JoyNovel

Vamos ler O Mundo

APP aberto
Januar Life After Death

Januar Life After Death

Autor:Skhe

Concluído

Introdução
“Awas ya kalau kalian mendekat, akan kusabit dengan kayu rotan ini,” ucap Nenek Januar dengan suaranya yang melengking ditengah derasnya hujan. “Kau mau mengambil cucuku? Belum cukup kedua putra dan menantuku? Ambil saja diriku sebagai gantinya,” cerca nenek Ratmi lagi dengan ritme suara yang masih sama. “Ngikut siapa katamu? Hai Setan bodoh, setiap hamba pastinya ngikut Tuhan, dan Allah-lah Tuhanku,” suara keras Nenek Ratmi semakin menyeruak ditelinga. Suara itu membuat Januar tak sanggup memejamkan mata, ia berusaha tegar meski usianya masih delapan tahun untuk mencerna keadaan. Kehidupan dewasa Januar tak kalah serunya. Hidupnya berbalik 100% setelah perjalanan kematian menimpa dirinya. Perjalanan itu, lembah berdarah dan lautan manusia selalu membayangi Januar.
Mostrar tudo▼
Capítulo

MALam yang Mencekam

Ambil positif dan buang yang negatif.

Januar termenung sendirian didalam kamar. Ia meringkuk linglung layaknya anak ayam yang kehilangan induk. Suara keras dari luar menyebabkan tidurnya terganggu. Ditambah derasnya hujan yang seolah-olah menjadi alunan nada mencekam.

Bukkk..Bukk..bukkk...suara kayuenyambit kearah beberapa benda. Terdengar keras dan begitu nyaring ditelinga. Suara itu berasal dari nenek Januar. Mereka adalah keluarga sebatang kara. Orang tua Januar sudah tiada semenjak dirinya belia. Hanya neneknyalah yang menjadi saksi perjalanan panjang kehidupan Januar.

Disisi lain, Januar menginginkan kehidupan neneknya sangat lama, karena Januar paham bahwa neneknya lah keluarganya yang tersisa satu-satunya. Meski kadang tingkah nenek Ratmi, alias nenek Januar memiliki tingkah yang aneh. Saat itu Januar belum tahu betul apa yang terjadi. Seperti malam ini, nenek Janur mulai beraksi.

“Awas ya kalau kalian mendekat, akan kusabit dengan kayu rotan ini,” ucap nenek Januar dengan suaranya yang melengking ditengah derasnya hujan.

“Kau mau mengambil cucuku? Belum cukup kedua putriku? Ambil saja diriku sebagai gantinya,” cerca nenek Ratmi lagi dengan ritme suara yang masih sama.

“Ngikut siapa katamu? Hai Setan bodoh, kau jangan pernah macam-macam ya dengan Nenenk tua

Ini, dasar setan kurang ajar. Pengecut. Beraninya main petak umpet. ” suara keras Nenek Ratmi semakin menyeruak ditelinga.

Suara itu membuat Januar tak sanggup memejamkan mata, ia berusaha tegar meski usianya masih cukup belia untuk mencerna keadaan.

Sebenarnya ia memiliki seorang Kakak. Tapi takdir untuk kakaknya berbeda dengan kebanyakan orang lain. Kakak Januar seringkali bolak-balik kerumah sakit. Bahkan kemungkinan besar Januar jarang sekali melihat kakaknya. Kakak Januar memiliki penyakit langka. Tak hanya menggerogoti pertumbuhan, namun juga keseimbangan pikiran. Ditambah lagi hanya nenk Ratmi yang saat ini menjadi wali. Sangking tak teganya, rumah sakit ikut andil mengurus Kakak Januar.

Malam yang mencekam terasa begitu panjang bagi Januar. Dia si anak lelaki, yang kala itu berusia delapan tahun. Dengan seluruh badannya, Januar mempertahankan keadaan dirinya.

Malam itu, langkahnya yang berhati-hati dengan jalannya yang hanya menggunakan ujung ibu jari kakinya, Januar mencoba mengintip sang Nenek. Suara pintu tua ikut merasakan getaran kegelapan malam.

Krek...korek..krekk..derut pintu ikut menyertai rasa degup jantung Januar. Plak..plak..plak..langkah sendal Januar serasa mengimbangi derit pintu yang terbuka secara perlahan.

Dikit demi sedikit Januar bisa melihat keadaan diluar kamar. Tapi anehnya, tiba-tiba keheningan merasuki tempat itu. Bulu kuduk Januar jadi merinding. Apalagi ditambah butiran hujan yang jatuh dengan deras. Burrr...burr...burrrr. Terrr...terr...terrr. Klotak...klotak..klotak. Suara yang tadi terdengar oleh Januar seakan sirna.

Nenek Ratmi tak ada ditempat, “Kemana Nenek?” ucap Januar dalam hati.

“Kemana perginya nenek?” batin Januar lagi.

Januar memutuskan untuk kembali kekamar. Dia mencoba mengunci pintu, belum sempat pintu tertutup. Suara itu terdengar. Ya, suara Nenek Ratmi. Suara Nenek terdengar berpindah diluar rumah. Kali ini bukan dialog, cercaan ataupun makian. Nenek Ratmi berteriak sangat kencang.

“Aaaaahhhhhggggrrrtt.”

Mendengar teriakan itu, Aku bergegas menuju luar. Takut, Nenek terjadi sesuatu pada nenekku satu-satunya.

Pintu depan Memang terbuka sangat lebar. Januar berjinjit keluar dengan hati-hati dan penuh was-was. Kegelapan malam disertai gemuruh hujan dan petir menambah rasa takut Januar.

“Nek, Nek,” teriak Januar mencari sumber keberadaan suara Nenek.

Tak ada suara menjawab. Januar memberanikan diri keluar rumah. Berharap Neneknya terlihat dipelupuk mata.

Keheningan dan derasnya hujan menambah kengerian malam. Ditambah tak ada tetangga sekitar. Rumah Janur sangat terpencil. Didaerah situ, antar tetangga memilikili jarak yang cukup lumayan. Hal itulah yang terkadang, segala aktivitas tak terlalu banyak diketahui.

“Nek, Nek Ratmi, Nenek dimana?” Januar berkeliling sekitar rumah dengan keberanian yang ia kumpulkan. Tetap saja Januar tak menemukan keberadaan Nenek. Tapi suara teriakan Nenek masih terdengar jelas ditelinga Januar.

“Dasar beraninya hanya suara, kalau berani tunjukkan wajahmu,” suara lengkingan berbarengan dengan hujan dan Sambaran petir yang menggelegar.

Doar....doar...doar...

Kejutan gelegar langit ditengah turunnya air, membuat Januar meringkuk dibawah pepohonan. Pohon ini lumayan tua. Daunnya lebat dan rindang. Batang kayunya sanagat kokoh berdiri. Januar kecil menangis, ketakutan dan rasa cemas bercampur jadi satu.

Lama ia meringkuk. Hujan semakin lama bertambah memuntahkan semua airnya yang lama disimpan oleh langit. Sangking lamanya, Januar memutuskan kembali.

Ia berlari kencang menerobos serangan air yang besar. Kadang derasnya hujan menyakiti dan menghujani kulit. Itulah yang Januar rasakan malam itu.

Tiba dirumah mata Januar terbelalak. Nenek Ratmi tergeletak pingsan didepan pintu. Mulutnya sudah mengeluarkan busa. Januar kecil menghadapi problema di usia delapan tahun. Takut, bingung, tak percaya mengenai apa yang dilihatnya.

Bocah delapan tahun itu berlari keluar rumah setelah menyaksikan Neneknya yang pingsan tanpa diketahui sebab. Januar berlari sekuat tenaga. Lagi-lagi melawan dan menembus arusnya deras hujan. Mencoba mencari bantuan yang jarak tempuhnya jauh.

Dengan penuh cemas Januar menggedor-gedor pintu. Berharap sang tetangga menolong Nenek.

“Doorrr...dorrrr...dor...Buk Pak permisi,” dengan sekuat tenaga Januar mencoba mengetuk pintu.

Anak delapan tahun itu menangis sesenggukan dengan sekuat tenaga.

Tak ada jawaban dari dalam. Hanya air hujan yang memahami Januar dengan terus mengguyurkan airnya yang begitu lebat.

Tanpa pantang menyerah, Januar mencoba dari samping. Mengintip dibelah-belah jendela.

Pada dasarnya rumah di daerah pedesaan memilikili banyak lubang dan cela oksigen. Bahkan beberapa jendela cukup terbuka lebar. Apalagi cela jendela biasanya ditaruh diruang tengah. Januar meraih batu untuk menjadi tumpangan dirinya. Ia berjinjit, memincingkan dan menyipitkan matanya. Terlihat dari dalam bentuk rumah yang tampak sederhana dengan tanaman meja makan dan empat kursi yang melengkapi kesempurnaan tempat itu. Rumah itu hening seperti tak ada satupun kehidupan.

Namun tiba-tiba hawa merinding menjalar diseluruh tubuhnya. Januar merasa ada tangan besar yang memegangi pundaknya. Dia tak berani menoleh bahkan untuk bergerak barang sedikitpun. Ditambah suara yang lirih memanggil namanya.

“Januar.”

Januar semakin ketakutan. Sangkin ketakutan, anak lelaki itu kencing di celana. Beruntung hujan menutupi aibnya. Air seninya meluncur kebawah berbarengan meluncurnya air dari langit.

“Januar,” suara itu kembali lagi terdengar.

Mendengar suara yang kedua Januar berteriak histeris.

“A...a...a...Nenek,” ucap bocah itu sembari menangis kencang.

“Januar ini Pakde,” suara itu kembali lagi terdengar. Namun suara ketiga membuat Jantung Januar lega.

Januar lemas seketika, “ Pakde,” ujarnya dengan tertunduk kaku. Januar tertunduk memposisikan dirinya jongkok.

“Kenapa Januar? Malam-malam ngintip rumah Pakde.”

“Saya kira hantu, Pakde ngagetin aja.”

Januar lupa akan tujuannya soal Nenek Ratmi.

“Ayuk masuk, hujan-hujanan gak baik. Nanti sakit.”

Atas ajakan pakde Januar nurut masuk kerumah. Pakde memberinya air putih.

“Diminum dulu biar kebih tenang,” ucap Pakde dengan menyodorkan air minum.

“Malam-malam mau ngapain kesini?” Pakde bertanya lagi kepada Januar.

Januar seketika mengingat akan Neneknya yang tergeletak di pintu rumahnya.