisa duduk berdekatan, memandang wajah yang hanya beberapa jengkal dari wajahku, bahkan aku bisa mencium aroma rambutnya yang unik, berbeda dari teman-teman yang lain.

Aku memang bukan tipe romantis, juga bukan pria gaul dan menonjol dari segi pergaulan. Secara penampilan bukannya tidak tampan, kata teman-temanku cukup menarik. Hanya saja, aku tipikal cowok rapih dan standar baik pilihan baju maupun aksesoris. Nothing Special.

Pertama kali menyatakan cinta pada Melia, aku hanya berani lewat tulisan. Selembar kertas yang kutulis dengan penuh kesederhanaan. Tak ada kata indah, romantis, apalagi puitis.

Melia, mau nggak jadi pacarku. Arga.

Bahkan aku tak berani memberikan langsung padanya. Kusisipkan kertas itu di buku pelajaran. Beberapa hari aku menunggu jawaban, sepertinya dia belum menemukan kertas itu. Sampai suatu malam, tiba-tiba dia mengirimiku pesan via whatsapp.

[Ngaca, Ga. Gak usah lagi lo deket-deketin gw!]

Pesan itu teramat singkat, tapi cukup membuat seisi kamarku seolah berguncang terkena gempa. Begini rasanya ditolak, seperti ini rasanya patah hati. Kualami sekarang. Aku tak punya cukup keberanian untuk membalas pesan tersebut. Kubiarkan saja, kuendapkan dalam sepi dan sedihku.

Beberapa hari mataku sulit terpejam. Makanpun terasa tak enak. Jadi seperti lagu dangdut, tapi memang itu yang kurasakan. Bukan salah Melia menolakku. Mungkin aku yang terlalu tidak tahu diri.

Di kelas, aku tak berani mendekati Melia, bahkan untuk sekedar menyapa. Sungguh tidak nyaman dalam situasi seperti ini. Sudah lebih dari seminggu kami terjebak suasana tidak mengenakkan.

Tiba-tiba, aku teringat pesan ayah untuk tidak menyerah. Pagi itu, kuberanikan diri menyapa Melia lagi seolah tak pernah terjadi apa-apa di antara kami.

"Hai, Mel. Sudah kerjakan PR Biologi?" tanyaku dengan nada yang kubuat sebiasa mungkin, walau sedikit gemetar.

Melia hanya memandangku sekilas, tanpa menjawab. Dia lalu beranjak dari kursi dan meninggalkan kelas.

Aku lega, setidaknya sudah bisa memulai percakapan. Semoga suasana segera mencair lagi. Setiap hari, akan kusempatkan menyapa, walau mungkin tidak ia jawab seperti hari ini. Semangat!

Benar kata ayah, setelah tiga hari kuberanikan diri menyapa, Melia mulai memberikan respon. Secara perlahan hubungan kami kembali seperti dulu lagi.

Dia mulai menanyakan beberapa hal tentang pelajaran, dan aku bisa mencium aroma rambut khas itu lagi saat duduk di sampingnya. Anugerah dari Tuhan.

Cintaku tak pernah berkurang, bahkan terus bertambah setiap hari. Penolakan kuanggap sebagai bentuk ketidaksiapan dia untuk memiliki hubungan yang lebih dari sekedar teman denganku. Dan aku akan memberinya waktu untuk lebih mengenalku.

Hari ini, Melia lebih cantik dari biasanya. Terlihat berbeda dengan cardigan rajut berwarna merah yang ia kenakan. Sering terbersit tanya dalam hatiku, kenapa gadis secantik ini belum punya pacar? Padahal yang naksir pasti banyak. Atau memang belum mau pacaran?

Dua bulan setelah ditolak, kucoba lagi menyatakan perasaanku pada Melia. Kali ini aku ingin mengatakannya secara langsung.

"Mel, nonton bioskop yuk," ajakku pagi itu.

"Serius lo ngajak gue nonton?" tanya Melia tidak percaya dengan apa yang didengarnya barusan.

"Iya, serius. Kalau kamunya mau sih, Mel," kataku ringan.

"Ya udah, tapi gue yang traktir ya. Lo udah bantu gue banyak soal pelajaran yang gue nggak ngerti. Jadi itu syarat dari gue. Gimana?" Gadis itu mengacungkan jari kelingkingnya.

Duh, masa cowok dibayarin ma cewek? Lagian kan aku mau nembak dia, kataku dalam hati. Tapi ya sudahlah, daripada batal.

"Ya udah, deh. Tapi beneran nggak papa? Aku yang ngajak, aku juga yang ditraktir," kataku sambil mengaitkan kelingkingku.

"Woles aja sih, Ga. Jam 4 sore di Ambara Mall ya," Melia sambil tersenyum memberi kode dengan jarinya menunjukkan angka 4.

"Ashiaaaaap!" jawabku penuh semangat.

Akhirnya, kataku dalam hati.

Hari ini pikiranku entah ke mana. Pelajaran yang diberikan guru seolah hanya deretan kata tanpa makna, hanya barisan bunyi tanpa arti, tak satupun bisa kumengerti. Aku tak sabar, menanti pukul 4 sore nanti.

Pukul satu siang, bel sekolah berbunyi, semua bergegas meninggalkan ruang kelas. Beberapa orang buru-buru ke kantin karena kelaparan. Ada yang tergesa-gesa karena ada jadwal les, sementara yang lain mungkin sepertiku, punya agenda nongkrong dan kegiatan santai lainnya.

Aku hanya ingin segera pulang dan istirahat, supaya nanti fresh saat berkencan dengan Melia. Kencan? Aku tersenyum sendiri memikirkan kata itu. Ini belum layak disebut kencan, karena status kami hanya teman.

"Sampai ketemu nanti ya, Mel." Kusempatkan menghampiri Melia. Sebetulnya meyakinkan diriku sendiri bahwa ini memang bukan mimpi.

"Oke."

Gadis itu tersenyum dan segera berlalu bersama teman-temannya yang memandang penuh selidik pada kami.

"Mo ngapain? Kencan?" tanya Freya, sahabat Melia.

Mereka sudah menjauh dari tempatku berdiri. Jadi aku tidak tahu lagi apa yang mereka bicarakan. Kupacu sepeda motor bututku secepat mungkin. Tak sampai setengah jam, aku sudah tiba di rumah.

"Assalamu'alaikum," seruku setiba di rumah.

"Wa’alaikumsalam. Tumben ceria banget, Ga?" tanya ibu.

"Ah, biasa saja kok, Bu. Arga makan ya, terus mau rebahan. Oya, Arga nanti pergi sama teman jam empat, Bu," kataku.

"Iya. Sama Melia?" tanya ibu sambil menyodorkan piring dan segelas air putih untukku.

"Kok bisa tahu, Bu?" Aku heran ibu bisa menebak dengan tepat.

"Tahu, dong. Kamu belum pernah seceria ini pulang sekolah. Teman mana bisa membuatmu semringah seperti ini kalau bukan Melia," jawab ibu sambil tersenyum.