"Uncle," panggil gadis itu pelan.
Menatap sang paman yang masih sibuk dengan laptopnya. Ia mengambil satu buah pena dan mengambil satu lembar kertas pula.
"Nara mau ke kamar aja deh kalau uncle nggak lagi peduli sama Nara," ucap Nara.
Sudah kesal diacuhkan oleh sang paman. Nara namanya, Nara Audy.
"Uncle, ihhh tau ah,"
Gadis itu langsung masuk ke dalam kamar dengan hentakan kaki yang matang. Benar-benar gadis yang bar-bar.
Bastian Nheophry, atau yang sering disapa Tian itu pun menghela nafas kasar. Ia menatap layar laptopnya. Sedikit lagi padahal, tapi tak apa lah. Daripada sang keponakan menangis, lebih baik ia mengalah.
Lelaki yang kini berumur 39 tahun itu mengambil satu coklat yang ada di samping tempat duduknya. Untuk jaga-jaga kalau Nara ngambek dan ternyata benar saja. Mau bagaimana lagi?
Sang keponakan sangat penting untuknya.
"Nara," panggil Tian.
'Tok ....... Tok ......... Tok ........'
"Nara," panggil Tian.
Merasa tak mendapatkan jawaban dari sang keponakan, akhirnya Tian pun mencoba untuk mengayunkan sedikit gagang pintu.
Dan voila, ternyata tidak dikunci.
Ok lah ya.
Itu artinya sang keponakan tak ngambek parah dengannya. Bisa dimarahi oleh sang kuasa jika sampai Tian membuat Nara ngambek. Gadis itu selalu saja ngambek tak tahu tempat. Tapi tetap saja Tian tak bisa marah ataupun membalas ngambek dengannya.
Mau bagaimana lagi?
Tian sudah sangat menyayangi keponakannya itu.
Lelaki yang berbeda 20 tahun dengan Nara itu berjalan mendekati Nara dan mengelus punggung gadis yang sedang menelusupkan tubuhnya ke dalam kasur.
Tengkurap dengan selimut yang menutupi sampai ke ujung rambutnya sekalian.
Tian membuka selimut itu dan mengusap puncak kepala Nara.
"Maaf ya," ucap Tian.
Membuat Nara langsung duduk menghadap Tian. Ia menunjukkan wajahnya yang sudah dipenuhi oleh air mata.
"Maaf ya," ucap Tian sekali lagi.
Ia mengulurkan cokelat kepada keponakan angkatnya tersebut.
Nara menerima uluran cokelat dari Tian. Mau bagaimana lagi? Nara sangat menyukai makanan itu.
Rasanya nikmat dan cukup menguras tenaga jika mau memiliki cokelat itu. Apalagi itu diberikan oleh sang paman. Mau menolak pun ia malu karena pada akhirnya ia akan meminta cokelat itu kepada sang paman.
"Maaf ya, Ra," Tian mengelus kepala Nara pelan.
Memberikan ketenangan bagi gadis itu.
"Nara maafin uncle. Uncle kenapa sih sok sibuk banget," dengus gadis itu kesal.
Tian tersenyum saat mendengar balasan jawaban dari Nara.
"Rekan kerja Uncle membawa lima puluh persen keuntingan yang sudah kita sepakati bersama. Maka dari itu, Uncle tadi kurang fokus saat mendengarmu memanggil Uncle. Maaf ya," ucap Tian mengelus kepala gadis itu lagi.
Nara seketika menatap Tian dengan mata yang hampir berair.
"Kok gitu? Terus kenapa Uncle nggak bilang sama Nara kalau Uncle sibuk," rengek Nara.
Gadis itu menarik-narik lengan Tian. Seolah Tian semakin bersalah lagi.
Tian mengecup kening gadis itu dan tersenyum.
"Kamu kenapa? Sudah, tak apa. Uncle bahagia kalau kamu sudah tidak marah lagi sama Uncle," ucap Tian mengelus rambut gadis itu dengan pelan.
Lelaki itu tersenyum bak tanpa beban.
"Berapa uang yang dibawa kabur rekan kerja Uncle itu?" tanya Nara dengan mendongak.
Sang paman memang sangat tinggi. Maklum .........
Tiang listrik!!!
"Hanya 3 juta dollar,"
Nara membelabakkan matanya. Ia terkejut saat mendengar nominal besar itu disebut sang Uncle.
"Kenapa Uncle nggak bilang? Segitu tuh banyak," rengek Nara.
"Nggak banyak, banyakan rasa bersalah Uncle sama kamu kalau kamu ngambek, okay?"
"Uncleee, segitu tuh banyak," rengek Nara lagi.
'Cup'
Tian mengecup puncak kepala Nara. Ia mengusap pipi gadis itu.
"Nggak banyak, seriusan. Udah jangan nangis lagi,"
Tian menangkup dagu Nara dan membawa gadis itu dalam pelukannya. Sudah menjadi makanan Tian sehari-hari bahwasannya sang keponakan sangat manja kepada dirinya.
"Nara jadi pelaku yang jahat banget ya, Uncle?" tanya gadis itu di sela-sela tangisnya.
Mungkin saja gadis itu sudah kehilangan tenaga untuk memberontak.
"Nara jangan nangis lagi, ayo cokelat nya di makan. Keburu panas itu nanti cokelat nya," ucap Tian.
Membuat Nara menepuk dada Tian pelan.
"Uncle bisa-bisanya nggak panik gitu lho," rengek Nara.
Ia bak anak kecil yang benar-benar tidak bisa ditinggal apa-apa.
Plis lah, ini Nara merasa bersalah banget lho jadinya ............
"Nara jangan nangis lagi, ok?"
Jadi merasa bersalah kan Tian nya sekarang. Gimana nih?
"Terus gimana dong? Uncle kehilangan segitu, biaya perawatan muka Nara sebulan lho segitu itu. Kan jadi sayang kalau hilang," ungkap Nara.
Tian tersenyum saat mendengar alasan Nara menangis karena mendengar dirinya kehilangan uang segitu. Sebenarnya itu bukan masalah sih untuknya.
Asal Nara tak menangis dan ngambek kepadanya. Itu bukanlah masalah besar.
It's okay!
"Uang Uncle masih banyak, Ra," ingat Tian pada sang keponakan.
"Sayang uang nya, Uncle. Ayo, Uncle masih bisa kan ngurusin itu sekarang?" tanya Nara menatap sang paman dengan panik.
"Masih bisa, kenapa? Nara mau nemenin Uncle?" tawar Tian.
Nara langsung mengangguk tanpa aba-aba lagi.
