JoyNovel

Vamos ler O Mundo

APP aberto
Secercah Harapan

Secercah Harapan

Autor:Anna wannasta

Concluído

Introdução
Salsa, gadis manis yang selalu mengalami kepahitan dalam hidupnya merasa putus asa. Disaat dia ingin menyerah pada kehidupan sosok Adrian datang dan menjadi pelangi yang memberikan warna dihidupnya. Akankah Adrian mampu mengambil hati salsa. Karena salsa, bertekad untuk tidak jatuh cinta seumur hidupnya.
Mostrar tudo▼
Capítulo

Dalam keheningan malam aku berjalan tak tentu arah tujuan, bingung harus bagaimana menjalani hidup, aku merasa hidup tak adil, begitu banyak kepahitan yang aku terima. Di depan jalan aku melihat sebuah jembatan yang mana dibawahnya terdapat sungai yang cukup dalam, terpikirkan olehku untuk mengakhiri hidup ini. Melepas semua kepahitan yang aku alami selama ini. Lelah. Aku lelah dengan semuanya. Kaki ini sudah ada ditepian jembatan menunggu diri untuk meloncat. 1.. 2.. 3.. aku pejamkan mata.

"Hei kau mau apa didisitu"?

"Hei berhenti".

Aku merasakan seseorang memelukku dari belakang dengan erat.

"Lepaskan aku" aku berontak cukup kuat namum tenagaku tidak sebanding dengan tenaga laki laki yang sedang memelukku dan berusaha menggagalkan upaya bunuh diriku.

"Apa kau sudah gila? Mengapa kau ingin mengakhiri hidupmu?"

Apa tidak ada yang bisa kau lakukan selain mengakhiri hidupmu ?

"Biarkan...Biarkan aku pergi, aku sudah lelah dengan hidup ini, aku sudah tidak berguna lagi, untuk apa aku hidup".

"Baiklah, aku akan memberimu dua pilihan, kau ikut denganku dan aku akan menolongmu keluar dari rasa putus asamu, atau kau tetap ingin mengakhiri hidupmu ini dan aku tidak akan menghalangi".

"Siapa kau? Kenapa kau mencampuri urusanku?" Kataku heran. Sebenarnya siapa sih laki laki ini, mengganggu acara upaya bunuh diriku saja.

Kutengokan kepala ke belakang, aku penasaran juga siapa sih laki laki ini. Setelah kulihat wajah nya , hmm laki laki ini lumayan tampan juga, laki laki yang punya mata abu abu, hidung mancung, kulit putih , dengan potongan rambut yang klimis dan hitam legam. Sesaat aku terpana, sampai lupa dengan kesedihan ini.

"Aku memang tidak kenal dengan kamu, tapi aku peduli denganmu, ayo ikut bersamaku ceritakan semua masalahmu dan kita cari sama² solusinya". Dia berkata sambil memasukna kedua tangannya kedalam saku.

Laki laki ini sungguh sempurna membuat diri ini seakan terlena dengan dirinya. "Baiklah, aku ikut denganmu, tapi bisakah aku meminta tolong sesuatu sebelumnya?"

"Boleh , memangnya kau mau apa?" Tanyanya.

"Aku ingin makan, perutku lapar". Kataku sambil memegangi perut.

"Baiklah gadis aneh, ayo masuk ke mobilku dan kita cari tempat makan".

Aku mengikutinya masuk kedalam mobil, ku buka pintu belakang.

"Hei, kenapa kau naik dibelakang? Kau pikir aku ini supirmu apa ?" Dia menatapku dengan marah. Seram juga dia kalau sedang marah, aku jadi takut dengannya.

Segera aku turun dan pindah kedepan duduk disampingnya. "Baiklah tuan pemarah, aku akan duduk didepan". Di sepanjang jalan aku hanya diam, lebih banyak melihat kesamping jendela, melihat bangunan bangunan tinggi yang menjulang di tengah kota jakarta yang megah ini.

"Siapa Namamu" laki laki itu menoleh menatapku.

"Salsa". Aku menyahut tanpa menoleh.

"Aku Adrian". Dia menyebutkan namanya sambil tersenyum. Menurutku senyumnya manis juga.

"Kalau boleh tau, kenapa kau ingin bunuh diri? Apa bebanmu begitu berat sampai kau putus asa seperti itu?". Dia menoleh memperhatikanku. Mendengan pertanyaannya membuat pikiranku terisi lagi oleh hal hal pahit yang selama ini menghantui hidupku. Air matapun tak terasa menetes, inginku tahan tapi sangat sulit rasanya. Kenapa didepan pria asing aku mudah sekali menangis, memang sudah sangat berat rasanya memikul semua kepahitan ini sendirian

"Maaf, karna pertanyaanku kau jadi menangis, tapi saranku menangis lah , keluarkan semua beban yang ada di dalam hatimu sampai hatimu terasa lapang, toh tidak ada salahnya menangis". Aku menoleh, pria asing ini terlihat cuek, tapi sangat perhatian.

Mobil pun sampai didepan sebuah rumah makan sederhana, karena memang aku menolak diajak makan direstaurant. Aku ini hanya seorang gadis miskin, rasanya lidahku tidak akan cocok makan makanan ditempat mahal itu.

Adrian turun lebih dulu, lalu pria itu membukakan pintu untukku, sangat manis menurutku.

"Terima kasih Tuan".

"Jangan panggil aku Tuan, aku ini bukan majikanmu. Panggil aku Adrian". Laki laki itu menatapku. Sejenak tatapan kami beradu, ada getar hangat didalam hatiku. Aku menikmati perlakuan pria ini, pada pertemuan pertama kami sikapnya cukup manis menurutku.

"Kau mau pesan apa"? Dia menyodorkan buku menu.

"Terserah kau saja. Aku terima apapun yang kau pesankan untukku. Lagipula aku tidak pilih-pilih soal makanan."

"Baiklah". Dia mengangkat tangan memanggil pelayan.

Seorang wanita yang ku taksir berumur sekitar dua dua tahun menghampiri kami.

"Silakan, mau pesan apa Tuan?" Pelayan itu tidak berhenti menatap Adrian, dari tatapannya aku tau kalau dia tertarik pada pria ini.

"Saya pesan nasi goreng spesial jangan pakai sayuran, dengan telur double satu didadar dan satu dicampur, pedas dua porsi. Dan minumnya saya pesan dua lemon tea, itu saja."

Adrian menutup buku menu, dia berbicara tanpa melihat ke pelayan wanita ini.

"Baiklah tuan. Ada lagi?"

"Tidak, terima kasih."

"Baik, mohon ditunggu Tuan".

Pelayan itu tersenyum padaku, aku menganggukan kepala.

"Baiklah, aku rasa kita bisa saling berbicara sambil menunggu makanannya datang, atau kau mau kita berdiam diri saja?" Dia menatapku tajam

"Katakan apa masalahmu, aku akan bantu, asal kau berhenti mencoba bunuh diri".

"Kenapa kau begitu peduli padaku?" Aku menatapnya.

"Padahal kita ini dua orang yang tidak saling kenal?" Kali ini aku sedikit tersenyum untuk mencairkan suasana.

"Aku pernah melakukan kesalahan, yang membuat seseorang bunuh diri. Sampai sekarang aku masih merasa bersalah, ketika aku melihatmu ingin melakukan bunuh diri, entah kenapa aku begitu tidak rela. Kenapa seseorang harus mengakhiri hidupnya hanya karna suatu masalah?"

Sejenak kami saling diam, aku melihat matanya sedikit mengembun. Apa orang yang dia maksud adalah orang yang dia cintai? Pasti sangat menyakitkan jika orang yang kita cintai pergi dengan cara yang salah.

Lima menit kemudian, pelayan tadi datang dengan membawa pesanan kami.

"Silakan dinikmati Tuan". Pelayan wanita itu tersenyum menggoda, namun Adrian tidak menghiraukannya.

"Ya, terima kasih"

"Silakan Salsa, Makanlah yang banyak, supaya kau bisa berpikir jernih untuk kedepannya". Adrian tersenyum.

"Terima Kasih atas perhatiannmu kepadaku Tuan".

"Sudah kubilang, jangan panggil aku tuan kan?".

Pria asing ini sungguh manis, dengan mata sipit seperti orang korea, dengan kulit putih, dan lesung pipih dikedua pipinya membuat dia sungguh manis ketika tersenyum.

"Ehhem. Jangan terus melihatku, nanti kau jatuh cinta". Dia tertawa menggodaku.

"Maaf, kau bukan seleraku." Aku berkata dengan jengkel. Bisa bisanya aku terpesona dengan laki laki ini. Sialnya aku ketahuan saat sedang memperhatikannya.

"Jangan bilang begitu, banyak kasus benci jadi cinta dalam drama percintaan. Dan mohon maaf itu minumanku nona."

Sial. Ada apa denganku, kenapa aku jadi begini sih. Bikin malu saja. Aku langsung berhenti minum. Malu sekali aku hari ini.

"Maaf, aku..."

"Kau sedang terpesona denganku kan?"

"Ge.. er kamu" sahutku.

"Baiklah tidak apa apa, biar aku pesan yang baru. Habiskan makananmu, setelah ini aku akan mengajakmu ke suatu tempat."

" Kemana?"

"Rahasia".

"Kau tidak berniat menculikku kan?"

"Untuk apa?" Dia berkata dengan tegas.

"Aku akan membantumu Nona, bukan menculikmu."