JoyNovel

Vamos ler O Mundo

APP aberto
Saat Tunanganku Berselingkuh

Saat Tunanganku Berselingkuh

Autor:Jeno Jennie

Concluído

Introdução
Tiba-tiba aku masuk ke dunia novel dan menjadi Lizzie, gadis cantik yang memiliki seorang tunangan bernama Aiden, yang berselingkuh di belakangnya. Berbeda dengan Lizzie asli yang mencoba dengan putus asa untuk membuat Aiden mencintai dirinya sampai melakukan hal gila sehingga dianggap sebagai wanita jahat, aku melakukan kebalikannya. "Aku akan bilang kakek untuk memutuskan pertunangan kita. Ayo hidup seperti orang asing mulai dari sekarang," ucapku pada Aiden. Kupikir dengan cara ini, semua orang akan bahagia. Aku juga tidak perlu menjalani takdir menyedihkan sebagai Lizzie sang wanita jahat. Namun, alih-alih setuju dan saling menjauh, Aiden justru semakin menempel padaku dan bersikap posesif layaknya seorang calon suami yang baik. Bukan itu saja, bahkan Xavier, teman baik Aiden, kini mengejar-ngejar cintaku! Halo, kenapa ceritanya jadi berubah seperti ini?
Mostrar tudo▼
Capítulo

Kali ini aku harus berhasil.

Tanganku berkeringat saat mengeluarkan ponsel dari saku hoodie, memandang ke lantai atas, tempat di mana tunanganku tercinta, Aiden Kim, sedang bertemu diam-diam dengan kekasihnya.

"Huft, baiklah. Ayo kita lakukan ini dengan baik lalu cepat-cepat pulang," gumamku menguatkan tekad.

Perlahan kaki pun melangkah menaiki tangga dengan menggenggam erat ponsel di tangan.

Ini mungkin cara yang sedikit tidak terhormat, tapi aku butuh bukti kuat untuk memutuskan pertunangan dengan Aiden sesegera mungkin.

Dan caranya adalah dengan merekam apa yang sedang Aiden lakukan bersama kekasih gelapnya itu di kamar.

Rekaman itu rencananya akan kuberikan pada kakek agar dia menyetujui permintaanku untuk putus dengan pria itu.

Hal ini terpaksa kulakukan karena beberapa kali merengek meminta memutuskan pertunangan, kakek selalu menolak, jadi aku benar-benar harus sukses dalam misi ini.

Terlalu sibuk dengan pikiran sendiri, sampai aku tidak sadar bahwa kini sudah berdiri di depan kamar yang ada di dorm Darkside, boygrup Aiden.

Pintunya terbuka sedikit sehingga aku bisa melihat dengan jelas apa yang ada di dalam.

Posisi kamera di ponselku sudah dalam mode merekam, perlahan, aku pun membuka pintu agak lebar, menatap ke dalam.

Sesuai yang tertulis dalam novelnya, saat ini Aiden, sang idol dunia, sedang sibuk berciuman mesra dengan kekasihnya, Sophie.

Mereka duduk bersebelahan di bibir ranjang, menempel satu sama lain.

Tangan besar Aiden memegang kepala belakang Sophie dan keduanya terlihat begitu menikmati sentuhan panas di bibir masing-masing.

Aku sedikit gemetar saat merekam tindakan tak senonoh yang kini dilakukan tunanganku tersebut, sementara hatiku, tak merasakan apa-apa.

Yah, itu karena aku bukanlah pemilik asli tubuh ini.

Beberapa hari yang lalu secara ajaib aku masuk ke dalam dunia novel menjadi Lizzie Kim, tunangan Aiden, seorang anggota boy grup terkenal yang begitu dipuja pada wanita di luar sana.

Sayangnya, Lizzie dalam novel adalah tokoh antagonis yang mengganggu kisah cinta Aiden dengan Sophie, kekasihnya.

Dia juga tunangan yang sangat posesif bahkan mendekati stalker.

Tentu saja aku tak ingin bernasib sama seperti Lizzie yang menderita karena mengejar cinta tak terbalas dan hidup sebagai stalker seseorang, sehingga aku pun memutuskan mencuri start, yaitu memutuskan pertunangan.

Tatapan puas kulayangkan pada layar ponsel yang dengan jernih merekam kelakuan Aiden, tersenyum lebar.

'Aku akan menyerahkan bukti ini ke kakek dan bebas dari pertunangan. Selamat tinggal, Aiden. Aku tidak akan mengganggu hidupmu lagi.'

Seringai kecil muncul di bibir, menatap ke pria tampan, yang tanpa terduga, membuka matanya dan kini beradu pandang denganku.

"A-apa ... apakah dia mengetahui keberadaanku?"

Terkejut dengan hal tak terduga tersebut, secara refleks badanku pun mundur ke belakang, tapi anehnya, punggungku saat ini justru menatap sesuatu yang keras, sehingga dengan penasaran kepalaku pun menoleh ke belakang.

"Apa yang kau lakukan di depan kamar Aiden? Kau sedang mengintip?"

Mata tajam Xavier, teman satu grup dengan Aiden, menatap dingin ke arahku.

"T-tidak ada! Aku hanya kebetulan lewat!"

Buru-buru kusembunyikan ponsel di saku hoodie dan berniat untuk kabur sesegera mungkin saat menjawab pertanyaan penuh nada curiga dari Xavier.

Namun, tangan Xavier rupanya telah lebih sigap menahan pergelangan tanganku dengan erat.

Mencegah diriku kabur.

"Jawab dulu pertanyaanku. Kau tadi sedang mengintip Aiden atau apa?"

Panik karena takut Aiden akan mendengar keributan yang terjadi di depan kamarnya, sekuat tenaga aku pun menarik tangan Xavier yang menggenggam pergelangan tanganku dan membawanya masuk ke kamar terdekat, lalu buru-buru menutup pintunya.

"Hey, Xavier. Kau salah paham, oke? Aku hanya datang karena dipanggil Aiden dan belum masuk ke sana, itu saja!" jelasku semeyakinkan mungkin.

Aku tidak bohong, Aiden beberapa saat lalu mengirim pesan agar aku datang ke kamarnya, mungkin berniat untuk memanas-manasi Lizzie.

Dipikir-pikir, Aiden tunangan yang berengsek juga ternyata.

Xavier yang berdiri di belakang pintu dengan tangan bersilang di dada, menggelengkan kepalanya dengan tatapan curiga.

Di antara semua anggota boygrup Darkside, kenapa ... kenapa dia yang harus memergoki tindakan ini?

Aku mendesah dalam hati.

"Tadi aku melihat kau berdiri cukup lama di depan kamarnya dengan ponsel di tanganmu. Sekarang berikan padaku ponselmu, aku ingin lihat apakah kau tadi sedang merekam atau tidak, aku tak ingin kau menimbulkan masalah untuk grup kami lagi!" tegasnya dengan tangan terulur ke arahku.

Tatapan pria tampan dengan tinggi 185 cm yang kini mewarnai rambutnya dengan warna merah gelap tersebut lelah, curiga dan kesal.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa aku, Lizzie, adalah sumber dari semua masalah di grup mereka.

Menguntit, mencuri foto, menyebarkan berita bohong atau mengambil barang-barang Aiden tanpa izin untuk dipamerkan kepada para penggemar, adalah hal yang lumrah dilakukan seorang Lizzie.

Itulah kenapa Xavier saat ini begitu curiga padaku, menebak masalah apalagi yang akan diciptakan seorang Lizzie untuk menghancurkan karir Aiden.

Aku balas menatap kesal padanya agar pria itu berhenti curiga padaku.

"Kenapa kau tak bisa percaya kata-kataku, sih?! Aku benar-benar tak melakukan apa pun, tahu."

Kugelengkan kepala dengan sangat serius, mengepalkan tangan yang berada di saku hoodie, dan diam-diam menggenggam erat ponsel di sana, satu-satunya bukti yang akan membebaskan diriku dari pertunangan sialan ini.

"Makanya, berikan ponselmu padaku."

Xavier berjalan mendekat dan mengulurkan tangannya, sementara aku melangkah mundur untuk menghindari pria jangkung tersebut.

Rasa grogi memenuhi diriku.

"Kau tidak berhak menyentuh barang pribadi orang lain," sergahku dengan tatapan tajam.

Berusaha mengintimidasinya agar berhenti berjalan mendekat.

Namun, tentu saja itu hal yang sia-sia, dia dua puluh centimeter lebih tinggi dariku dan auranya benar-benar mendominasi.

"Aku melakukan ini demi kebaikan kami semua, aku sudah lelah dengan masalah yang terus kau datangkan karena tergila-gila pada Aiden."

Xavier menyebut nama rekan satu grupnya, yang merupakan anggota boy grup idola bernama Darkside, Aiden, tunanganku dengan ekspresi lelah.

"Aku sudah tidak tertarik pada pria berengsek macam dia," desisku, menahan geram.

Namun, tentu saja Xavier tak percaya.

Yah, aku paham.

Dia sudah sangat hapal di luar kepala bagaimana gilanya Lizzie dengan Aiden, seperti seorang fans fanatik dan stalker yang terus mengintai dan mengganggu hidup Aiden.

Kuhela napas dengan kasar, merasa lelah meyakinkan kepada semua orang bahwa perasaanku pada center grup Darkside tersebut, sudah berubah.

Yah, tentu saja, aku yang sekarang tak punya perasaan apa pun pada Aiden, karena aku orang yang berbeda, bukan Lizzie yang asli.

"Cepat berikan ponselmu, aku hanya akan mengeceknya sebentar, lalu mengembalikannya langsung padamu."

Xavier yang kini sudah ada di depanku, mengulurkan tangannya kembali.

Tentu saja aku menggeleng kuat, bahkan sampai mati pun, aku tidak akan pernah mau menyerahkan ponsel tersebut pada Xavier, atau kesempatan untuk memutuskan pertunangan dengan Aiden akan hilang selama-lamanya.