JoyNovel

Vamos ler O Mundo

APP aberto
Hidup Itu Pilihan

Hidup Itu Pilihan

Autor:Lyuvani

Concluído

Introdução
Fatahillah merupakan anak miskin yang sukses menjadi orang nomor satu di ibu kota. Pada saat acara peresmian gedung Sembagi Arutala, dia menceritakan seluruh kisah hidup orang-orang yang terlibat dengannya di masa lampau. Salah satu kisah yang paling dikenangnya adalah kisah hidup masa lalu seorang pemuda bernama Jaya Karta. Masa lalu seorang Jaya yang bernasib sama dengannya, tetapi memiliki tekad dan kemauan luar biasa untuk berubah. Kehidupan Jaya lah yang juga menginspirasinya untuk kembali semangat menggapai kesuksesan di masa depan. Bagaimanakah perjalanan hidup Jaya yang membuat seorang Fatahillah terinspirasi? Apakah Jaya juga berhasil sukses seperti fatahillah? Inilah kisah panjang perjalanan hidup Jaya Karta dalam mewujudkan impiannya.
Mostrar tudo▼
Capítulo

”Jangan pernah melupakan orang-orang yang berjasa dalam hidupmu”

Hari ini 22 Juni 2018 menjadi momen bersejarah bagi kota Metropolitan. Puluhan ribu orang telah berkumpul memadati halaman dan jalanan sekitar balai kota. Bukan untuk demonstrasi menuntut keadilan atau kesejahteraan, melainkan bersuka cita menyambut peresmian gedung pelatihan khusus warga Jakarta. Gedung tersebut diberi nama Sembagi Arutala. Gedung itu berfungsi sebagai tempat pelatihan warga Jakarta agar memiliki keahlian untuk bekerja sekaligus memajukan ibu kota. Mulai dari pelatihan menjahit, mekanik, elektronika, dan lain sebagainya.

Gedungnya megah menjulang ke langit. Komposisi bangunannya pun dipilih dari material terbaik. Desain dan kontruksinya dirancang secara modern oleh arsitek ternama di Indonesia, yakni Yusuf Bilyarta Mangunwijaya PR. Beliau dijuluki sebagai bapak arsitektur modern Indonesia. Melalui sentuhan tangannya tentu tiada yang akan meragukan kemampuan beliau dalam merancang sebuah bangunan berkelas dunia.

Aku harap kamu melihat ini, gumamku sembari berdiri dan memandangi sesuatu di dalam genggaman tangan kananku. Kini aku tengah bersiap keluar ruang kerja sembari membawa sesuatu yang sangat berharga.

Tok tok tok “Permisi, Pak!” terdengar seseorang dari luar ruang kerja.

“Silakan masuk!” sahutku mengizinkannya masuk.

“Mohon maaf Pak, sudah waktunya kita berangkat ke balai kota.”

“Baik, saya juga sudah bersiap kok. Terima kasih sudah mengingatkan, Lu.” Pungkasku menanggapi dengan tersenyum.

Lulu pun turut tersenyum dan berkata lirih, “Perjuangan harus terus dilanjutkan untuk menginspirasi, memotivasi, dan men-Jaya-kan Jakarta.”

Aku pun segera meninggalkan ruang kerja yang diikuti oleh Lulu dibelakangku. Kami berdua bersiap menuju balai kota. Kali ini Aku mengenakan PDH

Pakaian Dinas Harian

kemeja putih dengan setelan celana hitam sederhana. Sepatu pantopel yang terpasang di kaki pun hanya sepatu biasa, tetapi memiliki kulit mengkilap luar biasa. Semantara itu, Lulu juga mengenakan setelan PDH yang sama khusus wanita dengan tambahan hijab terbalut rapi di kepala.

Mobil sedan hitam berplat merah pasti sudah menunggu kami berdua di depan lobi. Aku mempercepat langkah kaki menuju pintu keluar rumah dinas ini.

Klak… Tepat pada saat membuka pintu, terlihat beberapa orang tersenyum ke arahku. Bahkan burung-burung yang bertengger di pohon sekitar rumah pun berkicau lantang.

Tampaknya pagi ini semuanya sedang berbahagia, ucapku dalam hati. Aku segera menghampiri mobil yang hendak kutumpangi.

“Selamat pagi, Pak.” Sapa penuh keramahan salah satu staf berbaju hitam. “Pagi, Pak Rahmat,” sahutku menanggapinya.

“Pak Rahmat sudah sarapan?” tanyaku memastikan.

“Udah atuh, Pak. Udah pernah maksudnya hehe.” Jawabnya sembari tertawa kecil dan menundukan kepala.

“Aish, Bapak ini bisa saja haha.” Responku sembari menepuk pundaknya.

“Lalu, apa bapak sekarang sudah siap mengantar kami ke balai kota?” tanyaku melanjutkan pembicaraan dengannya.

“Kalau itu mah siap 86 atuh, Pak. Walaupun saya belum sarapan, Saya teh udah makan 3 roti sama susu. hehe.” jawab Pak Rahmat dengan logat sundanya.

“Ahahaha, itu namanya sudah sarapan, Pak.” Ujarku sembari tertawa.

“Ya namanya juga Pak Rahmat, kalau pagi belum makan nasi belum dianggap sarapan, Pak.” Pungkas Lulu yang sedari tadi berdiri di belakangku merespon perkataan Pak Rahmat sembari melempar tawa kecil akrabnya.

“Hehe, si Ibu mah bisa aja.” respon Pak Rahmat.

“Kalau begitu, mari sekarang kita berangkat menuju balai kota.” Ucap tegasku memberi intruksi kepada seluruh staf yang bertugas pagi ini. Kami pun segera menaiki kendaraan yang tersedia dan berangkat ke balai kota. Kendaraan yang digunakan terdiri dari 4 mobil dinas dan 5 motor polisi. 4 mobil dinas tentunya berisi para staf pemprov DKI Jakarta. Sementara itu, 5 polisi mengendarai motor untuk mengawal perjalanan kami. Perjalanan kami hanya membutuhkan waktu sekitar 20 menit.

Aku akan selalu ingat kebaikanmu, perjuanganmu, jasamu, nasihatmu, motivasimu, dan semangatmu, ucapku dalam benak yang terus bergejolak sepanjang perjalanan menuju balai kota. Aku terus mengingat fakta bahwa sesuatu telah membuatnya pergi secara tiba-tiba. Aku bahkan selalu menitikan air mata jika mengingat peristiwa itu. Sempat terlintas dikepalaku bahwa mungkin dia adalah malaikat yang sengaja dikirimkan Tuhan untuk menyinari jalan kesuksesan kami. Dia benar-benar menjadi cahaya ketika dunia kami gelap gulita. Mungkin kami semua masih berada di tempat kotor dan menjijikan jika tidak ada yang berteriak setiap pagi di masa itu.

“Sekitar sepuluh menit lagi kita akan sampai balai kota, Pak.” Ucap Lulu sembari menatapku melalui kaca sepion yang tergantung di dalam mobil.

“Apa,Lu? Oh sudah mau sampai ya? Ok.” Jawabku spontan yang agak terkesiap.

“Apa bapak baik-baik saja? Mohon maaf Pak, saya melihat bapak terus menunjukan tatapan kosong keluar jendela mobil sepanjang perjalanan,” lanjut Lulu memastikan.

“Oh gapapa-gapapa,” jawabku santai. “Oh iya, ketua pelaksana kegiatan kali ini siapa ya, Lu?”

“Hmm… Karena ini acara spesial, Saya minta Oppa Man-Shik yang jadi ketua pelaksananya, Pak.” Jawab Lulu sembari menyeringai dan mengangkat kedua alisnya.

“Apa? Man-Shik? Haha” bersamaan dengan respon keterkejutanku itu lulu menganggukan kepalanya dengan antusias.

Sementara itu, situasi dan kondisi di balai kota semakin riuh suara obrolan lautan manusia. Para panitia juga turut sibuk mempersiapkan tempat dengan baik. Bahkan Man-Shik sudah mewanti-wanti kepada para panitia agar tak melakukan kesalahan. Man-Shik menginginkan seluruh panitia bertugas secara profesional dan sempurna.

“Hei Opik! Hei! Agak cepet kalau jalan! Bawa meja kecil aja letoi!” Ketus Man-Shik yang sedari tadi berdiri di panggung utama sembari bertolak pinggang mengawasi para panitia.

“Hei yang pake baju merah, itu sebaris kursi di belakang lo rapikan dong! Agak cepet lah!” lanjutnya memerintah.

“Hoy Man-Shik jangan marah-marah mulu dong. Nanti otak marah Lo rusak loh hahaha.” teriak seorang wanita dari sisi kanan panggung utama.

“Sstt! Diem! lu siapa sih?” Bersungut Man-Shik memalingkan wajah 90º ke arah sumber suara. Betapa terkejutnya dia ketika mengetahui bahwa itu adalah Devi Nanda Sari. Man-Shik benar-benar mematung dengan mata yang membulat.

Man-shik berkata penasaran, “Wait…Wait… Gue kayanya kenal Lo deh.”

“Annyeong Haseyo, Man-Shik.” Goda Devi riang sembari melambaikan kedua tangannya ke arah Man-Shik.

Seketika Man-Shik benar-benar menatap tajam Wanita itu. “Astaga naga, Gemblong Belanda! Gila berubah banget penampilan Lo.” Tebak Man-Shik yang tak menyangka Devi muncul di hadapannya.

“Ssstt! Setop bilang Gemblong. Lo tuh dari dulu masih aja manggil Gue Gemblong.” protes Devi.

Man-Shik pun terus menggoda, “Yeuh, gemblong tuh manis kaya Lo kali.”

“Aish haha. Eh turun lo cepet dari situ! Gue dapet chat dari Lulu katanya rombongan segera sampai.” Perintah Devi kepada Man-Shik.

Belum sempat Man-Shik merespon perintah Devi, ternyata rombongan yang ditunggu benar-benar sudah sampai dengan memberi kode sirine motor polisi yang khas.

Thod…Thod…Thod…Thod… Wiiiiuuuuwww… wiuw…wiuw…wiuw…

Man-shik dan Devi bergegas ke tempat yang telah disediakan untuk memberi salam hormat kepada gubernur Jakarta.

Tampak rombongan yang membawa orang nomor 1 di Jakarta itu sudah sampai tepat waktu. Orang-orang yang hadir saat itu kompak bersorak menyambut kedatangan rombongan. Sorak sorai yang mengindikasikan kalau rakyat bahagia dipimpin olehnya.

Modal utama sukses adalah kerja keras yang diiringi doa dan ridho orang tua. Saat ini memang kita masih di bawah, tapi ini bukan lubang yang menghempaskan perjuangan kita menjadi ampas. Tidak ada orang yang gagal selama dia terus mencoba sepanjang hidupnya. Kita pasti bisa, ucapannya kala itu terus terngiang dalam jiwaku. Aku benar-benar tergugah karena kalimat itu dan kini aku berpijak di sini menerima sambutan kebahagiaan dari jutaan orang. Aku pun turun dari mobil dengan melambaikan tangan kananku ke arah orang-orang. Aku Segera berjalan menuju kursi terdepan yang telah di sediakan.

“Assalamualaikum Wr. Wb, selamat datang kami ucapkan kepada Bapak Gubernur DKI Jakarta beserta rombongan … “Ucap pembawa acara itu memberikan sambutan padaku sekaligus memulai acara hari ini dengan kalimat-kalimat sebagaimana pembawa acara lain memulai.

“Selanjutnya, kita memasuki acara inti, yakni sambutan sekaligus peresmian gedung Sembagi Arutala oleh Bapak Gubernur DKI Jakarta. Kepada Bapak H. Fatahillah, MH. dipersilakan.” ucap si pembawa acara sembari bertepuk tangan. Seluruh orang yang hadir turut memberikan tepuk tangan yang sangat meriah.

“Assalamualaikum Wr. Wb, salam sejahtera bagi kita semua, Om swastiastu, Namo buddhaya, salam kebajikan. Saya ucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah mempersiapkan seluruh acara ini dengan baik. Terima kasih juga kepada seluruh rakyat Jakarta yang menjadikan acara ini sangat meriah.” Ucapku sangat bersemangat.

Aku kembali melanjutkan sambutanku, “Hari ini adalah hari bersejarah bagi kita semua. Sang Sembagi Arutala sudah berdiri kokoh di hadapan kita semua. Gedung yang akan menjadi simbol bangkitnya perekonomian dan kehidupan sosial di Jakarta. Gedung yang siap memfasilitasi warga Jakarta untuk bisa hidup bahagia dan sejahtera. Gedung ini akan memberikan pelayanan kepada warga Jakarta secara gratis.”

Sontak seluruh orang yang menghadiri acara itu bersorak dan bertepuk tangan. Kata gratis seperti mempunyai kekuatan magis. Berbagai teriakan kebahagiaan pun sempat ku dengar, mulai dari “Yeah gratis.” “Alhamdulillah….” “Semoga bapak Panjang umur, Pak.” “Aku padamu, Pak” “Top banget lah good bener gue.”

Aku kembali berbicara, “Gedung ini murni inisiatif dan mimpi dari seseorang yang sangat berarti bagi kami. Keberadaan saya berbicara disini pun berkat dorongannya. Kami tidak mungkin menjadi seperti ini, jika dia tidak ada. Kalian pasti penasaran siapa yang dimaksud Dia dan Kami??? Sebelum saya beritahu jawabannya, izinkanlah saya menceritakan sedikit kisah hidupnya kepada kalian.” Sebagian besar dari mereka mengacungkan jempol tangan ke udara. Semua orang tampak setuju atas permintaanku. Aku berharap kisah ini akan menjadi inspirasi semuanya dan bisa menumbuhkan mental menang serta menghancurkan mental pecundang.