JoyNovel

Vamos ler O Mundo

APP aberto
Zheyka Dan Everes

Zheyka Dan Everes

Autor:Silvi listian

Concluído

Introdução
Zhyka Aga Meiga Meranti”. Zhyka, Zhyka dan Zheyka. Namanya ialah Zhyka. Perempuan yang duduk di bangku pertengahan sekolah menengah atas. Ia berbeda dari yang lain. Ia merasa ada sisi kepribadian lain didalam dirinya sendiri. Sisi itu tak bisa dikontrol olehnya. Dengan perjuangan ia mencoba menerimanya, mencoba merasakannya. Rasa sakit sering kali datang, dan ia hanya menyambutnya dengan air mata. Air mata yang beriringan dengan sebuah harapan-harapan. Pada akhirnya ia berusaha untuk menanam harapan pada dirinya sendiri. Dan semoga dia bisa memanen hasil harapan-harapannya itu. “Kita tak tau apa yang terjadi kedepannya. Berharaplah, berharaplah yang terbaik saja”. “Ford Everest Grah Xelanne”. Kehidupannya cukup buruk, seseorang datang kedalam kehidupannya. Mencoba menyambutnya dengan baik, namun tak berhasil. Kehidupannya terganggu oleh makhluk lain yang bergentayangan. Everes mencoba berusaha menjauh namun juga tak berhasil. Sampai ada suatu waktu ia hampir mati karena gangguan roh tak kasat mata itu. Dan Zheyka berhasil mengubah segala penderitaan pada Everes.
Mostrar tudo▼
Capítulo

Cahaya matahari menyorot tajam ke wajah cantik Zhyka. Pemilik wajah pun terganggu tidurnya.

“Huamm, udah pagi aja”. Ia segera memastikan jam di handphone nya.

“Waitt, this is Sunday?”.

“Hassh..Yess”.

Ia segera mandi, dan keluar kamarnya.

Tak butuh waktu lama, ia sudah berlari-lari kecil kedapur menemui bundanya.

“Bantuin motong bawang Zhey!, bunda goreng ikan. Udah siang ini”. Tanpa kata-kata pembukaan menyapa, ibunya to the poin menyuruh Zhey.

Tanpa basa- basi, Zhey mengambil alih pisau dari mamanya.

60 menit berlalu. Sekarang keluarga Zhey berkumpul di depan TV.

Ada papa, bunda, kak Alex dan Zhey.

Mereka sudah selesai makan cuma sekarang sedang ngumpul dan nyemil makanan ringan bersama.

Papa Zhey yang awalnya memperhatikan handphone, mendengar bunda ngomong ia langsung mengalihkan perhatiannya ke bunda dan menutup handphone nya.

“Pa, daripada hari ini kita dirumah aja kita jalan-jalan yuk, bunda butuh refreshing nih”. Ajak bunda ke papa.

“Hm, papa sebenernya sedikit capek sih. Tapi karena bunda yang ajak, ayo deh bund”.

“Zhey sama Alex ikut nggak?”. Tanya bunda ke putra-putrinya.

“Zhey enggak deh pah, dirumah aja lebih nyaman, sepi”. Jawab Zhey menatap papanya yang berdiri, bersiap-siap ambil kontak mobil.

“Alex nggak dong pah, mending Alex nongkrong sama temen-temen daripada ikut bunda sama papah”. Seringai kak Alex menatap papahnya.

Zhyka ngga dirumah, setelah ia dirumah bersih-bersih kamar.

Ia memutuskan lari-lari pagi di jalan setapak perumahan. Itu aktivitas kebisaan hari Minggu Zhey. Hampir tiap Minggu, ia olahraga lari-lari dijalanan yang sepi ini.

Setelah cukup lama berlari-lari. Ia beristirahat diatas dinding. Dinding yang cukup tebal untuk Zhyka duduki. Dinding yang menjadi pembatas lahan perumahan dan persawahan. Perumahan ini cukup sepi, karena perumahan yang cukup baru dibangun, jadi kemungkinan tak cukup terkenal. Hanya ada beberapa rumah didalamnya, munkin masih 15 an perumahan yang sudah dihuni.

Hampir tiap olahraga lari-lari, Zhayka istirahat diatas dinding ini. Nyaman, sepi, sejuk, dan asri.

“Mangga nya udah mateng yah”.

“Terus ini masa ga ada yang ngambil sih”.

“ Sayang banget deh”.

Disepanjang jalanan perumahan terdapat pohon-pohon yang rindang ditepi kanan dan kiri jalan yang menghubungkan perumahan dan jalan raya.

Tepat didepan Zhey ada pohon mangga yang rindang, yang menutupi Zhey dari panas matahari dan dari penglihatan mata manusia yang kadang-kadang lalu lalang keluar masuk perumahan.

“Sejuk banget disini, Zhay sukaaa”.

Saat-saat Zhey mulai terdiam dengan pikirannya. Terlihat pemuda laki-laki yang sepertinya seumuran dengan Zhay yang juga olahraga lari-lari dijalanan perumahan yang sepi itu.

“Lah, siapa dia?. Anak perumahan baru munkin yah”.

“Jarang-jarang sih ada anak lari-lari disini”.

“...”

“Kecuali aku”. Zhey tertawa senang sendiri. Ngomong sendiri jawab sendiri.

Zhay mengamati pemuda laki-laki sepantaran nya itu dari atas tanpa sepengetahuannya. Udah beberapa kali pemuda itu berlari-lari bolak-balik dijalanan perumahan yang sepi itu. Dan setelah itu ia beristirahat meluruskan kakinya dipinggir jalanan.

Yang bikin Zhay cukup khawatir, si laki-laki itu istirahat dibawah Zhay.

Tubuh Zhay yang juga tertutup oleh daun-daun pohon mangga membawa Zhay tertutupi dari penglihatan si laki-laki itu.

Karena Zhay dilanda kebingungan, dan sedikit cuek dengan hal itu. Ia hanya diam ditempat itu, dengan harapan pemuda itu segera pergi dari tempat yang ia duduki sekarang. .

Setelah cukup lama hening. Tak ada suara apapaun. Selain deruan nafas pemuda itu yang menetralkan pernapasan dan juga angin yang berhembus kekanan dan kekiri.

“Sepi banget disini, kesini tiap Minggu sabi lah”. Gumam laki-laki tersebut, yang terdengar oleh Zhay.

“Dih niruin gue dong”. Sautnya sewot bicara dalem hati.

Setelah 30 menit yang dilalui dengan keheningan.

Lama-lama gue bosen lah diatas sini. setelah berpikir cukup lama, ia memutuskan untuk lompat turun. Tanpa berpikir panjang untuk kelanjutannya. Ia melompat.

“1..2..3”.

“Bughh”.

“Astagfirrlah”. Kaget si laki-laki yang langsung nengok kebelakang.

“Lailahaillallah-lailahaillallah”. Dia berdiri dan sedikit menjauh ketakutan. Saat matanya menuji ketubuh Zhey tepat dibelakangnya.

“Hehe, ma..maaf bangett”. Ucap Zhay sambil menyatukan kedua tangannya kedepan minta maaf.

“Lo...loh manusia kan”. Ucapnya sambil memegangi dadanya yang masih kaget.

“Iyaa, gue manusia. Tuh gue bisa nginjek tanah”. Zhay sambil menghentakkan kakinya 2 kali ke tanah.

“Tadi gue dari atas situ. Naik situ”. Zhyka menunjuk jarinya keatas. Dan nunjukin giginya, tak enak habis buat orang kaget.

“Bentar, biar gue ga pingsan, gue netralin jantung gue dulu”. Pemuda itu duduk lagi di tempat semula dengan tenang.

Zhay pun ikut duduk agak jauhan dari laki-laki itu.

“Saya minta maaf ya, minta maaf karena udah ngagetin”.

“Untung gue ga ada sakit jantung, kalo ada nih, mungkin udah dead gue”. Ucapnya sambil ngelus dada.

Zhay hanya bisa membalas dengan senyum-senyum sendiri.

“Anak baru disini ya?”. Basa-basi Zhay.

“Iya, baru kemaren pindahan”.

Zhay angguk-angguk kepala.

“Saya minta maaf ya, sekali lagi minta maaf”.

“Iya-iya gue maafin”.

Karena sedikit canggung Zhay memutuskan untuk pulang.

Setelah mandi bersih-bersih badan. Ia melanjutkan dengan belajar sepanjang hari.

Zhay memiliki kepribadian yang tak bisa mengontrol dirinya sendiri, bahkan untuk belajar sisi dari Zheyka datang, dan ia tak bisa mengontrolnya hasilnya ia akan terobsesi untuk belajar hingga lupa waktu. Ia tak bisa berhenti jika sudah mulai belajar, pernah juga Zhey tidak tidur malam karena kepribadian dari sisi yang lainnya muncul itu dengan seketika.

Dikamar dengan keheningan malam yang sepi. Membuatnya lebih betah belajar tanpa menghiraukan waktu. Maka dari itu ia terkenal oleh orang lain sebagai anak yang cerdas, padahal ia memilik sisi lain yang tak banyak orang tahu.

-

Sekarang Zhay bersama dengan kakaknya dimobil. Ia berangkat sekolah diantar kak Alex, kakak satu-satunya yang Zheyka miliki. Ia berangkat bekerja yang juga mengantar adiknya menuntut ilmu.

“Zhay sekolah ya kak, kakak hati-hati dijalan”. Pamit Zhay pada kakaknya saat mobil kak Alex berhenti didepan sekolahnya.

“Zhay, bentar”. Panggil kakaknya.

Kak Alex mengeluarkan uang berwarna merah 3 lembar dan diberikan ke Zhay.

“Ini dari kakak, terima aja kamu jangan nolak. Biar kakak seneng”.

Karena kakaknya udah tau jika Zhay dikasih uang pasti nolak. Ia langsung mengambil tangan Zhay dan mengalihkan uang itu ke telapak tangan Zhay.

“Mm”

“Iya deh kak. Aku terimah. Makasih ya kakak nya Zhay yang tampan dan baik hati”.

“Semoga tuhan yang maha adil membalas kebaikan kak Lex. Hihi”. Ucap Zhey kepada kakaknya dengan menunjukan rasa terimakasihnya.

“Yaudah, sekolah sana belajar yang pinter. Jangan pacaran Disekolah”.

“...”

“Lah kan Zhay ga pernah pacaran, kok.... Nih yah kak, Zhey kasih tau. Zhey itu anak yang pendiem disekolah, jadi tenang aja, Zhey ga akan macem-macem disekolah”.

Dan kakaknya mengangguk-anggukkan kepalanya dengan bibir yang sediki dimajukan.

“Tapi kakak ga bisa percaya sih”.

“Dan Zhey ga peduli kak”.

“Udah deh Zhey turun, lama-lama bisa bad mood gara-gara kak Alex”.