JoyNovel

Vamos ler O Mundo

APP aberto
Jodoh Alternatif

Jodoh Alternatif

Autor:Nirmalawangsa

Concluído

Introdução
Hari di mana kakaknya menikah, menjadi hari duka bagi Zahra. Sarah dibawa kabur mantannya, dan untuk menjaga nama baik keluarga dua belah pihak, Zahra dipaksa menikah dengan Anton yang seharusnya menjadi kakak ipar, padahal dia sangat tidak menyukai Anton karena pernah terlibat masalah. Demi orang tua yang sangat ia sayangi, dengan terpaksa Zahra menjadi Pengantin Pengganti. Apakah Zahra dan Anton bisa mempertahankan rumah tangga yang dibangun tanpa cinta? "Mas, ceraikan Zahra dan menikahlah denganku." Sarah kembali hadir membawa seorang anak perempuan yang katanya darah daging Anton.
Mostrar tudo▼
Capítulo

Sarah dan Zahra tidak seperti kakak-adik kebanyakan yang hidupnya rukun. Jika mereka berdua bernapas dalam ruang yang sama, pasti terjadi pertengkaran, seperti saat ini.

“Kamu bisa nggak, sih, kerjain semuanya sendiri tanpa melakukan kesalahan?!” Sarah membereskan pecahan beling di lantai.

“Bisa dong, Kak. Lagian aku nggak pernah minta bantuan Kak Sarah, ya.” Zahra mendekat, ingin bertanggung jawab atas perbuatannya.

“Jangan ke sini bodoh! Nanti kalau kamu luka aku yang kena marah sama Bunda. Dikiranya aku yang nggak bisa jaga kamu, padahal kamu yang susah dibilangin. Dasar merepotkan.”

Zahra terdiam, menatap Sarah kesal. “Kalau Kak Sarah bantu aku sambil marah-marah dan ngata-ngatain aku, mendingan nggak usah, deh. Aku bisa sendiri.” Ia mencekal tangan Sarah lalu menghempaskannya.

Zahra dengan santai meraup pecahan gelas bekas tehnya lalu menaruh ke pengki, merebut sapu di tangan Sarah dan membersihkan semua kekacauan. Telapak tangannya berdarah, sekuat tenaga Zahra menahan tangis walau air matanya berlinang. Dia membawa sapu dan pengki berisi pecahan beling tersebut, melewati Sarah yang hanya bergeming.

Di kamar, dengan bersusah payah Zahra melakukan perban seadanya agar pendarahan bisa diminimalisir. Setelah itu dia beranjak keluar membawa kunci mobil. Ia tidak melihat keberadaan Sarah, tapi itu tidak penting baginya. Sebelum dia berlari menuju garasi, dia melihat Sarah dalam mobil.

“Ayo naik, aku antar ke Klinik.”

“Aku bisa sendiri.” Zahra melengos ke garasi.

“Bisa nggak sih, kamu nurut sama aku? Kamu nggak mungkin bisa nyetir sendiri, biar aku antar. Ayo, darah kamu keluar semakin banyak!” Sarah terlihat khawatir, dia membuka pintu mobil sisi kiri pengemudi.

“Aku mau dianterin Faisal aja.”

“Faisal lagi keluar sama pacarnya!”

Zahra melirik telapak tangan, sakitnya kian bertambah. Oke, kali ini dia akan mengikuti perkataan Sarah. Zahra menghampiri mobil Sarah, mengabaikan pintu depan yang disiapkan Sarah, beralih membuka pintu penumpang bagian belakang dengan susah payah.

Sarah menghela napas, “Jangan merepotkan diri sendiri dan orang lain, please! Stop bertingkah menyebalkan, jadilah adik yang baik.” Setelah kakaknya berkata demikian, Zahra merasa tubuhnya dipaksa untuk masuk ke kursi depan.

Sepulang dari Klinik, Faisal dan Ibnu pulang ke rumah. Zahra menghampiri adik laki-laki pertamanya di sofa, menatap penuh selidik. "Kamu abis dari mana?"

"Main sama temen, Kak." Faisal melirik Zahra sekilas. Lalu matanya beralih pada perban di kedua tangan Zahra.

"Kak, tangannya kenapa?!" Remaja berusia 17 tahun itu panik, membenarkan posisi duduk sambil menatap Zahra khawatir.

"Kena pecahan beling. Tadi aku mau minta anterin kamu ke Klinik, tapi kata Kak Sarah kamu pergi sama pacar kamu. Sejak kapan kamu pacaran?"

Ekspresi Faisal seakan habis ketahuan maling ayam, wajahnya pias. Zahra melontarkan pertanyaan yang semakin memojokkan adiknya, karena di keluarga mereka sangat dilarang berpacaran di usia remaja. Sebenarnya bukan jenis keluarga yang agamis, hanya saja mereka menganut prinsip untuk harus serius dalam berhubungan. Jadi biasanya itu dilakukan saat benar-benar siap untuk melanjutkan ke jenjang pernikahan. Anak SMA mana yang berhubungan untuk langsung menikah? Sangat amat jarang mendapati yang seperti itu, bukan?

"Jawab Kakak, sejak kapan kamu pacaran?"

"Tapi, Kak. Kakak janji nggak akan bilang-bilang ke Bunda dan Ayah, ya?"

"Tergantung, kalau kamu pacarannya macem-macem dan bisa ganggu pendidikan, Kakak sendiri yang nyamperin cewek kamu biar jauhin kamu."

"Ya gimana, sebenernya aku juga baru jadian, Kak. Perjuangan dapetin dia setengah mati, masa iya Kak Zahra tega membuat semua perjuanganku sia sia."

"See, belum apa-apa kamu udah berjuang sekeras itu, Kakak nggak kebayang kalau cewek itu cuma manfaatin kamu. Apa kamu bakal rela mati buat dia?"

"Ya aku nggak sebego itu juga kali, Kak. Kalau dia merugikan, tinggal aku putusin."

"Nah, bagus! Kalau begitu besok kamu harus putusin pacar kamu."

"Kakak ngajak berantem? Hayu!"

"Kamu berani melukai Kakak cuma buat cewek itu?" Zahra melotot galak.

"Enggak, bukan gitu, Kak. Auk ah, terserah Kakak aja, aku males debat sama cewek. Kenapa sih, cewek tuh ngeribetin? Untung Kakak sendiri, kalau bukan udah gue sleding." Faisal mendumel menjauhi Zahra yang kebingungan, "bagian mana yang salah dari perkataanku?"

= = =

Makan malam berlangsung, anggota keluarga berkumpul. Tak elak perban di tangan Zahra menarik perhatian kedua orang tua dan adiknya. Dengan suara panik, Bunda bertanya sambil menghampiri posisi Zahra. Zahra adalah putri kesayangannya, jadi apa yang menimpa gadis itu pasti menjadi pusat perhatian.

Zahra diam tak menjawab, lalu Bunda beralih pada Sarah. “Sarah, kamu kenapa bisa lepas pengawasan? Tangan adik kamu kok sampe diperban dua-duanya?”

“Bunda, adik Sarah itu usianya sudah kepala dua, bukan lagi balita yang tiap jamnya perlu Sarah awasi.”

“Tapi selama kamu nggak di rumah, Zahra selalu baik-baik aja,” ujar Bunda.

“Perkataan Bunda secara nggak langsung nuduh kalau tiap Sarah di rumah, Zahra akan celaka begitu?”

“Bukan begitu, Nak. Maksud Bunda,”

“Bunda bisa tanyakan langsung ke Adik Sarah, apa alasan dia menyakiti diri sendiri.”

“Tapi kamu kan kakaknya, harusnya bisa melindungi adik kamu!” Suara Bunda naik satu oktaf.

Zahra menatap khawatir pada Sarah yang menunduk dalam. Faisal dan Ibnu hanya diam tidak ingin ikut campur, mereka akan dapat masalah jika membela salah satu di antara kakak perempuannya.

“Dari kecil Sarah selalu berkorban, melakukan apapun untuk melindungi Zahra. Kalau Zahra selalu dapat perlindungan dari Sarah, lantas Sarah minta perlindungan ke siapa?”

Mendadak suasana hening. Ayah yang sedari tadi diam akhirnya berujar, “Zahra sudah besar, apa yang menimpanya adalah tanggung jawabnya sendiri.” Ayah beralih pada Zahra yang masih diam, “tangan Zahra kenapa diperban?”

Zahra menatap Ayahnya bingung hendak memulai cerita dari mana. Dia melirik Sarah sekilas sebelum akhirnya menceritakan semua kejadian siang itu sebisanya, tidak ditambah atau dikurang.

“Kalian berdua nggak ada yang bantuin Kakak?” Bunda menatap kedua anak lelakinya.

“Maaf Bun, hari ini Ibnu nggak di TKP, ada les privat buat Ujian Nasional.” Ibnu memasang ekspresi santai, bocah yang masih duduk di kelas 6 Sekolah Dasar itu sudah bosan dengan konflik kedua kakaknya yang baginya tidak penting.

“Faisal ada urusan sama temen, udah izin ke Kak Sarah.” Faisal melirik Sarah sekilas, lalu beralih pada Zahra memasang ekspresi memohon, takut kakaknya memberitahu Bunda apa yang mereka bicarakan tadi sore.

Bunda menoleh pada Sarah yang terlihat menghela napas berat. “Mengingat sikap Zahra yang nggak akan nurut sama perkataanku, harusnya Bunda tahu apa yang terjadi.”

Sarah menatap Zahra datar, sedangkan Zahra tak acuh. “Sebenarnya, Sarah ke rumah ini bukan untuk mencari masalah dengan Zahra. Sarah ingin memberitahu hal penting, bulan depan Sarah akan menikah dengan laki-laki pilihan Sarah sendiri.”

Bunda baru saja akan berbicara sebelum Ayah menahannya, “Pastikan akhir pekan ini, laki-laki itu datang menghadap Ayah.”

“Baik, Ayah,” jawab Sarah patuh.

Mendengar informasi penting itu, Zahra senang bukan main. Hanya butuh waktu sebulan untuk dia tak lagi berurusan dengan Sarah. Kebebasannya akan datang sebulan lagi. Dia janji akan menjadi adik yang baik, sebagai balas budi karena Sarah menjaganya dari kecil.

= = =

~ Jodoh Alternatif ~

N I R M A L A W A N G S A