JoyNovel

Vamos ler O Mundo

APP aberto
Cyra Untuk Aidan

Cyra Untuk Aidan

Autor:Irma Lestari

Concluído

Introdução
Kisah dari Cyra Umaiza yang berjuang untuk mempertahankan rumah tangganya dengan Aidan Lubawi. Gadis itu tidak memcintai Aidan, karena lelaki itu hanya dipilihkan oleh sang ayah. Bagaimana Cyra menjalani hari-hari bersama Aidan, sedang dia tak memiliki perasaan yang sama seperti Aidan? Apa Cyra akan bertahan atau berhenti di tengah jalan?
Mostrar tudo▼
Capítulo

Dirimematung saatmemperhatikan lelaki didepan, ada rasagugup untuk menghampirinya. Dia Kak Fatih, lelaki yangmingisi ceramahsaat pengajian beberapabulan lalu. Parasnya yangtampan, tuturkata yang santun, jugailmu yang mumpuni mambuatku jatuhcinta terhadapnya.

"Cyra?" panggilnya.

Aku menggigit bibirsaat matanya menemukan kehadiranku, untuk kesekian kalinya aku menanggung malukarena tertangkap basah tengah memperhatikan Kak Fatih.

"Duduk Cyra! Kamu mau pesan apa? Oh, pasti kopi yang biasa, ya? Tunggubiar Kak Fatih buatin!" Lelakiitu memberondong dengan pertanyaan, laludia jawab sendiri. Dasar Kak Fatih.

"Kak, Cyra kesini mau bicara sama Kakak," ucapku ragu. Kak Fatih menghentikan langkahnya, lalu berbalikkembali.

Untuk beberapa detik lelaki ituterdiam.

"Aku panggil Mila duluya, biarnanti kita gak berdua doang," katanya, lantas berbalikmenuju tempat dimana Kak Mila berada.

Iniadalah salahsatu alasan mengapa aku mengaguminya, KakFatih selalumenjaga pandangan dan batasanterhadap yangbukan muhrim. Sekalipun keadaan ditempat initengah ramai, tapi KakFatih tak pernahberani duduk berdua dengan perempuan.

"Assalamualaikum, Cyra!" Kak Mila datang dengan senyum yangsumringah.

Akumembalas salam jugasenyum KakMila dengan hangat. Dia adalah adik KakFatih, aku mengenalnya sebelum KakFatih datang. Kamibertiga duduk dikursi yang terbuatdari kayu, Cafe ini cukup sederhana, tapiterasa begitu nyaman.

Saat kutahu Kak Fatih memiliki Cafe didaerah Bandung yanglokasimya dekat denganrumah, aku langsung mendatanginya. Bahkanhampir setiap minggu berkunjung kesini.

Apalagi KakFatihsudah jarang mengisiceramah diMasjid seperti biasa, mungkin karena sibuk. Jadi untukmelepasrasa rindu, aku menyempatkanwaktu untuk sekadar menikmatikopi buatannya.

"Mau bicaraapa?" tanyanya, memulaipembicaraan.

"Emm ... Cyra mau tanya sesuatu sama Kak Fatih." Aku menunduk menyembunyikan pipiyang mungkin sudah memerah. "Sebenarnya, KakFatih sayang gaksama Cyra?" tanyaku akhirnya.

Hening, tidakada jawaban.

Aku mulaicemas menunggu jawaban Kak Fatih, kutatap KakMila yang terlihatkeheranan denganpertanyaan konyolyang barusaja keluar. Mungkin dalam pikirannya, akusudah tidakpunya rasamalu sehinggaberani menanyakan hal sepertiitu.

"KakFatih sayang sama Cyra," tutur KakFatih.

Aku mengangkat wajah, lantaskembali menunduk karenamalu. Ternyata KakFatih jugamemiliki perasaan yangsama denganku.

"Kalau Cyra ngajak KakFatih nikah, Kak Fatih mau?" tanyaku lirih.

"Nikah? Bukannyakamu masih sekolah?" KakMila balik bertanya mungkindengan eksprsesi terkejut.

Aku mengangguk. Rasapanas mulaimenyebar disekitar pipi, tak kuasa menahan malukarena berani bertanya hal yang tabupada seorang lelaki seperti KakFatih. Nyatanya menjadi Bunda Khodijah yangmenyatakan perasaannya terlebih dahulu, tidaksemudah yang dipikirkan. Apalagi setelah iniaku harusmendengar jawaban KakFatih yangmungkin tidaksesuai harapan.

"Bentarlagi Cyra lulus sekolah," ucapku pelan.

Hening.

KakFatih takmemberi respon apapun, sedang akumasihsetia menunduk dan menunggu jawaban lelakiyang barudikenal beberapa bulanini. Dalamiati merutuki diri sendiri, betapa tidaktahu maludanagresinya apayang telahaku lakukan.

Ketika Bunda Khodijahmenyatakan perasaannya, diamenggunakan pamannyasebagai pelantara, sedangaku dengan beraninya menanyakan secara langsung.

"Cyra, KakFatih sayangsama kamu, tapiuntuk menikah ... rasanya KakFatih belum siap. Kitaterlalu muda untukmenjalin rumahtangga."

Akuterdiam. KakFatih menolak lamaranku, tapikenapa? Bukankah dirinya juga menyayangiku?

"Usia KakFatih 'kansudah duapuluhlima tahun, bukannya sudahcukup untuk berumahtangga?" tanyaku, takterimadengan penolakandarinya.

Dia menundukbeberapa saat, lantas mendongak danmengalihkan pandanganpada orang-orang di Cafe. "Kamu yang terlalumuda, Cyra. Kamumasih anak-anak, belumcukup dewasauntuk menjalani bahtera rumahtangga. KakFatih juga menyayangi kamu selayaknya adik, seperti Kakak menyayangi Mila."

"Itu karena Kak Fatih menganggap Cyra anak kecil. Cyra udahdewasa Kak, bukan anak-anak yangmerengek memintapermen!" Aku bangkit darikursi, mengambiltas dan pergi meninggalkan KakFatih dengan KakMila.

-

"Lulus sekolah nanti Cyra mau kuliah di mana?" tanya Ummi, saat memperhatikanku yangtengah menggambaruntuktugas Seni Budaya.

"Menurut Ummi Cyra bagusnya kuliah di mana?" tanyakumenatap wajahteduh milikperempuan berhijab maroonitu.

Sebelum Ummimenjawab, Abi yang tengahmembaca Al-Quran dikursi berdehem, entah apamaksudnya. Lalaki yang menjadicinta pertamaku itu, menutup Al-Quran yang tengah ia baca, lantas menatap kami.

"Cyra gak bakal kuliah," katanya.

Aku mengerutkankening, lalu menatap Ummi yangsepertinya juga merasaheran.

"Setelah lulus sekolah, Cyra akan Abi nikahkan."

"Nikah?!" Serentak aku dan Ummi mengucapkankata yangsama, lalu kami saling bertatapan.

Akuberganti menatap Abi, dia mengangguk. Tangankeriputnya membenarkan kopiahhitam yang warnanyamulai pudar, dia terbatuk khas orang tua. Adaberibu pertanyaanyang ingin kukedalkan padanya, tentangapa maksud dari ucapan itu.

Abi bukantipe orang yangsenang bercanda, dia lelakiserius yang setiap katanya mengandung makna.

"Abi dan Ummi sudahtua Cyra, mungkin usiakami tidaksampai tujuh atausepuluh tahunlagi. Tanggungjawab kamihanya tinggalkamu, Humaira dan Hasbi sudah menanggungjawab dan ditanggungjawab. Abi hanya tidakmau suatusaat, ketikakami meninggalkamu akansendiri. Setidaknya kalaukamu sudah menikah, kami akan lebih tenang."

Aku menunduk, tak terasaairmata jatuh membasahipipi. Perkataan Abi begitu menyakitkan, aku bahkan belumpernah memikirkan kehilangan mereka. Aku lupabahwa mereka sudahtua, aku lupabahwa mungkin saja Allah mencabutnyawa mereka kapanpun.

Tapi, aku juga belum siapuntuk menikah. Ini terlalu cepatdan akubelum mempunyai calonimam sama sekali. Ummi mengusap kepalaku, akutahu wanita itu tengah merasa dilema. Di satu sisi ia mendukung jika aku melanjutkan pendidikan, tapi di sisi lain ia juga membenarkan perkataan Abi.

"Cyra masih kecil Abi, Cyra juga belummempunyai calon imam yang akan membimbing Cyra," kataku di selatangis.

Abi menghela napas, dia berjalan menghampiriku dan Ummi. "Cyra, sebelum Abi memutuskan, Abi sudah menyiapkan secara matang. Abi sudahmempunyai calonyang menurut Abi terbaik untuk kamu." Tangannyamengusap lembut kepalaku, lantas beranjak pergi.

-

Jikabukan karenaperkataan Abi kemarin, akutak akan memberanikan diriuntuk melamar KakFatih. Mungkinaku juga tidak akan semalu ini, tidak akansekecewa ini. KakFatih terlalu baikuntuk aku yang tak tahu malu, dia memilikiilmu yangtinggi, sedangkanaku lulusan pondok punbukan.

Ya Allah, terimakasih sudah mematahkanhati hamba-Mu ini. Aku sadarselama inicinta danharapan untukmemiliki KakFatih terlalu besar, sehingga lupajika cinta-Mu lebih penting dari apapun.

Tapi, akubenar-benar mencintai Kak Fatih, akutakut Ya Allah menikah denganorang yangtak dikenal.

"Dek, mau sayaantar pulang?"

Akumenoleh kebelakangmencari asalsuara. Seoranglelaki berkemeja putih, peci hitamdan sarung merahnya, berdirididekat mobilhitam yangtak jauh dari tempatku berdiri. Aku segeramenghapus air mata, kemudianmenggelengpelan lalu lanjut berjalan. Untuk saatini, aku hanya butuh sendiri.

Mungkinjika

waktulalu tidakkutanamkan harapan padahati, rasasakitnya tidakakan sedalam ini, kecewanyatak separahini. Sayang, akulalai dalammenjaga perasaan. Akusudah menduakan cinta untuk Allah, hanyakarena seoranghamba yang menurutkubegitu istimewa.

"Iniudah sore, biarsaya antar,ya," tawarnyalagi.

Aku kembali menoleh.

"Saya bisapulang sendiri," ucapku, tak menunggu balasandari lelakiitu, kaki ini kembalimelangkah.

"Dekawas!" Seseorang menarik tanganhingga membuatkuterjatuh padaaspal.