JoyNovel

Vamos ler O Mundo

APP aberto
Miss Hadid

Miss Hadid

Autor:Acha Lea

Concluído

Introdução
Emma Veronica Hadid, seorang wanita karier yang bertekad untuk tidak menikah sampai usianya mencapai kepala empat. Emma tidak percaya dengan pernikahan, baginya itu konyol. Sampai ia tidak ingin merasa jatuh cinta dan dicintai. Hingga suatu ketika, Emma bertemu dengan seorang pria aneh yang jatuh cinta padanya. Pria yang suka sekali menyanjung dirinya ketika yang lain mengacuhkannya. Awalnya membuat Emma merasa bahwa ada yang tidak beres dengan pria ini. Sampai akhirnya Emma menyadari sesuatu yang berakhir pada, jatuh cinta.
Mostrar tudo▼
Capítulo

Suara tapak kaki terdengar. Sepertinya ada seseorang yang sedang berjalan ke arah seorang wanita dewasa di dalam sebuah ruangan, sedang duduk sambil menatap komputer tempatnya bekerja. Sebab, wanita itu kini bekerja di departemen media sosial, yang di haruskan melakukan promosi melalui device seperti komputer atau laptop.

"Emma, ada panggilan mendesak dari Mrs. Panson," ujar seorang pria tua yang memanggilnya hanya dengan sebutan nama saja. Sebenarnya hal seperti itu sah-sah saja dalam dunia kerja. Namun, bagi wanita yang satu ini tidak seperti itu. Ia ingin semua orang memanggilnya dengan cara yang terhormat.

Yang dipanggil, hanya menatap mata pria itu dengan gambaran bara api di matanya yang indah.

"Menjengkelkan," batinnya kesal.

Huh, Emma menghela napasnya kasar saat pria tua itu memanggilnya begitu. Bukan hanya itu saja, ia juga jengkel mengapa wanita sombong itu memanggilnya? Mendesak lagi?

"Cih, Stella, wanita sombong itu," cibirnya sambil meludah ke sembarang arah.

Pria tua yang baru saja berhenti berjalan dan sekarang sedang berada di hadapannya itu langsung membulatkan matanya. Sebenarnya setiap hari Emma selalu bertingkah seperti itu, tidak sopan. Gila, itulah sebutan yang cocok untuknya.

Meski Emma adalah wanita dewasa, namun tidak bisa dipungkiri bahwa ia memiliki sifat dan perilaku yang sangat bertolak belakang dengan sifat wanita kebanyakan. "Anggun" atau "Sopan" setidaknya seperti itu, Emma tidak bisa melakukannya. Wanita itu pemarah, kasar, dan memiliki temperamen yang buruk. Hampir semua orang di tempat kerja ini tidak menyukainya. Meski hanya di bobotkan dengan wajah cantik saja, namun memiliki kelakuan minus tidak akan membuatnya disukai oleh banyak orang.

"Apa yang kau lakukan, mengapa kau menghina Mrs. Panson?" ujar pria tua itu dengan membentak Emma.

Wanita itu menyeringai, kalau saja keadaan terbalik dan Emma yang berada di posisi Mrs. Panson, pasti pria tua ini tidak akan berbicara dengan intonasi yang tinggi seperti pria tua ini berbicara dengan dirinya.

Wanita itu maju satu langkah untuk mendekati pria tua itu, lalu seketika itu juga ia menampakkan sebuah senyuman seperti meremehkan pecundang.

"Apa semua orang tua sepertimu memang sama menyebalkannya?" sarkas Emma. Perkataannya sangat tajam. Sampai membuat pria itu hampir meluapkan emosinya.

Pria tua dengan nama panggilan ; Dorold itu menegakkan kepalanya sambil menggeleng tidak percaya akan perkataan buruk yang keluar dari mulut Emma.

Tak ingin membalas, atau nanti akan menjadi lebih buruk lagi. Dorold langsung pergi meninggalkan tempat itu, beserta Emma yang masih ada di dalamnya.

"Padahal dia tidak setara dengan Mrs. Panson, tapi perkataannya selalu tinggi, seolah kastanya lebih tinggi dari Mrs. Panson," batin Dorold sesaat sebelum pergi dan keluar dari ruangan.

Emma dengan tabiat buruknya, membuang napasnya kasar lalu sedikit mengibaskan rambutnya. Seperti hawa panas langsung menyerang dirinya.

Sebenarnya ia benci berdebat seperti ini, karena kalau sekalinya ia sudah berdebat, maka emosi dalam dirinya akan langsung meluap begitu ia membuka mulutnya.

Sejenak ia merenungkan diri, rasanya seakan hampa. Entah apa yang membuatnya merasa seperti itu.

Sedikit, ia lalu tersenyum sedikit. Sudah lama Emma tidak pernah tersenyum kepada dirinya sendiri. Bahkan mungkin ia hampir lupa cara untuk tersenyum.

"Kau istimewa," ujar Emma sembari menatap pantulan dirinya di cermin.

***

Emma Veronica Hadid. Tak pernah habisnya wanita satu ini yang bernama Emma, membuat masalah di depan umum. Bahkan saat di tempat kerjanya saja seperti sekarang, Emma telah membuat kerusuhan. Seperti..

"HEI KALIAN SEMUA LIHATLAH KESINI!" seru seorang wanita yang mereka panggil sebagai wanita gila. Mulai bertingkah lagi.

Semua orang yang berada di satu ruangan itu saling menatap satu sama lain. Malas rasanya dan tidak ingin mendengar ocehan tidak jelas yang keluar dari mulut Emma.

Emma menyeringai, lalu wanita itu berjalan lenggak lenggok dengan mengenakan high heels nya yang setinggi 3 cm, serta bajunya yang berwarna merah menyala. Membuatnya tampak jelas menjadi sorotan bagi orang-orang di sekitar.

"Apa yang sudah dilakukan wanita gila itu di tempat yang suci ini?!" geram salah satu dari mereka di sana.

Tempat yang mereka sebut suci itu adalah tempat dimana mereka semua istirahat sebentar dari dunia kerja dan mengambil makanan mereka. Bisa dibilang seperti restoran punya tempat kerja mereka.

"Ahhh aku tidak bisa mengerti wanita yang satu ini," gumam salah satu wanita circle paling julid di kantor.

Pasti ada bukan, salah satu circle wanita julid di sebuah kantor tersebut? Banyak omong tapi tak banyak berbuat.

Emma mendekati wanita yang namanya sudah terkenal di kalangan warga kantor karena koneksinya disana, Mrs. Panson. Bukan pemilik perusahaan, bukan juga bos atau CEO dari mereka pastinya. Hanya seorang istri dari seorang pria yang pernah terkena scandal besar dua tahun lalu. Namun namanya itu cukup dikenal di kalangan orang perusahaan, sebab suami dari Mrs. Panson itu adalah teman akrab CEO di perusahaan pusat. Karena kantor mereka terbagi menjadi dua, yaitu satu di kantor pusat. Berisi CEO dari setiap departemen. Sementara kantor yang saat ini tempat Emma di pekerjakan adalah kantor cabang yang khusus untuk mahasiswa magang dan departemen media sosial.

"Selamat datang kembali, Stella," ucap Emma sambil mengejek Mrs. Panson secara langsung di hadapannya.

Semua orang yang berada di sana langsung berbalik arah dan membicarakan tabiat buruk, Emma. Lagi dan lagi.

Mrs. Panson tertawa cringe, lebih tepatnya tawa yang menghasilkan sebuah emosi.

"Mengapa kau tidak pernah sopan kepadaku?" geram Mrs. Panson pada akhirnya terpancing emosi karena Emma.

Emma melihatnya seolah ia pura-pura takut.

"Oh tidak! Kau akan membunuhku jika aku berbicara tidak sopan kepadamu, oh ratuku!" sindir wanita gila ini kepada wanita sombong itu.

Keadaan menjadi semakin panas. Mrs. Panson masih saja menjaga image nya karena tidak ingin orang-orang di perusahaan yang melihatnya mengeluarkan sifat aslinya.

"Apa yang kau lakukan disini, kau mengabaikan panggilan mendesak dariku tadi pagi?" ucap Mrs. Panson, masih menjaga amarahnya.

Emma tersenyum. Seolah ia terlihat sangat ramah.

"Kalau aku bilang iya, apa itu mengganggumu?" balas Emma.

Mrs. Panson seolah bersiap untuk melayangkan tangannya dan menampar pipi wanita di hadapannya. Sampai akhirnya semua orang di perusahaan lantas melihat Mrs. Panson yang hampir hilang kendali atasnya.

Hati Emma terasa puas sekali saat melihat ini. Biarkan saja mereka semua tau bagaimana sifat asli iblis satu ini. Emma akan membongkar semuanya!

"Apa yang dia lakukan? Mengapa dia terlihat seperti pecundang?" cibir beberapa orang disana.

Yah, panah yang Emma luncurkan tidak meleset. Benar dan tepat sekali!

Emma tertawa dalam hati, lantas ketika ia melihat mata Mrs. Panson yang amat lebar karena emosi itu langsung tersenyum puas sambil memperlihatkan sederet gigi putihnya.

"Ah ya, aku mencicipi ini satu," ucap Emma yang langsung mengambil salad buah di belakang Mrs. Panson persis. Sambil ia mengatakan sesuatu yang membuat Mrs. Panson langsung geram.

"Kau harus tau bahwa semua orang akan melihat sifat iblismu suatu hari nanti," kata nya.

Setelah mengambil salad buah, Emma pergi dan keluar dari tempat itu. Ia masih tetap tersenyum seolah hari itu hari paling bahagianya. Membuatnya menjadi sorotan di suatu ruangan besar itu.

Prak prak prak

Emma yang melakukan, Emma yang menepuk tangan untuk dirinya sendiri.

Wanita itu tersenyum miring, seolah ia telah menjadi bayangan iblis berhati malaikat untuk manusia yang bersifat iblis.

"Dia hebat bukan?"

"Aku tidak menyangka dia akan berbuat seperti ini,"

"Sudahlah, kau seperti tidak tau Miss Emma saja,"

"Dia memang sungguh luar biasa,"

"Sebenarnya dia lebih pantas disebut iblis atau malaikat?"

Beberapa suara itu berasal dari mulut orang-orang, yang tentunya sedang membicarakan Emma atas aksi mengejutkannya tadi.

Namun, ada satu orang yang sepertinya terlihat diam saja namun ada ketertarikan dalam hatinya terhadap perbuatan Emma tadi.

"Hmm.. Dia cukup berani," gumamnya sambil tersenyum tipis.

"Aku tertarik dengannya," ujarnya lagi sambil memikirkan suatu hal.