JoyNovel

Vamos ler O Mundo

APP aberto
Bram Si Penakluk Hati

Bram Si Penakluk Hati

Autor:Dhex Zyun

Concluído

Introdução
"Akulah pria yang selalu menjadi buah bibir dikalangan para wanita. Wajahku tampan, uangku banyak. Aku rasa, tidak ada wanita manapun yang mampu menolakku. Aku terlalu perfect di mata mereka." Bram menghambur-hamburkan uang berpuluh-puluh juta dalam sehari, tentu saja hanya untuk menyenangkan dan memanjakan para gebetannya agar mereka merasa senang serta merasa bahagia saat mereka ada bersama Bram. "Tapi ini urusan hati, Bro. Apa kau mau hidupmu seperti ini terus?" sergah Benny. Bagi Bram, hati itu urusan kedua. Bram memang belum menemukan wanita yang cocok untuk dijadikan seorang yang spesial dalam hatinya. Bruk! Bram mendapakan tonjokan. "Dengar, kau jangaan coba-coba mengoda Putri. Dia itu cewekku!" pekik Evan. Next ceritanya ...
Mostrar tudo▼
Capítulo

Hingar bingar musik dari sebuah aksi DJ di salah satu diskotik di Ibu kota Jakarta membuat pening kepala Bram.

Bram sudah menghabiskan beberapa botol minuman bir sejak tadi. Bram menggeleng-gelengkan kepalanya yang dirasa sudah amat berat.

"Ayo tambah lagi minumnya, Sayang," ucap salah satu wanita yang berada di samping Bram sambil menyodorkan gelas yang sudah di isi penuh.

Bram meraihnya lalu menenggaknya lagi hingga habis, wanita itu terus saja menuangkan minuman pada gelas Bram yang sudah kosong dan meminta Bram untuk meminumnya.

Kali ini Bram hendak menerima gelas itu kembali namun tiba-tiba disahut oleh seseorang dan diletakkannya di meja dengan gerakan kasar, hingga minuman itu tercecer di meja.

"Sudah cukup, Bram. Kamu jangan mabuk lagi, mendingan sekarang kita balik," tegur seseorang dan menyeret lengan Bram.

Bram menyipitkan mata hendak meneliti siapa yang telah mengganggunya itu karena kurangnya lampu penerangan membuat Bram tidak begitu jelas melihatnya, ternyata dia adalah Benny sahabatnya.

"Bentar lagi, Benny. Kenapa sih kamu selalu saja ngomel-ngomel seperti emak-emak yang minta diskon? Kenapa kamu bisa ada di sini, heh? Ohh aku tahu ... kau pasti juga mau minum, ya kan? Baiklah, aku pesankan ya." Bram mengangkat tangannya hendak memanggil pelayan wanita tersebut yang sudah beranjak tetapi buru-buru Benny meraih tangan Bram.

"Udah, aku nggak mau. Kita pulang sekarang, kamu bener-bener udah mabuk. Ayo cepat," ajak Benny. Benny mendorong kuat tubuh Bram agar berjalan keluar dari diskotik tersebut walaupun sebenarnya Bram belum mau diajak pulang. Benny benar-benar sudah tidak tahan lagi dengan aroma di dalam diskotik.

Semula Benny hendak ke rumah Bram, akan tetapi ternyata Bram tidak ada di rumah. Menurut keterangan pembantunya, Bram sudah pergi sejak pukul 7 malam sedangkan Benny ke rumah pukul 9 dan sekarang sudah pukul hampir 12 malam.

Benny baru tau ternyata Bram memiliki hobi baru, suka berlama-lama di luar rumah sendirian tanpa mengajaknya dan ternyata dari informasi yang didapatkan oleh Benny melalui temannya menyatakan bahwa Bram berada di diskotik yang tidak jauh dari rumah temannya itu.

Karena merasa khawatir, Benny pun menyusul. Sebab sudah lama juga Bram pergi.

Benny yang memutuskan untuk menyusul Bram itu sangatlah beralasan sebab kekawatiran Benny memang benar adanya. Bram menganggap dirinya bebas berkeliaran di luar padahal nyatanya hari-harinya terancam karena disebabkan oleh Bram yang selalu dengan sembarangan merebut pacar orang dan tentu saja pemiliknya akan naik pitam.

"Udah ya, Bram. Kamu tuh jangan ulangin terus kesalahan kamu. Kamu nggak kapok ya dihajar sama mereka berkali-kali. Mereka itu juga memiliki hati, kamu jangan merusak hubungan orang. Bisa nggak sih kamu cari cewek itu yang single, yang belum punya pacar? Jangan seperti ini terus," nasehat Benny pada suatu hari.

Bram tersenyum, wajahnya penuh lebam.

"Mereka itu yang mau jadi pacar aku. Kenapa sih kamu juga belum mau mengerti? Ini bukan salah aku dong, iya kan? Coba kamu pikir, aku nggak pernah sama sekali memaksa mereka untuk mau bersamaku tapi mereka sendiri yang dengan senang hati memintanya padaku. Kalau aku sih oke-oke saja. Kalau ada kesempatan, kenapa nggak," bantah Bram.

Benny menggeleng pelan.

"Kamu itu memang susah dibilangin, kalau kamu udah babak belur kayak gini kamu mau apa?" tanya Benny.

"Tentu saja aku tidak akan mundur," jawab Bram pendek, membuat Benny terdiam tidak berkomentar lagi.

Bram akhirnya keluar juga dari diskotik bersama Benny yang memapah Bram. Bram jalannya sempoyongan.

"Ekh ... kamu mau kemana, Bram?" tegur Benny.

"Iya mau nyetir, ini kan mobil aku. Kamu itu yang mau kemana? Apa kamu ke sini jalan kaki? Udah kamu masuk mobil kamu sendiri," jawab Bram.

"Enggak. Aku ke sini memang bawa mobil sendiri tetapi untuk pulang aku akan naik mobilmu. Aku nggak mungkin biarin kamu nyetir sendirian dalam kondisi seperti ini. Pokoknya aku yang nyetir, udah kamu masuk sini," pinta Benny

"Akh, kamu itu manja bener udah kaya cewekku aja yang gak bisa jauh-jauh dari aku. Pulang aja mesti sama aku. Dasar, Benny," gerutu Bram.

Benny tidak mau ambil pusing tentang perkataan yang berlebihan itu, maklum alam kesadaran Bram tidak penuh benar dan itu membuat Bram sedikit ngelantur.

Bram pun masuk mobil. Begitu juga dengan Benny, mereka memasang sabuk pengaman mereka. Setelahnya, kemudian mobil itu melenggang pergi meninggalkan area parkir diskotik tersebut.

"Ohh ya, Benny. Kamu tahu enggak, Putri itu benar-benar tergila-gila sama aku dan dia masa ngajak aku menikah hahaha ...." kata Bram sambil tertawa terkekeh.

Dalam hati, Benny sangat menyayangkan Bram yang terus aja menampung banyak harapan wanita yang sedang dekat dengannya. Benny tahu bahwa banyak diantara mereka yang dekat dengan Bram hanya karena Bram orang yang royal. Selalu bersedia memberikan apa yang mereka inginkan, sebagian memang mereka menaruh perasaan suka beneran pada Bram. Tetapi tetap saja perasaan itu berawal karena Bram yang selalu memanjakan mereka.

Sedangkan Benny bisa berpikir bahwa sebagian dari mereka dekat dengan Bram karena harta, karena Benny sendiri sudah melihat kenyataan yang ada di depan mata. Mereka sudah dekat dengan Bram tetapi mereka masih memiliki hubungan dengan laki-laki lain yaitu pacarnya di belakang Bram. Bram tau itu, tetapi Bram masa bodoh alias tidak perduli.

Terlebih-lebih lagi wanita yang baru saja Bram sebut yaitu Putri, entah benar atau hanya omong kosong perihal Putri yang ngajak menikah Bram pasti motifnya juga sama yaitu karena harta. Karena Evan, pacar Putri masih mengklaim bahwa Putri itu adalah ceweknya.

Itu berarti hubungan mereka belum berakhir tapi kemungkinan Bram hanya mengarang karena nyatanya saat ini Bram sedang tidak sadar akibat pengaruh alkohol yang berlebihan.

"Gimana menurutmu, Benny?" tanya Bram.