JoyNovel

Vamos ler O Mundo

APP aberto
Gadis Chionophile

Gadis Chionophile

Autor:Water Melon

Concluído

Introdução
Chionophile adalah istilah bagi seorang yang menyukai salju, mereka akan menjadi orang yang paling bersemangat dan memasang wajah berseri ketika musim salju tiba atau ketika mereka berpergian ke tempat yang terdapat saljunya. Sophia Yuki, dia adalah seorang siswa SMA kelas 12 yang sangat menyukai dan mengagumi salju. Dia selalu bahagia ketika melihat salju, entah melihatnya di televisi ataupun di beberapa video yang dia tonton di ponselnya, jantungnya selalu berdebar setiap kali melihat kristal-kristal es berguguran. Tapi, masalah terbesar yang dia hadapi adalah berhubungan erat dengan takdir bahwa dia dilahirkan di tanah tropis, yaitu di negara Indonesia yang hanya memiliki dua musim, yaitu musim kemarau dan musim hujan. Secara otomatis, dia tidak akan pernah mengalami yang namanya musim salju. Alhasil, kekagumannya terhadap salju mesti ditampar oleh kenyataan bahwa dia adalah manusia yang lahir di daerah tanpa salju. Perjalanan Sophia untuk melihat salju secara langsung tidak akan pernah terhenti dan terhalang oleh apapun. Meskipun kampung halamannya adalah daerah tanpa musim salju, tapi Sophia akan tetap berusaha bagaimana pun caranya untuk dapat menginjakkan kaki di negara beriklim subtopis. Beberapa negara tujuannya sudah dia ukir di hatinya baik-baik, yaitu Kanada, Jepang, dan Korea Selatan, dia bisa menyebut tanah tujuannya itu dengan sebutan Snow Land. Dan kini, tinggal bagaimana caranya dia bisa pergi ke sana.
Mostrar tudo▼
Capítulo

BAB 1

Sophia merasa bahwa kehidupannya sangat membosankan, rutinitas sehari-harinya sudah cukup membuat dirinya mual akan jalan hidup yang sangat lurus.

Dia tidak tahu mesti bagaimana lagi mengungkapkan isi pemikirannya terhadap semua orang di sekitarnya yang tidak tahu apa-apa tentang dirinya. Kebanyakan mulut mencibir sosok Sophia dengan julukan cewek wibu, bau plastik, dan banyak lagi.

Mungkin karena Sophia yang sedikit menaruh kekagumannya terhadap negeri Ginseng dan negeri Sakura yang semakin membuat dirinya mendapatkan predikat tersebut dari teman-temannya.

Meskipun begitu Sophia tidak pernah keberatan dan minder atas cibiran yang orang-orang lontarkan kepadanya. Sophia punya mimpi yang jauh lebih besar daripada secuil cibiran pedas mereka.

Suatu hari, Sophia ingin menginjakkan kaki di tanah Jepang atau Korea Selatan. Keinginannya untuk melihat salju secara langsung adalah tujuan utama darinya. Dia ingin merasakan secara langsung kristal-kristal salju menyentuh kulitnya, membayangkannya butiran es gugur di atas rambutnya saja selalu membuat Sophia bersemangat untuk mewujudkan impiannya.

Tidak peduli dimana pun, asalkan daerah subtropis, mau Kanada, Jepang, maupun Korea Selatan tidak masalah. Asalkan dimana ada salju, disitulah tujuan Sophia.

"Sophia kenapa kamu belum mengisi formulir masa depanmu?" Suara berat seorang lelaki terdengar, dia adalah guru yang tengah berdiri di depan kelas, suara bass-nya berhasil membuyarkan Sophia yang tengah larut dalam lamunan.

Sophia mengarahkan pandangannya ke tempat gurunya berdiri, tidak ada tanda-tanda ia akan membuka mulutnya. Sophia justru memindahkan pandangannya ke arah jendela di sebelahnya. Menatap apa saja yang berada di balik jendela. Terlihat di sana sekumpulan anak-anak tengah melakukan pemanasan di lapangan, sepertinya mereka akan segera memulai pelajaran olahraga.

"Sophia!" Seru Pak Andika sedikit meninggikan nada bicaranya.

Kali ini mau tak mau Sophia dituntut untuk memperhatikan Pak Andika secara serius, setelah diacuhkan olehnya, sepertinya lelaki paruh baya itu tampak cukup kesal.

Tangan Sophia masih berada di posisinya, menyangga kepalanya yang sudah serasa berat. Mata layunya memeriksa keadaan di hadapannya, ada beberapa anak yang mengarahkan pandangan kepadanya.

"Iya, Pak. Nanti saya kumpulkan sepulang sekolah," ucapku dengan penuh rasa malas. Napasku terbuang begitu saja, tidak berniat mengucapkan kata-kata tambahan.

"Sudah satu minggu kamu menunda-nunda, saya harap kali ini kamu bisa menyikapinya lagi dengan serius."

Sophia mengangguk, mulutnya tetap kukuh tidak akan berbicarah sepatah katapun lagi.

Sebenarnya Sophia bukan sengaja tidak mengisi formulir masa depannya, dia hanya masih dalam garis kebimbangan akan apa yang mesti dilakukannya setelah ini. Masalah terbesar dalam hidupnya adalah tentang bagaimana caranya dia bisa ke luar negeri untuk melihat salju. Sampai detik ini pun tanda tanya tersebut masih terlukis jelas dalam pikiran Sophia.

Tidak ada impian yang lebih tinggi bagi Sophia selain bisa melihat salju secara langsung dengan kedua bola matanya, itu sudah ia tetapkan sebagai puncak tertinggi dalam hidupnya sudah sangat lama. Kalaupun ada impiannya selain itu, maka akan Sophia memikirkannya setelah ia berhasil menginjakkan kaki di salah satu dari beberapa negara tujuannya untuk menyaksikan musim salju.

Setelah berpikiran ke sana kemari, tangan Sophia bergerak dengan sendirinya mencoret-coret lembaran kertas yang sedari tadi dia letakkan di bawah laci meja. Tinta di ujung pena langsung menjamah dan meninggalkan bekas di beberapa bagian kertas.

Kini. Lengkap sudah kewajibannya untuk mengisi formulir masa depan miliknya.

***

Sophia menyodorkan secarik kertas kepada Pak Andika. Dengan posisi berdiri, Sophia berniat untuk memberikan formulir tersebut supaya setelah itu dia bisa langsung hengkang dari hadapan guru yang selalu membuatnya kesal dengan segala saran dan kritiknya terhadap banyak siswa.

Tetapi niat tersebut segera dibatalkan oleh orang bertubuh gempal dengan kacamata yang menggantung di antara kedua matanya. Entah apa yang setelah ini akan diucapkan oleh pria itu, Sophia tidak henti-hentinya memasang telinga barangkali terlewat maksud yang hendak disampaikan oleh Pak Andika.

Pak Andika membalikkan kertas yang diberika oleh Sophia, kini yang terlihat dari kertas tersebut hanyalah kertas HVS putih polos. "Apa kamu punya masalah di sekolah?" Pak Andika membenarkan posisi kacamatanya yang sebenarnya tidak beringsut. "Atau di rumah?" tambahnya.

Sophia mengerutkan dahinya, matanya jelalatan tidak mengerti apa maksud tersembunyi dari ucapan guru tersebut.

"Tidak, Pak," jawab Sophia ringan.

Pak Andika mengangguk begitu mendengar jawaban dari Sophia. "Baik, kamu boleh pergi."

Tanpa menjawabnya, Sophia yang sudah tidak sabar ingin pulang dengan segera menghilang dari pandangan Pak Andika. Dia dengan cepat berjalan ke arah pintu gerbang sekolah.

Sophia duduk di halte depan sekolah, membuka ponselnya sesaat, lalu menyimpannya kembali ke dalam saku. Sekarang jam sudah menunjukkan pukul empat sore, karena hari ini adalah hari Kamis maka tidak heran mengapa jam pelajaran kali ini cukup lama. Sebenarnya di jadwal pelajaran tertulis bahwa sekolah akan selesai pada pukul empat, hanya saja sudah terbiasa apabila jarum panjang sudah melewati angka tiga, maka entah murid maupuj guru sudah tidak sabar lagi untuk menggugurkan kewajibannya.

Seistimewa itulah pendidikan di Indonesia, maka tidak heran apabila kebanyakan siswa berangkat ke sekolah hanya demi mengais uang saku harian dari orang tua. Jarang sekali ditemui para siswa yang berangkat sekolah dengan segenap niat mencari ilmu.

Sophia merogoh saku roknya lagi, mengambil sisa uang yang dia miliki. Yang mana uang itu akan dia gunakan untuk ongkos pulang ke rumah.

Selembaran uang berwarna hijau dan empat keping uang bernilai 500 rupiah tersembul dan tergeletak di telapak tangannya. Untuk ongkos pulang, Sophia bisa menggunakan uang logam tersebut, dan dia pun bisa menyisihkan selembaran uang lima ribuan guna dia tabung demi mewujudkan mimpinya.

Sejauh ini usaha yang dilakukan Sophia adalah menyisihkan uang jajannya lalu memasukkan ke dalam Phia, yaitu celengan kaleng berbentuk tabung yang pernah dia dapatkan dari seminar sewaktu kelas 10. Sophia harap dari celengan itu dirinya bisa mengumpulkan uang yang cukup untuk membawa dirinya terbang ke tempat-tempat tujuannya yang biasa dia sebut ‘Snow land’

Sophia adalah gadis penyuka salju, atau bisa juga disebut dengan istilah chionophile. Sewaktu kecil Sophia pertama kali melihat salju di acara tv anak-anak, dan saat itu juga Sophia langsung tertarik dengan salju. Dia pun sangat menanti-nantikan setiap waktu sampai salju turun di halaman rumahnya.

Setelah cukup lama menunggu, sayang sekali Sophia kecil masih belum tahu bahwa musim salju tidak mungkin ada di Indonesia. Dia sempat bertanya kepada pamannya, dan jawaban dari si paman sunggu membuatnya kecewa saat ini. Berminggu-minggu Sophia bahkan sampai mengurung di kamar sangkin kecewanya.

Akhirnya Sophia mau keluar dari kamarnya setelah pamannya rela membelikan sebuah lemari pendingin sebagai ganti musim salju bagi Sophia. Memang skalanya tidak sebesar salju-salju di daerah sana, tapi setidaknya itu adalah pengganti kecil-kecilan yang bisa dipersembahkan oleh pamannya.

Setiap waktu ke waktu Sophia menghabiskan waktunya melihat salju-salju dari dalam kulkas yang terbentuk dan semakin mengeras seiring berjalan waktu. Tidak jarang Sophia sengaja membirakan kulkas terbuka supaya ruangan di sekitarnya bisa terasa dingin, atau jika tidak dia akan pergi ke mini market yang berada di seberang rumahnya, sengaja untuk merasakan hawa dingin yang dihasilkan dari pendingin ruangan. Sesederhana itulah kebahagiaan bagi Sophia semasa kecil.

Karena kini dirinya sudah menginjak 17 tahun, Sophia merasa bahwa dirinya sudah cukup dewasa untuk menjadikan mimpinya menjadi kenyataan. Entah bagaimana pun caranya, Sophia harus berjuang lebih keras, karena dia sadar bahwa dia bukanlah berasal dari latar belakang orang kaya, dia bukanlah bagian dari keluarga yang bisa dikatakan unggul secara finansial.

Jika bisa menyalahkan takdir, maka Sophia akan melakukannya. Dia akan memprotes kepada Tuhan yang mengendalikan segalanya, mengapa dirinya mesti bekerja sangat keras demi mewujudkan impiannya? Sophia lihat ada banyak sekali manusia yang hidup dalam keberuntungan, jauh lebih berkecukupan daripada hidupnya.

Tapi cukup sudah, Sophia tidak punya waktu untuk mengeluh, Sophia sudah memutuskan untuk berhenti membuang-buang waktu dan fokus kepada mimpinya untuk menginjakkan kaki di Snowland.