JoyNovel

Vamos ler O Mundo

APP aberto
From Me To You

From Me To You

Autor:Kwonjiral

Concluído

Introdução
Apa itu cinta? Menurutku sendiri cinta itu adalah pengorbanan secara tulus dan ikhlas. Itulah cinta yang sesungguhnya. Saat kau merasa jantungmu seakan ingin melonjak dari dadamu ketika berdekatan dengannya. Saat dimana perasaanmu bercampur menjadi satu. Entah itu kesedihan,kemarahan dan kebahagiaan. Cinta, membuatmu merasakan perasaan sakit saat harus menutupinya. Itulah yang dirasakan Riya, seorang gadis SMA biasa yang tanpa sadar menyukai “guru” sekaligus kakak sahabat kecilnya. Cinta yang tak bisa digapai, bahkan tak bisa Ia utarakan. Cinta yang tak terbalas. Banyak surat yang Riya tulis sebagai perantara perasaannya namun tak pernah sampai pada sang pujaan hati. Lalu, bagaimanakah cara Riya mengutarakan perasaannya jika seperti itu? Mungkin kamu juga pernah merasakannya, jika iya maka berbagilah bersamanya.… “Bukan salahmu jika kamu mencintainya namun dia tidak. Selama dia pantas dicintai, selama dia layak dicintai.” (Sophie, C.A).
Mostrar tudo▼
Capítulo

Betun,Mei 2020.

Dear kamu,,,

Hai kamu yang mengenggam perasaanku. Sudahkah kamu sadar? Cinta pertamaku yang berharga namun tak bisa kumiliki. Aku jatuh,,,jatuh dalam lubang tak berdasar, ke jurang tak bertepi, yang dinamakan cinta. Aku ingin kau raih dan selamatkan, namun itu hanyalah sebatas angan memeluk bulan. Kau sangat dekat tapi terasa jauh. Berangan itu wajar menurutku, berimajinasi itu indah karena kau yang menjadi tokoh utamanya. Kau yang kusayang namun malangnya kau datang dalam keadaan “milik” orang lain. Lalu apa yang harus kulakukan dengan perasaan ini? Katakan padaku jika kau punya jawabnya. Namun, aku tak bisa menunggu lebih lama lagi, karena sudah kutemukan jawabannya. “Mencintai dengan tulus, relakan dengan ikhlas.” Bahagialah!

Setitik air turun dari sebelah mata Riya, dengan cepat dihapusnya agar tak ada yang melihat. Ia melipat kertas itu menjadi dua bagian lalu memasukkannya ke dalam amplop berwarna biru bermotif panda. Matanya melirik tulisan dibelakang amplop itu, From dan To yang berarti kemana surat itu akan diberikan. Segera diisinya dengan tulisan yang sudah biasa ia tulis yaitu From Me, To You. Riya beranjak dari meja belajarnya dan menaruh amplop berisi surat itu kedalam laci lemari dan menguncinya rapat-rapat. Didalam laci itu berisi banyak sekali surat serupa dan tak pernah sekalipun terkirim.

Riya meregangkan tubuh sejenak karena kelelahan duduk. Jam di dinding sudah menunjukkan pukul 22:30 malam. Itu berarti ia harus segera tidur karena besok harus kembali ke sekolah. Riya menutup matanya namun ia susah terlelap, Riya memang mengalami kesulitan tidur sejak memasuki bangku SMA. Ia tak tahu penyebab pastinya apa namun itu semua terjadi karena rasa stress akibat kegiatan yang berlebihan di sekolah.

Selang beberapa jam matanya baru mulai terasa berat dan ia tak ingat apa-apa lagi selain langit-langit kamarnya.

Suatu sinar dari celah jendela menyelinap masuk, membuat Riya mengerutkan dahi dalam tidurnya. Ia membuka matanya perlahan. Saat Riya menyibak selimutnya dan akan turun dari tempat tidur, terdengar ketukan pintu dan sebuah suara lembut terdengar.

Tok! Tok! Tok!

“Riya, bangun nak!”

“Iya bu! Riya udah bangun kok.”

“Ya sudah kalau begitu. Cepat mandi!”

Riya mendengar suara langkah kaki ibunya menjauh dari pintu kamarnya. Diliriknya jam yang menempel di dindingnya yang menunjukkan angka 4:00. Ia segera turun dan membersihkan tempat tidurnya, kebiasaannya setiap pagi. Ia keluar kamar setelah mengikat rambutnya dan menuju dapur untuk memasak.

Saat sampai di dapur ia melihat ibunya sedang menyapu halaman belakang. Ia segera memulai pekerjaannya agar tidak terlambat ke sekolah. Riya menyapu keringat di dahinya menggunakan punggung tangan,

Akhirnya selesai, gumamnya dalam hati.

Riya mengambil handuk putih yang tergantung di jemuran dan pakaian ganti lalu mulai masuk ke kamar mandi. Ia hanya menghabiskan waktu 5 menit untuk mandi dan segera ke kamar untuk berganti pakaian dengan seragam sekolahnya yaitu kemeja putih dengan rompi biru, dasi dan rok berkotak dengan warna cokelat karena hari ini hari rabu. Setelah itu ia menyisir rambut,memakai sepatu lalu merapikan buku sesuai jadwal pelajaran hari ini.Ia bertemu ibunya saat akan berpamitan,

“Bu, Riya pamit ya bu,” katanya lembut.

Ibunya yang biasa disapa bu Viana pun memberikan tangannya untuk dicium Riya.

“Hati-hati ya nak.” Balas ibunya.

Riya segera menaiki motor beat putihnya dan melaju perlahan menuju ke sekolah. Sekolah Perdana namanya, sekolah yang baru dibentuk 3 tahun dan Riya bersama teman-temannya adalah angkatan pertama di sekolah itu.

Motor beat itu diparkirkannya di halaman sekolah setelah sampai dan mematikan motor itu, lalu berjalan menuju ke ruangan kelasnya. Riya menghirup nafas dalam-dalam, hari ini adalah hari kelulusan. Semua kenangan yang dibuat di sekolah ini pun akan ia ingat selamanya. Karena beberapa alasan, sekolah membolehkan siswa menerima surat kelulusan tanpa orang tua.

“Selamat pagi Ri!” sapa salah satu temannya.

“Pagi!” balas Riya singkat.

Berat rasanya meninggalkan sekolah, namun itu tidak bisa dihindari. Riya mengedarkann pandangan ke seluruh halaman sekolah yang tengah ramai oleh siswa kelas 12. Ia akan merindukan sekolah ini, dan juga para guru, termasuk “Dia”. Matanya berhenti tepat pada seorang laki-laki tinggi yang tengah berbincang dengan para guru. Ingatannya kembali pada beberapa tahun lalu, saat semuanya masih terasa asing dan saat “Dia” menatapnya pertama kali. Kisahnya akan berakhir sekarang, mari kita mulai dari awal.

9 tahun lalu,

Di teras sebuah rumah,dua orang anak perempuan sedang bermain. Keduanya terlihat senang dan bermain dengan tenang,

“Utari, kamu masak apa?” tanya salah satu anak pada yang lain.

“Aku masak sup ayam, kalau kamu masak apa Riya?”Utari menoleh.

“Aku masak sayur itu,”Riya menunjuk kaleng berisi daun-daun yang ditaburi sedikit pasir.

“Nanti makannya sama-sama ya.” Kata Utari sambil berdiri membersihkan sisa-sisa pasir yang ada di tubuhnya.

Mereka tengah bermain di rumah Utari. Saat Riya akan menjawab tiba-tiba terdengar suara musik yang indah, suara itu berasal dari kamar yang berada di sebelah teras tempat mereka bermain. Karena berdekatan, suara itu membuat keduanya menoleh,

“ Utari, itu suara apa?”

“Itu suara viol yang dimainkan kakakku.”Utari tersenyum.

“ Viol? Apa itu?”

“ Kamu mau liat?” pertanyaan itu membuat Riya menganggukkan kepalanya cepat.

“Ayo!” Utari hendak menarik tangannya masuk kedalam rumah namun ditahan oleh Riya.

“Aku malu, bagaimana kalau kita intip saja?”

“Hmmm,, benar juga. Lewat jendela aja”

Keduanya berjalan pelan menuju jendela dan kemudian memanjat pot bunga besar yang ada di bawah jendela itu. Namun, pot bunga itu bahkan tidak terlalu membantu, karena hanya sebatas dahi mereka. Oleh sebab itu mereka harus berjinjit untuk bisa melihat kakak Utari yang sedang bermain musik.

“Aduh, kakiku sakit!” Utari mengeluh pelan, karena kakaknya membelakangi mereka.

“Ssst, diam Utari. Nanti kakakmu dengar!” Riya meletakkan telunjuk di bibir Utari.

Saat selesai berkata seperti itu, tiba-tiba musik berhenti. Kedua anak yang sedang mengintip pun saling pandang keheranan. Ian yang merupakan kakak Utari pun berbalik dan menangkap basah mereka. Karena terkejut, mereka berdua hilang keseimbangan dan berakhir jatuh di tanah.

Bruk! Bruk!

“Aduuuuh!!” seru mereka bersamaan sambil mengusap kaki mereka yang lecet terkena pinggiran pot.

Namun itu hanya sekilas karena mereka langsung berlari terbirit-birit, takut dimarahi kak Ian. Utari mengecek ke belakang siapa tahu mereka dikejar, setelah dirasa aman barulah mereka berhenti di halaman belakang.

“Huh, huh, sudah sudah!” seru Utari.

“Aman kan?” balas Riya sambil menumpu kedua tangannya di lutut.

Utari menganggukkan kepalanya dan mereka berdua terduduk diatas daun-daun kering. Sejenak mereka berpandangan, lalu gelak tawa menggelegar diantara pohon-pohon besar yang ada di situ.

“Hahahaha….seru tahu,” Utari menyeka air mata yang keluar dari matanya.

“Iya, tapi kaki kita lecet dikit.” Balas Riya sambil tertawa.

“Besok intipin lagi yuk Ri!” Utari mulai berdiri dan membantu Riya.

“Ayo!”

Keduanya berjalan kembali ke teras untuk melanjutkan permainan yang sempat tertunda karena rasa penasaran mereka.

Sementara itu didalam kamar selepas kepergian adik perempuan dan temannya, Ian menggeleng-gelengkan kepala sambil tersenyum kecil sambil meneruskan permainan violnya.