JoyNovel

Vamos ler O Mundo

APP aberto
Pelangi Hidupku

Pelangi Hidupku

Autor:Rosidawati20

Concluído

Introdução
Viona Menghilang ke Amerika saat ayahnya yang difitnah sebagai koruptor meninggal dialami penjara Lima tahun lalu,btanpa sadar jika ia tengah mrngandung anaknPtastomo Bagi Viona tak ada yang lebih penting selain Prisila anaknya. Gadis kecil 4 tahun Yang dilahirkan dalam kondisi katup bilik jantungnya bocor. Prisila mau dioperasi jiia bertemu papanya. Viona nekat menemui Prastomo Yang sudah menikahi sahabatnya sendiri. Hatinya masih Luka, tapi nyawa Prisila harus diselamatkan. Terima kasih yang sudah mampir. Tolong jangan lupa jempolnya, ya Salam sehat.
Mostrar tudo▼
Capítulo

Anakku Pelangi Hidupku

Prolog

Peta Politik Hartomo ayah Viona Lima tahun lalu sangat membara. Is terpaksa dipenjara dengan tuduhan korupsi.

Fitnah kejam telah mengantarkan keluarga bahagia Viona menjadi berantakan . Ibunya meninggal karena gagal jantung saat mengetahui suaminya masuk penjara

Bukan itu saja Papa Prastomo dang kekasih pun memintanya untuk meninggalkan Prastomo. Sang Profesor Dokter tak sudih bermenantukan anak koruptor.

"Aku akan tetap Ada untukmu, Vio, apa pun yang terjadi," janji Prastomo waktu itu.

Tapi keadaan telah membuat Viona meninggalkan Jakarta. Meninggalkan belahan hatinya.

"Prisi mau dioperasi kalau bertemu Papa, Prisi kangen Papa ..." Rengek bocah empat tahun lebih itu memeluk Viona.

"Ah, Pras tahukah kamu kalau ada anak.buah cinta kita yang selalu menanyakanmu?" Batin Viona pedih lalu mencium rambut ikal putrinya yang diwariskan oleh Prastomo.

Bab. 1 Harus Mengutamakan Anakku

Viona bukannya tidak tahu akibat yang akan ditimbulkan dengan menghadirkan sosok dirinya di hadapan Prastomo.

Mungkin pria itu sudah melupakannya, dirinya yang akan mengalami luka di lubuk hatinya yang paling dalam.

Lima tahun berusaha untuk bertahan dalam kesendirian ,berteman duka nestapa cinta yang terpisah. Tangis batin yang mengalirkan pedih ke seluruh raganya., Mencari jejak cinta lama yang telah menjadi milik wanita lain. Wanita yang tak lain adalah sahabatnya sendiri,. Itu adalah hal yang tak muda baginya.

Tapi Prisila sangat membutuhkan cinta masa lalunya. Gadis kecilnya mengharap pertemuan dengan papanya. Untuk sang putri apa pun akan dilakukannya. Walau nyawa taruhannya.

"Aku pulang hanya untuk Prisi... aku harus dapat mengkhiklaskan Pras dengan Nina" Viona menatap Fani karibnya dan satu-satunya orang yang menjadi tumpuannya ketika lima tahun lalu ia berangkat ke Amerika dengan modal nekad dan tekat.

Fani menepuk pundak Viona. Menatap lekat wanita usia dua puluh delapan tahun itu dengan haru, "Aku percaya padamu, kamu bisa menjaga hati dan perasaanmu, sekarang Prastomo telah menjadi suami orang lain. Aku paham akan dirimu, semoga kamu bisa menahan hati dan jiwamu untuk tidak merintih..." ujarnya dengan tatap haru.

Fani tahu betapa sebenarnya sahabatnya itu masih mencintai Prastomo. Terbukti selama ini tak pernah ada lelaki yang dibiarkan dekat dengannya. Ada Susilo asal Jakarta yang bekerja sebagai konsultan . Pria mapan itu mondar mandir antara Jerman Jakarta dan Amerika. Susilo begitu sabar menunggu hati Viona terbuka. Namun Vio, menolak. Begitu ia sejak dulu memanggil Viona, karibnya semasa sekolah lanjutan umum. Bahkan dengan Prastomo pun ia berkawan. Mereka akrab berempat. Viona, Fani, Nina dan Prastomo satu-satunya cowok diantara mereka.

Ada juga Jonathan, sahabat Ikbal suaminya, juga ditampik oleh Viona. Walau ingin sahabatnya itu melupakan masa lalunya dengan Prastomo, tapi ia tak bisa memaksa karibnya yang begitu bangga akan putrinya itu, supaya segera mengikat kasih dengan lelaki lain.

Viona harus pandai menyembunyikan kesedihannya. Pahit memang menyadari kekasih hati telah menikahi sahabatnya sendiri. Tapi Prastomo tak bisa disalahkan. Prastomo ia tinggalkan tanpa pesan. Nina muncul sebagai obat mujarab atas derita batin cinta nestapa lelaki terkasih itu. Sementara dirinya sendiri berjuang untuk memulihkan perasaan terhina sebagai anak seorang koruptor. Cap hitam atas perjuangan serta dedikasi papanya sebagai pejabat.

Viona Terpuruk sedih kehilangan kedua orang tua yang begitu dikasihinya.Tapi dirinya yakin kalau papanya pejabat yang bersih. Walau semua media menulisnya sebagai koruptor. Ia tahu keseharian papanya. Mengerti jalan pikiran papanya yang lurus. Jauh dari sifat tamak. Apalagi bertujuan untuk berkhianat pada bangsa dan negaranya sendiri. Sungguh papanya tak akan sanggup berbuat curang seperti yang sudah terlanjur ramai digunjingkan orang.

Predikat sebagai anak koruptor telah pula membuat papanya Prastomo memandangnya sinis. Melengkapi tudingan orang orang di sekitarnya, mau pun mereka yang entah siapa, turut mengecamnya.

Bahkan sebuah perusahaan yang semula akan memberinya tempat untuk magang, memutus perjanjian sepihak. Anak koruptor tak pantas diberi ruang bergerak. Begitu kesan yang terpapar. Mereka tak mau perusahaannya kehilangan proyek dari rekanan bisnis, jika mempekerjakan anak koruptor.

Dunia rasanya begitu ingin menghimpitnya. Tak memberinya ruang gerak, karena berita tentang papanya hari hari menghiasi media. Baik cetak mau pun online.

"Sabar, ya, Vio..." Hibur Prastomo Lima tahun lalu. Lelaki muda tampan begitu mencintainya, sangat mendukungnya, "Aku merasa bahwa kata hatimu benar. Om Hartono orang jujur,"

Paling tidak pernyataan Prastomo sang kekasih itu bukan semata menghiburnya, tapi menguatkan hatinya. Rasa bangga serta terima kasih yang tak terhingga pada belahan jiwanya.

Kenyataannya Prastomo sangat bertolak belakang pola pikirnya dengan ayahnya. Papa lelaki muda itu sudah memberi lampu merah atas hubungan mereka.

Sang Profesor Doktor papanya Prastomo sangat benci koruptor, dan percaya jika ayah kekasih putranya terlibat pencurian uang rakyat.

Ungkapan hati Prastomo, serta kepercayaan kekasihnya atas diri papanya membuat Viona begitu terlindungi.

"Terima kasih tak terhingga Pras atas kepercayaanmu pada Papa.." ditatapnya kekasih yang telah tiga tahun mendampinginya saat itu.

"Kamu cintaku, kamu akan tetap kubela," angguk Prastomo.

Viona bangga akan pengertian Prastomo.

"Jika Papa tak juga bisa merubah pendirian dan tetap menolakmu, kita tetap akan bersama,Vio. Aku akan selalu ada untukmu..."

Tapi perhatian Prastomo dan cinta saja tak cukup membuat Viona bertahan di Jakarta. Suhu politik panas yang menerpa papanya, telah membawa petaka jiwa. Bukan saja papanya yang jadi korban. Tapi mamanya harus meregang jiwa pula. Itulah yang membuatnya tak sanggup lagi menetap di Jakarta.

"Mama..." Prisila menyadarkan Viona dari lamunan sedihnya.

"Oh sayang ...my dear..." Viona merangkul lembut putrinya.

"Are you sad, Ma?" Prisila menatap wajah Viona yang terbawa pada kisah lima tahun lalu, kisah yang sangat tragis dan pilu, "Mama sedih?" lanjut gadis kecil yang dibiasakan untuk mengenal bahasa leluhurnya itu, walau lahir dan menetap di Amerika.

"Oh pasti tidak..." geleng Viona, dan berusaha mengusir gundah hatinya. Tersenyum pada Prisila, "Nah Mama nggak sedih, kan?" ujarnya mengerling.

"Yaa..." sorak Prisila bertepuk tangan. "Tapi Papa mau kan bertemu Prisi, Ma?" Sepasang mata gadis empat tahun lebih itu menatap penuh harap

"Oh tentu...it's real..."

"Woo..."Prisila memeluk ibunya senang, "I'm happy...very...very...much..." serunya berulang.

"Maafkan Mama sayang, Papamu belum tahu keberadaanmu..." keluh batinnya menahan jangan sampai terlihat sedih lagi di depan Prisila. Gadis kecilnya harus dibuat sesantai mungkin, jangan terkuras emosinya, hal itu akan memicu kondisinya. Terlalu emosi, tiba tiba saja nafasnya tersengal. Dan akan mempengaruhi kelainan pada jatungnya.

Diam diam Fani yang menyaksikan adegan Ibu dan anak itu dengan terharu. Wanita karib Viona yang belum dikarunia anak jelang enam tahun perkawinannya, begitu sayang pada Prisila.

"Kita harus bilang Mama Fani dan Papa Ikbal kalau Prisi mau ketemu Papa Prisi," menggebu Prisi menarik tangan ibunya untuk menemui sahabat ibunya yang telah menampung mereka selama di Amerika itu